Karya: Ni Luh Nitya Sawitri
Semalam aku bermimpi. Berjalan di tengah lorong gelap tanpa ujung. Sampai cahaya putih itu tiba-tiba muncul. Terasa menyengat di mata. Tubuhku lunglai. Dunia seakan berputar. Deg! Tanpa ku sadar, aku sudah diatas aspal. Sunyi. Bahkan tidak ada angin yang membisik.
Aneh. Aku tidak merasa takut. Apalagi gelisah. Seolah aku sudah berteman dengan rasa ini. Ku paksakan langkah demi langkah, mencari jalan pulang. Entah langkahku yang memendek, atau jalanan yang semakin panjang.
Aneh. Aku tidak gemetar kedinginan. Padahal butiran salju membelai kulitku. Seolah aku sudah mati rasa. Lagi-lagi aku melihat secercah cahaya, yang dalam sekejap menyengat mataku. Entah bagaimana, entah apa yang membawaku kesini. Kembali ke tempat yang aku cari-cari. Akhirnya aku melihat dirimu. Tidak bisa lagi ku bendung rindu. Ingin rasanya membelai rambut hitammu.
Aku melihat punggungmu berlalu. Namun, jarak diantara kita seakan tidak bisa ku tempuh. Mengapa begitu jauh? Aku jadi semakin bingung. Tidak banyak yang kau lakukan. Hanya beranjak untuk mengambil air dan berdiri di depan pintu kamarku. Lauk pun tak kau sentuh. Lalu kau kembali duduk. Aku melihat lagi tatapan kosong itu.
Aneh. Aku malah mendengar bunyi yang begitu bising. Padahal telingaku seperti berhenti berfungsi sejak berjalan tadi. Suaranya tidak mengganggu. Hanya saja, itu berasal dari kepalamu. Aku berjalan mendekat. Berusaha memastikan. Tapi jarak diantara kita malah semakin jauh. Samar-samar aku dengar perkelahian di kepalamu.
“Aku ingin bersamanya,”
“Tidak! Diam disini. Kau pikir dia senang melihatmu seperti ini?”
“Apa arti semua ini tanpanya?”
“Tarik napasmu pelan-pelan. Tenanglah,”
“Dia membawa separuh napasku,”
“Ayolah. Ini mungkin berat, tapi kamu akan melewatinya,”
“Kau buruk dalam menenangkan,”
Kenapa ada dua suara di kepalamu? Aku tidak mengerti. Apa yang membuatmu begini? Biasanya aku memelukmu disaat seperti ini. Mengelus punggungmu ketika dunia terasa begitu berat. Membantumu mengemban beban yang membuatmu merasa lemah.
Aneh, aku melihat kabut gelap datang menyelimuti dirimu. Akhirnya kau beranjak lagi. Kembali berdiri di depan pintu kamarku.
“Jangan! Aku tahu kau mau apa!”
Suara itu kembali terdengar. Tapi kau tidak menggubris. Kamu mulai membuka pintu. Baru terbuka sedikit, tangan itu berhenti. Samar terdengar isakan tangis. Perlahan pintu itu kembali membuka. Aku melihat sedikit isi kamar itu. Sendirinya kakiku bergerak maju.
Aneh. Jarak tidak lagi menjauh. Aku bisa mendekatimu. Deg! Aku tidak bisa menyentuhmu. Kakiku berjalan lagi. Berusaha memasuki kamar itu. Ah! Dadaku terasa begitu sesak. Napasku terengah-engah. Deg! Aku terbaring di lantai kamar. Kepalaku menoleh, berusaha melihatmu.
Aneh! Kenapa ada aku? Kenapa tubuhku terbaring di kasur? Ah! Bunyi mesin itu memekakan telinga. Tunggu. Kenapa garisnya datar? Apa yang terjadi?
Dadaku terasa semakin sesak. Telingaku semakin sakit. Aku tidak bisa menangkap udara untuk dihirup. Kamar ini rasanya hampa udara. Badanku begitu ringan sampai melayang. Pandangan memudar. Kini suara tangismu mendominasi. Aku kembali menoleh. Deg! Apa aku sudah tiada? Ah, sepertinya iya.
Maaf, aku belum sempat mengucap pamit. Maaf, aku belum sempat berterima kasih. Maaf, aku belum sempat mengucap rindu. Maaf, aku meninggalkanmu. Di kehidupan selanjutnya, aku harap kita bertahan lebih lama.

