Rasa penasaran kerap menjadi awal dari sebuah perjalanan. Dari keingintahuan sederhana itulah Putu Dhanalakshmi Indira Putri, atau Amik, mulai mengenal dunia jurnalistik dan menemukan ruang untuk bertumbuh bersama Madyapadma.
Rasa penasaran sering kali menjadi pintu masuk bagi seseorang untuk menemukan ruang belajar yang baru. Dari keingintahuan sederhana itulah Putu Dhanalakshmi Indira Putri, atau yang akrab disapa Amik, mulai melangkah ke dunia jurnalistik bersama Madyapadma. Pada awalnya, Amik bukanlah pribadi yang mudah berbaur seperti sekarang. Semasa SMP, ia menjalani hari-harinya dengan pola yang sederhana, datang ke sekolah, mengikuti pelajaran, lalu pulang. Ia mengaku lebih banyak menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri dan jarang terlibat dalam aktivitas di luar rutinitas sekolah.
Lahir pada 17 Desember 2008, gadis yang berasal dari Nusa Penida, Bali ini, tumbuh sebagai pribadi yang perlahan belajar mengenal dirinya sendiri. Ketertarikannya pada jurnalistik tidak berangkat dari mimpi yang sejak lama terpatri, melainkan dari rasa ingin tahu sederhana. “Aku sebenarnya ga ada minat di bidang jurnalistik. Aku cuma kepo, kayak gimana sih jurnalistik itu. Kayaknya seru deh, kita bisa nulis-nulis dan wawasan kita jadi lebih luas,” ungkapnya. Keputusan bergabung dengan Madyapadma pun menjadi bagian dari proses pencarian minat tersebut. Ia sempat mencoba berbagai hal dan belum menemukan satu bidang yang benar-benar cocok. “Aku emang lagi nyari minat. Dulu nyoba sana-sini tapi ga ada yang bener-bener aku bisa. Jadi aku pikir, siapa tahu jurnalistik ini nyantol,” ujarnya.
Awal berada di Madyapadma bukanlah fase yang mudah. Datang tanpa bekal dasar jurnalistik, Amik sempat merasa minder melihat teman-temannya yang telah memiliki kemampuan lebih dulu. “Aku datang-datang enggak ada basic sama sekali, sedangkan yang lain udah punya. Awal-awal itu aku minder banget,” tuturnya. Perubahan mulai terasa ketika ia mengikuti kegiatan Komuni. Intensitas tugas yang tinggi dan tuntutan untuk aktif setiap hari justru menjadi ruang belajar yang membentuk keberaniannya. “Pas seleksi lomba Communiphoria itu tugasnya banyak banget dan setiap hari. Otak tuh kayak kerja terus. Dari situ aku mulai berani dan ga semalu dulu,” katanya.
Seiring waktu, Amik menjadi lebih terbuka dan mudah berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya. Pengalaman sebagai panitia YSA turut memberinya dasar dalam dunia kepanitiaan, sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia geluti. “Aku tiba-tiba diajak jadi panitia. Karena kelas sepuluh aku free, ya aku ikut aja. Dari situ aku dapet dasar kepanitiaan,” jelasnya. Melalui proses seleksi kepengurusan, Amik kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Madyapadma. Peran tersebut menuntutnya mengelola berbagai urusan administrasi organisasi, mulai dari absensi, surat dispensasi, laporan bulanan, hingga memastikan jalannya kegiatan rutin. “Sekarang lingkupnya udah besar, jadi enggak bisa asal. Aku harus bertanggung jawab sama apa yang aku lakuin,” ujarnya.
Tantangan bertambah ketika Amik juga dipercaya sebagai Ketua Panitia PRESSLIST 15. Mengkoordinir banyak bidang, menjadi pusat komunikasi, serta membagi waktu dengan tuntutan akademik bukanlah hal yang mudah. “Kadang aku udah fokus ke satu hal yang urgent, terus lupa lanjutin yang lain. Tapi akhirnya aku paksa diri buat ngerjain semuanya satu-satu,” ungkapnya. Meski kerap merasa kewalahan, Amik tidak memilih berjalan sendiri. Ia terbiasa berdiskusi dan meminta saran dari rekan-rekannya sebelum mengambil keputusan. “Aku ga bisa kerja sendiri. Aku pasti nanya dulu ke temen-temen, menurut mereka gimana,” katanya.
Dukungan dari lingkungan sekitar pun menjadi penguat langkahnya. Teman-teman Madyapadma, rekan sekelas, serta keluarga memberi ruang bagi Amik untuk terus bertumbuh. “Kalau dari keluarga itu lebih ke batin, kalau dari temen-temen itu banyak bantu secara fisik. Jadi sejauh ini fifty-fifty,” ucapnya. Menjelang pelaksanaan PRESSLIST 15, Amik berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar dan memberi dampak positif bagi semua pihak yang terlibat. “Semoga PRESSLIST 15 bisa berjalan dengan lancar dan semua, baik panitia maupun peserta, bisa dapet dampaknya,” harapnya. Menutup ceritanya, Amik menyampaikan pesan agar seluruh panitia tetap menjaga semangat di tengah padatnya persiapan. “Mungkin capek karena kita harus berlari, tapi semoga teman-teman tetap semangat dan kita bisa dapetin hasil yang semaksimal mungkin,” tutupnya. (gan)

