Karya: Rico Majesty Daniel Mitra
Gelapnya malam menyelimuti suasana kala itu. Kazu dengan pikirannya yang berkecamuk, membawanya ke dalam kebingungan yang selama ini selalu ia benci. Kazu mulai melakukan sesuatu tanpa tujuan. Bertindak tak beraturan layaknya seorang pemula yang bermain wayang.
Kenyataan tak dapat ditampik. Kazu hidup di dunia dimana semuanya harus memiliki “pasangan” dan sihir sebagai penjamin kelulusan. Pasangan yang dimaksud bukanlah manusia. Melainkan seekor hewan peliharaan. Sebab hewan peliharaan memiliki jumlah kekuatan sihir yang jauh di atas manusia. Namun nasib buruk menimpanya. Sudah tiga tahun berjalan, dan Kazu sama sekali belum mendapatkan pasangan yang diharuskan itu.
“Mengapa teman-temanku sudah mendapatkan pasangannya? Kenapa aku belum? Haruskah aku menjadi murid nakal seperti mereka untuk mendapatkan pasangan itu?” tanya Kazu, meratapi nasibnya.
Keluhan demi keluhan dimuntahkan oleh Kazu pada malam itu. Berharap suatu keajaiban datang, seperti kisah fiksi yang ia baca lusa lalu. Selang beberapa menit, Kazu secara tidak sadar sudah terlelap dalam tidurnya.
Hari esok berlanjut. Kazu mengikuti kelas sepertinya biasanya. Dan seperti biasa pula, ia menerima peringatan dari wali kelasnya tentang syarat kelulusan yang ia harus penuhi. Beban pikirannya bertambah. Namun satu persatu beban mesti dimusnahkan dari pikirannya.
Kazu segera menuju perpustakaan setelah kelas berakhir. Teringat akan tugasnya untuk membantu petugas perpustakaan saban harinya. Tak heran Kazu dicintai oleh para petugas di perpustakaan. Namun tidak dengan teman sekelasnya. Kazu kerap menjadi bahan bully-an teman-temannya.
Setelah melakukan pekerjaannya, Kazu bergegas pulang. Sesampainya di rumah, suatu kejanggalan terjadi. Sebuah buku usang yang tadi ia bersihkan terselip dalam tasnya. Entah bagaimana kejadiannya, tetapi itu nyata dan membuatnya sangat kebingungan.
Dipenuhi rasa penasaran, Kazu membuka buku tua itu. Namun aneh, sinar yang sangat terang terpancar dari halaman buku tua itu. Hingga Kazu tak dapat melihat apapun. Perlahan ia mulai membuka matanya. Kazu terperanjat, seorang wanita muncul di hadapannya.
“Akhirnya aku bebas, dimana aku berada saat ini?” tanya wanita itu, penuh kebingungan. Namun Kazu tak kalah bingung.
“Kamu siapa? Apakah kamu yang membebaskanku? Aku Ivy, iblis Succubus yang telah kau panggil. Ada keperluan apa memanggilku?”
“Maaf, aku tidak bermaksud memanggilmu. Tadi aku hanya membuka buku yang terselip di tasku” jawab Kazu.
Kazu dan Ivy terlibat dalam obrolan panjang. Hingga suatu keputusan disepakati keduanya. Ivy akan menjadi “pasangan” Kazu. Namun dengan imbalan sebagai energi Ivy, Kazu harus memberikan ciuman setiap harinya. Karena itu adalah cara untuk membagi sihirnya.
Sayang, dunia yang Kazu tempati saat ini sangat menolak keberadaan iblis. Peristiwa yang terjadi di masa lalu menyebabkan dendam yang terjadi turun temurun di setiap penduduk di sana. Sehingga Ivy harus menyembunyikan identitasnya sebagai iblis dan berpakaian layaknya manusia biasa.
Pasangan Kazu berbeda dari yang lain. Namun Kazu berbohong pada temannya, kalau Ivy hanyalah manusia biasa yang sihirnya tak sebesar sihir hewan peliharaan milik yang lainnya. Setidaknya syarat kelulusan sudah Kazu penuhi. Kazu selama ini hanya mengalami kendala di bagian pasangan, karena dalam aspek lain ia sudah sangat unggul.
Wujud pasangan yang berbeda nyatanya membuat Kazu terus kebanjiran hujatan. Namun ia sudah terbiasa akan hal itu. Hingga tak terasa, lima tahun sudah Ivy menemani kemanapun langkah Kazu. Kazu teramat bahagia memiliki Ivy di sampingnya dan selalu menjaganya.
Lima tahun yang telah dilalui nyatanya tak membuat hinaan berhenti menghujam Kazu dan Ivy. Justru keadaan kian memojokkan Ivy, yang dipandang orang menjadi sebuah kekurangan bagi Kazu. Ivy yang tidak tahan dengan semua hinaan itu, mengajak Kazu tempur sebagai tanda kebebasan Kazu jika Kazu memenangkan duel itu.
Namun yang Ivy tidak ketahui selama ini, Kazu berasal dari keluarga kerajaan dengan sihir jauh di atas rata-rata. Hanya saja, rasa iri yang menyelimuti keluarga kerajaan lain akan kehidupan keluarga kecil Kazu membuat Kazu dan keluarga mesti keluar dari kerajaan. Berbagai gosip miring dilontarkan oleh keluarga kerajaan lain tentang keluarga Kazu. Sehigga keluarga Kazu diasingkan di daerah Timur Laut. Oleh karena itu, banyak yang mengira bahwa Kazu hanya murid biasa, bukan seorang bangsawan.
Pertempuran berlangsung panas. Dua-duanya memiliki kekuatan sihir yang tiada tanding. Tanpa sadar, sihir untuk menyembunyikan identitas asli Ivy menghilang akibat sihir Kazu yang tak kalah kuat. Namun mereka lupa. Tempat adu kekuatan mereka saat ini bukanlah tempat yang tepat. Suara gaduh yang ditimbulkan dari pertempuran membuat panik seluruh warga sekolah.
Kegaduhan telah tertangkap hingga ke telinga kepala sekolah. Tanpa pikir panjang, kepala sekolah memanggil Kazu untuk melakukan obrolan empat mata tanpa mengajak Ivy ikut dalam perbincangan ini.
“Tinggalkan negeri ini atau bunuh iblismu itu sekarang juga. Saya tidak mau semua terulang lagi seperti dahulu dan ini juga bisa mencoreng nama sekolah kita.” Tegas kepala sekolah dengan nada ketus.
“Lebih baik saya meninggalkan negeri ini, daripada harus membunuh Ivy,” jawab Kazu tak kalah tegas.
Lima tahun yang dijalani Kazu bersama Ivy nampaknya telah membuat benih-benih sayang tumbuh subur dalam hati Kazu. Kazu tak tega menyakiti Ivy, apalagi sampai membunuhnya. Soal pertempuran tadi, Ivy yang memancing semua itu terjadi.
Akhirnya, Kazu mesti angkat kaki dari negeri yang menolak keberadaan pasangannya. Tanpa setitik rasa penyesalan. Berselang puluhan tahun dari kejadian itu, Kazu dan Ivy menikah dan mendirikan kerajaannya sendiri. Dikarunai tiga orang anak dan memiliki rakyat yang harmonis, dimana tidak ada perbedaan kaum iblis maupun manusia.

