Sepeda-sepeda bersandar di pinggiran pagar tanaman dap dap. Beberapa mobil berhimpun di belakangnya. Jejak kaki berurutan berjalan menyambangi bibir pantai. Tepat pukul 17.00 WITA, para peserta jelajah sepeda pesisir Bali sampai di Virgin Beach (14/1).
“Wahh!” seru Siti Nurmala Sari tercengang saat berada di wilayah pantai Virgin, Karangasem. Kurang rasanya jika berpergian ke tempat yang jauh tanpa mencari view yang indah. “Harus banget, apalagi kalau tugasnya dikurangin. Tinggal jalan-jalan aja,” tutur Bandem Mahatma sembari tertawa melawak. Memang, tujuan ke pantai Virgin kali ini adalah untuk sekadar berjalan-jalan.
“Anak-anak, berkumpul sebentar disini ya,” tiba-tiba terdengar teriakan pengumuman dari I Kadek Adiana Putra. Para peserta jelajah sepeda pun berkumpul di salah satu sisi pantai. Ternyata, guru geografi SMAN 3 Denpasar itu memulai penjelasannya tentang analisis geologi pantai Virgin. “Kita lihat pantai ini pasirnya putih kan, padahal sebenarnya bukan dasarnya pantai ini berpasir putih tapi dasar pantai ini adalah hitam. Jadi dasar ini adalah batu vulkanik dari letusan gunung agung,” jelas Adiana sembari menunjukk pasir di bawah kakinya. Kemudian Adiana melanjutkan bahwa formasi batuan berdasarkan strauktur geologi batuan di Pantai Virgin termasuk dalam formasi ulakan. “
Jadi di Bali itu ada beberapa formasi, formasi pantai sari, seraya, perapat agung, ulakan Karangasem itu ada berbasis seraya seperti yang kita lewati tadi. Yang tim media yang sudah kita lewati tadi di seraya, kemudian di tempat yang sempat kita erhenti tadi, di tulemben itu formasi pala sari, sedangkan disini itu formasi ulakan. Formasi ini akan berpengaruh terhadap jenis batuannya. Kalo formasi perapat agung, disana kita lebih banyak melihat batu batu berongga, sedangkan disini, ini formasi ulakan, batuannya itu berwarna gelap karena terbentuk dari larva dengan tekanan yang sangat rendah,” sambung Adiana.
Tidak hanya menjelaskan secara geologi, Adiana pun mengkritik bagaiman apantai Virgin yang sekrang. “Belakangan terakhir ini pasir pantai Virgin mulau kehitam-hitaman,” ujarnya. Menurut pengakuannya, dulu, pantai Virgin memiliki pasir yang sangat putih. “Kalo kita lihat disini putih dan agak kegelapan, ini bisa mengidentifikasikan bahwa karang disini sudah tidak sehat lagi. Kita lihat saja pasir disini, kalo warna pasirnya sudah agak keabu abuan ini membuktikan bahwa karang disini sudah tidak sehat, dalam artian volume karang disini sudah mengecil,” ungkapnya. Selain factor tersebut, ada pula factor tutupan air permukaan seperti pencemaran air dengan minyak. “Karena kalau sudah tertutup minyak, itu penetrasi radiasi matahari itu susah masuk, jadi dipantulkan lagi,” jelas Adiana. Jika hal tersebut terus belanjut, menurut Adiana, akan mengancam ekosistem laut.
Ternyata, para peserta pesepeda berjalan diatas ratapan nelangsa pantai Virgin. “Ditambah lagi banyak resort, villa, restaurant yang menggerayangi bibir pantai,” ucap Surya Merta Yasa, salah satu tim pesepeda jelajah pesisir Bali. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan untuk pantai Virgin kembali seperti kecantikannya dulu. “Kalau ingin pantai ini berwarna putih lagi, ini yang haurs dijaga ekosistem perairannya.” Tutup Adiana. Hari itu para peserta jelajah mungkin kian mengetahui pantai Virgin dalam bahaya, namun tidak dengan penduduknya. Perlukah setiap masyarakat disana bertemu adiana? Ataukah bisa sadar dengan sendirinya? Pantai Virgin, Oh Nasibmu. (gsw)

