We have 62 guests and no members online
- Dewi Citra Lestari
- Resensi
Roots (2024): Paradoks Indahnya Akar Bali dari Kanvas Hidup Seorang Anomali
“Lebih baik Balimama, daripada Eropapa”
—Walter Spies (Roots, 2024).
“Lebih baik Balimama, daripada Eropapa”
—Walter Spies (Roots, 2024).
Judul : ROOTS: One Hundred Years Walter Spies in Bali
Sutradara : Michael Schindhelm
Durasi : 105 menit
Tahun Rilis : 2025
Genre : Dokumenter-Fiksi, Eksperimental, Seni-Budaya
“Lebih baik Balimama daripada Europapa”. Kutipan Walter Spies ini bukan sekadar ungkapan kekaguman terhadap Bali, melainkan juga sebagai pintu simbolik yang membuka jalan bagi ROOTS : One Hundred Years Walter Spies in Bali, film eksperimental karya Michael Schindhelm yang menelusuri jejak panjang seni, budaya, dan sejarah dari sudut pandang yang jarang disentuh.
Alih-alih menjadi film dokumenter biografi tentang Walter Spies – seniman Jerman yang pada awal abad ke-20 ikut memperkenalkan Bali ke mata dunia Barat – ROOTS justru menempatkannya sebagai sosok yang samar. Spies digambarkan sebagai semacam “roh” yang mewakili rasa kagum sekaligus pengaruh budaya luar yang perlahan mengubah wajah Bali.
Film ini tidak menjadikan Spies sebagai tokoh utama secara langsung. Ia hadir sebagai simbol dari keindahan dan juga perubahan dalam seni Bali. Ia datang dengan kekaguman terhadap tradisi yang sarat makna spiritual, lalu mencoba “mengemas” seni tersebut agar bisa dinikmati oleh penonton dari luar negeri. Bersama seniman lokal dan rekan-rekannya, Spies menciptakan pertunjukan seni yang lebih dramatis, singkat, dan teratur – bukan lagi bagian dari upacara sakral, melainkan menjadi tontonan yang mudah diterima oleh wisatawan.
Dengan durasi 105 menit, ROOTS bukanlah tontonan yang ringan. Film ini lebih mirip perjalanan visual dan batin yang menggiring penonton masuk ke lapisan-lapisan sejarah dan identitas Bali. Michael Schindhelm mengandalkan bahasa rupa, tari, lanskap, dan suara untuk membentuk narasi yang terpecah-pecah namun memiliki makna. Melalui keheningan, film ini mengajak penonton menyusun potongan-potongan cerita yang tak beraturan menjadi benang merah yang sebetulnya saling berkaitan.
Salah satu keberanian paling mencolok dalam ROOTS adalah ketika film ini menyinggung memori kelam tragedi 1965 di Bali. Tanpa adegan kekerasan, film ini menghadirkan atmosfer yang sunyi namun menegangkan seperti suara penangkapan, lokasi-lokasi yang diyakini sebagai tempat pembantaian, dan wajah-wajah trauma yang tertinggal di lanskap. Ini babak sejarah yang nyaris absen dalam narasi resmi pariwisata Bali, dan keberanian mengangkatnya menjadi nilai penting dari film ini sebagai arsip budaya.
Menariknya, film ini tidak bicara hanya lewat “roh Spies”. Dua seniman kontemporer Bali, Gus Dark dan Made Bayak, menjadi pusat kekuatan naratif. Mereka bukan hanya sebagai penampil, tetapi juga penyampai kritik – mewakili suara lokal yang selama ini terpinggirkan oleh pariwisata dan pencitraan eksotis Bali.
Gus Dark, ilustrator asal Sidemen, menggunakan gaya satir dan visual berani lewat gerakan Darkade Propaganda-nya. Baginya, seni adalah alat untuk mengangkat isu reklamasi Teluk Benoa, korupsi, dan krisis lingkungan. Sementara itu, Made Bayak menghadirkan seni sebagai bentuk terapi dan perlawanan lewat Plasticology – kolase dari sampah plastik yang memuat pesan sejarah, politik, dan ekologis. Ia juga menyuarakan keresahan lewat musik dan tulisan, semuanya dalam bahasa lokal yang membumi.
Kehadiran mereka membuat ROOTS tidak hanya menjadi refleksi atas masa lalu, tetapi juga sebuah pernyataan tentang kondisi Bali masa kini. Film ini menyingkap kenyataan yang jarang disorot: harga tanah yang melambung tinggi, kemacetan yang semakin parah, tumpukan sampah yang menumpuk, dan pariwisata spiritual yang kini diproduksi secara massal. Lewat visual yang kuat, kita diperlihatkan hotel-hotel bergaya pura, bar-bar dengan nama Sanskerta, dan souvenir "spiritual" yang dijual seperti cendera mata biasa. Di balik citra Bali yang sukses sebagai destinasi wisata dunia, tersembunyi risiko kehilangan makna budaya yang asli dan munculnya ketegangan sosial yang terus membesar. ROOTS tidak hanya memperlihatkan Bali seperti yang ingin dilihat dunia, tetapi menghadirkan Bali yang berbicara – jujur, rumit, dan penuh pertanyaan.
Film yang rilis pada tahun 2025 ini tidak memberi jawaban. Ia justru menghadirkan pertanyaan-pertanyaan penting : Apa arti pelestarian budaya jika nilai aslinya terus dikomodifikasi? Siapa yang berhak menentukan makna tradisi? Dan bagaimana masyarakat Bali mempertahankan identitasnya di tengah gempuran globalisasi? Lewat lensa seni dan sejarah, film ini menegaskan bahwa akar budaya Bali masih menyala dan terus tumbuh, meskipun harus menghadapi arus besar perubahan yang tidak selalu bersahabat.
