Tetes demi tetes air hujan berlomba-lomba untuk mencapai tanah Lapangan Letda Made Pica, Sanur. Belasan siswa berbaju lengan panjang yang bertuliskan "Datang dan pergi untuk sebuah Cita-cita", terbirit-birit mencari tempat berteduh. Namun, dinginnya air hujan disertai hembusan angin yang cukup kencang tak membuat kedua tim di lapangan hilang fokus dalam satu titik yang menggelinding di tanah.
Tepat ketika jarum jam menunjukkan pukul 8 kurang dari 10 menit, seorang wasit berbaju biru meniupkan peluitnya. Bunyi nyaring pun terdengar, menandakan pertandingan pertama GAESMA Senin (23/12) dimulai. Tim kualisi (IPS 3, MIPA 7, dan MIPA 8) menjadi pihak pertama yang berhasil melewati pertahanan tim IPS 2 di menit ke- 18 pertandingan. Gol demi gol kembali tercipta dari pihak yang sama, tanpa mengindahkan terik matahari yang terasa membakar. Pertandingan ditutup dengan skor 5:0 untuk tim kualisi.
Pertandingan berikutnya dilanjutkan pada sore harinya. Demi kenyamanan dari pihak pemain, jam pertandingan kedua dipindah ke sore hari. "Kualitas permainan terlihat sudah menurun di menit- menit awal. Terlihat sekali para pemain kehabisan tenaga karena cuaca," tutur Wayan Wahyu Artayuana (30) wasit pertandingan GAESMA memperkuat alasan untuk mengganti jam tanding. Namun bagai pepatah “keluar kandang singa lalu masuk kandang harimau", langit berkata lain.
Pertandingan antara tim MIPA 2 dan tim MIPA 6 diinterupsi hal tak terduga. Langit di Lapangan Made Pica mulai menangis dan menurunkan butiran-butiran air yang semakin deras menyerang lapangan. Namun bukannya ikut padam, panasnya pertandingan masih terasa hingga menit terakhir. Skor pun ditutup dengan angka 5:0 untuk tim MIPA 6.
Pertandingan terakhir ditutup dengan perlawanan antara Tim MIPA 4 dan Tim IPS 1. Babak pertama pertandingan berlangsung alot, belum ada angka yang tercipta di papan skor hingga babak usai. Gol pertama pun tercipta di babak kedua yang berasal dari tim IPS 1. Gol terakhir dari Tim IPS 1 memastikan kemenangannya dengan skor 2:0.
Faktor cuaca kala pertandingan membuat pemain lumayan kewalahan. “Karena tadi cuaca hujan lapangan jadi licin dan pemain jadi susah karena fisik yang sulit dikontrol,” tutur I Gusti Ngurah Bagus Ari Wibawa (16) selaku pemain dari tim IPS 1 sekaligus salah satu anggota OSIS SMA Negeri 3 Denpasar. Namun para pemain tetap menunjukkan yang terbaik. “Saya puas karena tim dapat memenangkan pertandingan dengan penuh kerja keras dan semangat yang tinggi,” ungkap ungkap I Kadek Dodiek Saputra (16) salah satu pemain di tim MIPA 6. (ndt/krn/dyt)