Didominasi kaum milenial, penggunaan uang elektronik terus berkembang. Bahkan sebelum adanya pandemi Covid-19, uang elektronik sudah jadi andalan. Bagaimanakah tanggapan remaja Denpasar?
Seiring perkembangan teknologi, gaya hidup manusia perlahan berubah. Kini pun kecenderungan masyarakat untuk menggunakan uang elektronik sebagai transaksi harian semakin meningkat. Jika ditelisik lebih lanjut, penggunaan uang elektronik sudah meningkat cukup pesat, bahkan sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Bank Indonesia (BI) telah mencatat volume transaksi uang dibanding pada akhir 2019, melonjak sebanyak 79,3%. Menjadi Rp 5,2 miliar transaksi dibandingkan 2018 yang sebanyak Rp 2,9 miliar transaksi. Pada kurun waktu yang sama, nilai transaksinya pun meningkat sebesar 208,5%. Yakni, dari Rp 47 triliun pada tahun 2018, dan menjadi Rp 145,2 triliun pada tahun 2019. Menurut riset pasar Ipsos Indonesia, sekitar 68% pengguna dompet digital adalah kalangan milenial. Lalu bagaimana persepsi remaja Denpasar mengenai penggunaan uang elektonik?
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Tim Madyapadma kepada 100 remaja di Denpasar dengan batasan usia 13-20 tahun pada tanggal 15 – 16 November 2020. Responden polling terdiri dari 65% perempuan dan 35% laki-laki. Dengan memanfaatkan formulir google menggunakan metode acak sederhana.
Hasil yang diperoleh, menunjukan sekitar 52% dari para responden mengaku hanya terkadang saja menggunakan transaksi digital. “Jarang menggunakan uang elektronik, hanya ketika beli baju saja,” kata Thalita Nabila Parta (15) siswa SMA Negeri 7 Denpasar, saat dihubungi via daring oleh tim Madyapadma pada Senin (16/11). Di sisi lain, 9% remaja Denpasar menyatakan sering bertransaksi dengan uang elektonik. “Sering menggunakan uang elektronik karena ada keperluan seperti membayar uang sekolah,” ungkap Putu Arya Rista Aprilan (16) salah satu siswa SMK Farmasi Saraswati 3 Denpasar. Meski penggunaan uang elektronik ramai diperbincangkan, namun tak menutup kemungkinan bahwa masih ada masyarakat yang belum pernah menggunakan uang elektonik untuk bertransaksi. Terdapat 30% remaja Denpasar yang mengaku belum pernah melakukan transaksi digital.
Walau begitu, ketika pandemi Covid-19 melanda, sebanyak 53% remaja menyetujui jika terjadi kenaikan intensitas transaksi digital yang mereka lakukan. Bahkan 20% responden sangat setuju dengan pernyataan ini. “Karena banyaknya masyarakat yang tidak dapat bekerja maupun beraktivitas di luar rumah, maka segala transaksi dapat dilakukan dengan uang elektronik. Karena selain lebih mudah dan cepat, juga dapat meminimalisir penggunaan uang yang sudah banyak berpindah dari tangan ke tangan. Maka dari itu menurut saya wajar terjadi peningkatan intensitas penggunaan transaksi uang elektronik di masa yang seperti sekarang ini.” papar Ida Ayu Gede Virania Maheswari (16), siswi SMA Negeri 3 Denpasar. Sementara itu, 12% remaja beranggapan jika pandemi Covid-19 tak cukup kuat mempengaruhi intensitas kegiatan transaksi digital mereka.
Sebagai alat pembayaran dalam bentuk elektronik, dimana nilai uangnya disimpan dalam media elektronik tertentu memberikan kemudahan, dan kecepatan dalam melakukan transaksi. 54% dari responden setuju bahwa uang elektronik lebih menguntungkan digunakan daripada uang tunai. “Jaman-jaman covid ini tidak boleh berinteraksi dengan sesama jadi lebih baik menggunakan aplikasi pembayaran online seperti Shopee Pay, Go-Pay, OVO dan lain-lain,” ucap Anak Agung Istri Agung Sri Wulandari (16) siswi SMA Negeri 1 Denpasar. Pendapat yang serupa pun juga datang dari I Nyoman Danendra Priambada (17). “Menurutku pribadi, uang elektronik lebih menguntungkan daripada tunai karena lebih praktis dan nyaman dipakai untuk transaksi pembayaran terutamanya dalam nominal yang besar, lebih efektif dari segi waktu. Selain itu, punya program program khusus yang menguntungkan, contohnya cashback,” terang Danendra Priambada, siswa asal SMA Negeri 3 Denpasar.
Berbanding terbalik dengan 16% remaja lainnya, yang berpendapat bahwa uang tunai tak kalah menguntungkan dari uang elektronik. “Menggunakan uang elektronik belum pasti keamanannya dan tidak selalu memberikan dampak positif kepada semua orang contohnya seperti kasus penipuan. Selain itu juga bergantung kepada si pemakai. Menurut saya penggunaan e-money lebih membuat kita cenderung untuk hidup boros,” sanggah Ketut Yunia Iswara (16) siswi SMA Negeri 3 Denpasar.
Terlepas dari itu, bertransaksi melalui uang elektronik membawa dampak positif bagi masyarakat, khususnya di tengah situasi pandemi Covid-19 ini. 63% responden setuju dengan melakukan transaksi melalui uang elektronik, dapat membantu pencegahan penyebaran Covid-19. “Penyebaran Covid-19 bisa melewati barang atau uang, orang-orang pasti belanja menggunakan uang kertas dan belum tentu uang itu juga steril maka penyebaran Covid-19 dapat melewati uang. Dengan adanya uang elektronik kita dapat berbelanja atau menggunakan uang tanpa melakukan transaksi tukar menukar uang,” ujar Ni Putu Anggita Cahya Primardani(16), siswi SMA Negeri 8 Denpasar. (ek)