Film dokumenter ini memiliki kekuatan utama pada pendekatan sinematiknya yang unik, yang membawa penonton bukan sekadar menyaksikan dokumenter biasa, melainkan diajak untuk merenung dan menggali lapisan-lapisan makna yang tersembunyi dalam sejarah dan budaya Bali. Keterlibatan langsung suara-suara lokal seperti Gus Dark dan Made Bayak memberikan dimensi keaslian dan keberanian yang jarang ditemukan. Keberanian film ini mengangkat isu-isu sensitif seperti tragedi 1965 dan modifikasi budaya dalam konteks pariwisata massal juga menjadi nilai tambah yang membuat ROOTS berbeda dari dokumenter-dokumenter Bali sebelumnya. Dapat membuka ruang diskusi kritis tentang identitas, pelestarian budaya, dan dampak globalisasi.
Di sisi lain, gaya narasi ROOTS yang terpecah-pecah dan visual yang penuh ruang hening, meski artistik, bisa menjadi tantangan tersendiri bagi penonton yang terbiasa dengan alur cerita dan penjelasan yang lebih gamblang. Tempo yang lambat dan minimnya narasi langsung terkadang membuat beberapa bagian terasa sulit dicerna, terutama bagi mereka yang tidak familiar dengan konteks sejarah Bali, seperti tragedi 1965 atau detail dampak pariwisata. Hal ini membuat ROOTS lebih cocok untuk penonton yang siap menghadapi film dengan pendekatan renungan dan kritis, bukan untuk mereka yang mencari dokumenter hiburan yang mudah diikuti.
Di akhir film, pertanyaan paling mendesak justru muncul bukan dari layar, melainkan dari diri kita sendiri. Apakah kita selama ini benar-benar melihat Bali, atau hanya memotretnya sebagai eksotika yang menyenangkan? (Cahya Widiari)
[Tulisan ini memenangkan Juara 1 dalam Kompetisi Menulis Resensi Film ROOTS : Walter Spies Journey in Bali; oleh Niskala Studio, Museum ARMA Studio Bali]
Judul: Back To Friends
Penyanyi: Sombr
Album: Back To Friends (Single)
Rilis: 2024
Genre: Indie Pop
Lagu "Back To Friends" dari Sombr adalah sebuah karya indie pop yang membicarakan tentang betapa sulitnya kembali ke status pertemanan setelah hubungan dua orang terlanjur memasuki ranah yang lebih dalam. Lagu ini menawarkan nuansa emosional yang sunyi namun menusuk, dengan melodi lembut dan lirik yang sederhana tetapi penuh arti.
Makna lagu "Back To Friends" berkisar pada dilema hati ketika sebuah hubungan yang semula ‘santai’ ternyata meninggalkan luka yang tak terucapkan. Lagu ini bercerita tentang sepasang orang yang awalnya hanya ingin menjalin sesuatu yang kasual, tapi pada akhirnya muncul keterikatan emosional yang sulit dihindari. Lirik seperti “How can we go back to being friends, when we just shared a bed?” menegaskan betapa susahnya berpura-pura kembali menjadi teman biasa setelah melewati keintiman yang terlalu dalam.
Lagu ini menunjukkan bahwa ada harga emosional yang harus dibayar dalam hubungan yang tidak jelas arah maupun komitmennya. Pada bagian bridge, ketika Sombr bernyanyi, “I’m holding on too tight, while you let go,” ia mengekspresikan rasa sepihak dalam menggenggam sesuatu yang perlahan hilang, sementara pihak lainnya justru memilih untuk melepaskan dengan ringan. Ini menjadi simbol bagaimana satu orang sering terjebak dalam perasaan yang lebih berat dibandingkan yang lain.
Bagian lirik seperti “This is casual,” terdengar sinis sekaligus menohok. Ia mengingatkan bahwa istilah “kasual” seringkali hanya kedok untuk menyembunyikan perasaan sebenarnya, yang pada akhirnya meninggalkan luka lebih dalam ketika hubungan itu berhenti.
Musikalitas lagu ini sangat mendukung atmosfer emosionalnya. Dengan aransemen minimalis yang didominasi piano lembut dan sentuhan gitar halus, lagu ini memberi ruang bagi vokal Sombr yang terdengar mentah dan rapuh untuk bercerita. Ketukan drum muncul secara halus, menambahkan denyut pelan yang mencerminkan jantung yang resah namun tertahan. Semuanya disusun untuk menciptakan suasana sunyi yang paradoxically terasa ramai oleh beban pikiran dan kenangan.
Vokal Sombr sendiri sangat menonjol dalam lagu ini. Ia bernyanyi seolah sedang bercakap pelan, suaranya terdengar intim dan tak dibuat-buat, membawa pendengar langsung masuk ke ruang pribadinya. Ruang yang penuh penyangkalan, kerinduan, dan rasa kehilangan. Teknik vokal yang minim efek justru membuat emosi dalam setiap bait terasa lebih tulus dan mengena.
"Back To Friends" adalah lagu yang menggambarkan betapa ruwetnya hubungan yang dimulai tanpa komitmen jelas, lalu berakhir dengan kesepian yang sulit dijelaskan. Dengan melodi lembut dan lirik yang jujur, Sombr berhasil menyampaikan cerita patah hati tanpa dramatisasi berlebihan, membuat lagu ini terasa dekat dan nyata bagi siapa saja yang pernah merasakan getirnya hubungan ambigu. Lagu ini sangat cocok untuk mereka yang menyukai musik indie pop bernuansa sendu, yang dapat menjadi teman merenung di malam-malam sepi. (trn)
We have 62 guests and no members online