Jegog, Tonggak Awal Kesenian Jembrana

Tepat pukul 14.00 WITA Kalangan Ayodhya, Taman Budaya, Denpasar, Sabtu (6/7) sontak penuh berisi ratusan penonton dari mancanegara yang antusias melihat pertunjukan seni Jegog persembahan Desa Dangin Tukadaya, Kabupaten Jembrana.
Tidak semua masyarakat di Bali mengenal adanya kesenian Jegog. Menjadi salah satu kesenian yang khas dari Kabupaten Jembrana memiliki keistimewaan tersendiri “Jegog itu terisnpirasi dari bambu yang terhempas oleh tiupan angin, karena menghasilkan alunan musik yang indah dan enak didengar, karena itulah dibuat alat musik.” Tutur Ida Bagu Dedi Sastrawan (40) selaku penanggung jawab Jegog Madu Suara. Menurut Dedi, Jegog biasanya digunakan untuk mengiringi upacara pernikahan dan penyambutan.
Seolah-olah semesta sedang menyaksikan pertunjukan Jegog, alam menyambutnya dengan tiupan angin yang kencang lalu dedaunan bertebaran dan disambut oleh gemuruhnya suara tepuk tangan dari para penonton di awal pertujukan. Pementasan Jegog kali ini menampilkan tabuh Truntungan yang berjudul Sunari Ing Wana. “Yang diisi saat ini ada alat musik yang bernama barangan, lalu dibelakangnya kancil, selanjutnya suwir, disamping itu namanya kentung. Lalu yang paling besar itu namanya Jegog.” Jelas Dedi sambil menunjuk masing-masing alat musik.
Jegog mengiringi berbagai macam tarian yang dipertunjukan. Jegog berhasil mengiringi empat tarian yaitu, Tari Mekepung, Semara Guna, dan Tari Bakti Marga Tarian yang ditampilkan serasi dengan nada-nada yang keluar dari alat musik tersebut. Penonton pun ikut antusias menyaksikan penampilan dari Desa Dangin Tukadaya, Kabupaten Jembrana. Beberapa wisatawan asing di ajak untuk ikut menari di atas panggung diselingi dengan tawa yang terselubung di balik ekspresi yang dikeluarkan. Sontak bingung mengenai gerakan yang akan dikeluarkan, para wisatawan asing memperagakan tarian oleh para penari, Dedi mengungkapkan bahwa hal itu memang sengaja dilakukan karena juga bisa dijadikan sebagai awal perkenalan mengenai seni tari yang ada di Bali.
Pertama kali tampil di Pesta Kesenian Bali (PKB), Dedi merasa sangat senang bisa tampil dalam kegiatan ini sebagai penanggung jawab. Memang usaha tidak pernah menghianati hasil, Dedi melakukan persiapan selama sebulan menjelang PKB. Ia bersyukur tidak ada hambatan yang terlalu mengganggu dalam mempersiapkan penampilan Jegog ini. “Saya berharap anak dan cucu saya agar bisa terus membangkitkan kesenian Jegog ini”. (Nnp)

