Dari sekian banyak dramatari yang lahir dan hidup di Pulau Dewata, Arja menjadi salah satu warisan budaya yang paling memesona. Kesenian dramatari ini bukan hanya hiburan semata, tetapi juga sarana pendidikan, spiritualitas, dan pelestarian nilai-nilai lokal. Meski zaman telah berganti dan tantangan globalisasi semakin kompleks, Arja tidak pernah mati. Arja masih terus bertahan, menyusup pelan ke dalam ruang-ruang seni dan upacara.
Arja berasal dari kata reja atau areja dalam bahasa Kawi yang berarti cantik, manis, atau menarik. Kesenian ini pertama kali muncul pada tahun 1825 di masa pemerintahan Raja Klungkung, I Dewa Agung Gede Kusamba. Arja selalu punya ciri khas menampilkan perpaduan antara seni tari, musik, dan sastra yang disampaikan dalam bentuk pupuh atau tembang-tembang tradisional Bali. Pada awalnya, Arja hanya dikenal di lingkungan kerajaan dan masyarakat tertentu. Seiring berjalannya waktu, bentuk pertunjukan ini menyebar ke berbagai wilayah Bali, mulai dari Gianyar, Singapadu, Bangli, hingga Buleleng. Penyebarannya tidak hanya karena daya tarik seninya, tetapi juga karena kekuatan pesan moral dan nilai budaya yang dibawa oleh setiap lakon yang dipentaskan.
Pihak yang sangat berjasa dalam melestarikan dan menyebarkan Arja ke seluruh Bali adalah Radio Republik Indonesia (RRI). RRI Denpasar rutin menayangkan pementasan Arja melalui siaran radio. Hal ini membuat kesenian yang awalnya hanya dapat dinikmati secara langsung, kini dapat didengar oleh masyarakat luas. Bahkan di pelosok-pelosok Bali.
I Made Suarta, Rektor UPMI Bali, menyebut RRI sebagai “penjaga gawang Arja”. Melalui siaran radio ini, Arja bukan hanya dipertahankan eksistensinya, tetapi juga diberi ruang untuk tumbuh di tengah masyarakat modern. Bahkan di era digital dan pandemi COVID-19, RRI tetap setia menayangkan Arja. Sumber sebenarnya yang terpenting dalam hal keberadaan, sampai dapat kembali menampilkan sebuah sajian dramatari arja klasik walaupun dengan tidak adanya kehadiran penonton secara langsung dikarenakan pandemi covid-19 yang melanda Indonesia. Hal seperti ini juga merupakan proses inovasi dalam sajian pertunjukan yang mengikuti perkembangan jaman yang sekarang dikenal dengan era revolusi industri 4.0 yaitu transformasi analog menjadi digital dengan selalu berhubungan dengan internet. Revolusi industri 4.0 maju berkembang pesat yang mengakibatkan instansi kesenian salah satunya Arja RRI Denpasar harus mengikuti sistem digital dalam menampilkan karya seni pertunjukan lebih dikenal dengan sistem virtual. Kini Arja juga disiarkan melalui YouTube dan media sosial demi memperluas jangkauan penontonnya hingga ke luar Bali.
Sayangnya, di tengah keberhasilan itu, Arja juga menghadapi ancaman besar. Gempuran sinetron, budaya luar, dan minat generasi muda terhadap konten digital menyebabkan minat terhadap kesenian tradisional menurun. Pertunjukan Arja di panggung-panggung tradisional kini semakin jarang digelar. Banyak sanggar seni berjuang keras untuk mempertahankan diri agar tidak kehilangan penonton dan regenerasi.
Harapan belum padam. Pementasan Arja Lingsar dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025 menjadi contoh nyata bagaimana Arja tetap dapat relevan. Pertunjukan ini bukan hanya menampilkan lakon, tetapi juga dilengkapi dengan diskusi terbuka yang melibatkan seniman, wartawan, dan akademisi. Kolaborasi antara Sanggar Arja Lingsar dan penulis seni seperti Kawiya menegaskan bahwa Arja masih punya tempat dan semangat untuk tumbuh, terutama bila diberikan ruang yang inklusif dan kreatif.
Mengapa Arja tidak pernah mati? Setidaknya ada dua faktor utama. Pertama, faktor bahasa dan sastra. Arja bertumpu pada kekuatan pupuh, bahasa bali, dan sastra. Selama bahasa Bali masih digunakan, selama itu pula Arja memiliki tempat untuk hidup. Dosen ISI Bali, I Ketut Kodi menekankan bahwa menjaga bahasa berarti menjaga kehidupan Arja.
Kedua, faktor agama. Arja tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari praktik spiritual dalam agama Hindu. Tembang dalam Arja adalah bagian dari pranayama, yaitu pengaturan napas dan energi dalam praktik keagamaan. Dalam beberapa upacara, Arja bahkan dijadikan media untuk menyampaikan nilai-nilai dharma. Karena itu, selama agama Hindu hidup di Bali, Arja akan tetap bernapas.
Arja adalah cermin budaya Bali yang tidak pernah pudar, meski tantangan zaman terus berubah. Eksistensinya hari ini merupakan hasil dari adaptasi terhadap teknologi digital serta semangat tak kenal lelah para seniman dan pelestari budaya. Meski demikian, Arja masih menghadapi banyak ancaman yang dapat menggerus keberadaannya. Seperti melemahnya penggunaan bahasa Bali di kalangan generasi muda. Mengingat Arja bertumpu pada kekuatan pupuh dan sastra Bali. (dcl)

