We have 97 guests and no members online
Ku anggap diriku jelita
Mempesona bagai mawar yang bermekaran
Namun jika kembali ku renungkan
Ku hanyalah bunga dendelion rapuh di ujung tebing
Ku anggap diriku jelita
Mempesona bagai mawar yang bermekaran
Namun jika kembali ku renungkan
Ku hanyalah bunga dendelion rapuh di ujung tebing
Oleh : Ni Wayan Kusuma Putri
“Kurang ajar!” terdengar bentakan dari dalam kamar. Terlalu keras hingga menggema seisi rumah. Tak ada pun yang berani menjawab, diam adalah solusi saat ini. Pria tua berdiri dari tempat duduknya dengan kaki dihentakkan keras ke lantai. Tangan gemetar, wajah pucat dicampur keringat dingin dapat dirasakan oleh gadis beramput pirang ini. Dia menunduk hingga rambutnya hampir menutupi seluruh wajah polosnya.
Di ruang ramai yang kadang menyiksa
Ku selalu pura-pura menikmati
Berdansa kesana kemari
Mencoba menikmati keramaian yang katanya bisa menghibur diri
Persetan dengan detik yang berjalan
Pada suka dan duka yang ia lewati
Jejak-jejak kenangannya mulai terhapus
Dan jiwa-jiwa yang ia ikat lalu lepaskan
We have 97 guests and no members online