Informasi vaksinasi Covid-19 selama ini kerap mondar-mandir mengisi halaman media massa Indonesia. Mereka yang tak baca lengkap sampai habis, boleh jadi akan patah hati. Sebab nyatanya, vaksin Covid-19 hanya dapat diberikan ke golongan usia tertentu. Siapa sajakah mereka?
Selama ini, yang selalu jadi tanda tanya besar adalah, kapan vaksin Covid-19 akan datang? Pertanyaan itu terus berenang di dalam kubangan kecemasan masyarakat. Sampai satu ketika, pemerintah Indonesia akhirnya menjawab. Menegaskan, vaksin akan siap diedarkan pada November 2020. Belakangan pemerintah meralat lagi. Vaksin akan siap setelah selesai uji klinis III di awal tahun 2021. Masyarakat yang lega, terlanjur kegirangan, boleh langsung menelan bulat-bulat. Tanpa tahu dan menyimak lebih lanjut, jika sebetulnya vaksin belum dapat diedarkan bebas,
Belum bebas, dalam artian usia pasien yang masih terbatas. Yakni hanya golongan usia 18 - 59 tahun yang dapat menggunakan vaksin Covid-19. Sementara di luar usia tersebut, pemerintah menilai belum ada jaminan keamanannya. Hal itu didasari dengan latar belakang produksi vaksin Sinovac, Sinofarm, dan Casino yang akan diedarkan di Indonesia. Ketiga vaksin tersebut, hanya melakukan uji klinis pada kelompok usia 18 - 59 tahun saja. Lantas, bagaimana persepsi remaja Denpasar menanggapi keterbatasan vaksinasi Covid-19?
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Tim Madyapadma kepada 100 remaja di Denpasar dengan batasan usia 13-20 tahun pada tanggal 1 – 2 November 2020. Responden polling terdiri 65% perempuan dan 35% laki-laki. Dengan memanfaatkan formulir google menggunakan metode acak sederhana.
Hasilnya, kabar batasan usia vaksinasi Covid-19 ini hanya baru diketahui oleh 37% remaja Denpasar. Sebanyak 53% remaja mengaku tidak mengetahui informasi tersebut. Sisanya, memilih tidak menjawab. “Karena masalah vaksin ini menurut saya kurang jelas informasi pernyataannya,” ujar Ni Made Indrayati Rahayu (17) siswa asal SMKN 5 Denpasar, kala dihubungi secara daring pada Senin (2/11). Sejujurnya, bila barangkali singgah sejenak di halaman Google. Maka hanya perlu waktu 0,44 detik saja, mesin pencarian raksasa itu telah memuat 2.910.000 lebih beragam kabar seputar batasan usia vaksin Covid-19.
Kendati demikian, sebesar 42% suara menilai pemilihan golongan usia tersebut merupakan keputusan yang sudah tepat. “Sebab, sejauh ini dari informasi yang saya terima, usia-usia tersebut adalah usia yang paling rentan terkena Covid-19. Sehingga sangat penting mendahulukan orang-orang berisiko untuk mencegah penyebaran Covid-19 lebih luas,” tutur Ni Kadek Dwita Putri Suastini (17) siswa asal SMAN 3 Denpasar.
Pendapat Dwita Putri nyatanya selaras dengan data yang diperoleh dari Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Kota Denpasar. Menyebutkan adanya 80% dominasi pasien positif Covid-19 yang berasal dari usia produktif antara 18 - 50 tahun. Namun, bagi I Nyoman Dwitya Adhyatma Nugraha (17), pemilihan range usia tersebut dalam pengujian dan pemberian vaksin Covid-19, dipandang tidak tepat. Itu diakui pula oleh 24% remaja. “Karena menurut saya, semua jangkauan usia itu harus mendapatkan vaksin agar tidak terserang Covid-19,” kata Dwitya Adhyatma. siswa asal SMAN 7 Denpasar.
Alhasil, tergolong efektif atau tidaknya pelaksanaan vaksinasi di tanah air menjadi perdebatan tersendiri di kalangan remaja Denpasar. 49% remaja menganggap vaksinasi Covid-19 di Indonesia terancam akan berjalan kurang efektif. “Karena suatu vaksin akan bekerja bila sebagian penduduk memperoleh pemerataan penyebaran vaksin, jadi apabila masih ada penduduk yang masih belum memperoleh vaksin maka masih ada kemungkinan untuk saling menularkan ke orang lain,” jelas Laksmi Saraswati (17) siswa asal SMAN 8 Denpasar.
Dikutip dari Kompas.com, kondisi Herd Immunity dapat dicapai jika 80 - 90% populasi telah kebal terhadap penyakit. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali tahun 2020, setidaknya terdapat 1.850.300 masyarakat Bali yang tidak termasuk dalam cakupan usia 18 - 59 tahun. Sehingga, sekiranya ada 42,24% penduduk yang belum dapat melewati tahap vaksinasi.
Tetapi rasa optimisme hadir dari sisi seberang. Sebanyak 31% remaja menjamin efektivitas vaksinasi Covid-19 yang akan segera dilaksanakan. “Menurut saya tetap efektif, karena selain itu juga dalam uji coba memang harus ada batas usianya. Harus berdasarkan kaidah yang berlaku, agar tidak ada yang merasa dirugikan. Kalau nanti gagal dan menuai banyak korban, siapa yang mau bertanggung jawab?” sungut I Gusti Ayu Ratih Nanda Savitri (16), siswa asal SMA Dwijendra Denpasar.
Meski keamanan hasil uji klinis memang wajib ditaati, namun tak terbantahkan memang, adanya sekat-pemberian vaksin menimbulkan kekhawatiran baru. Terbukti dari hasil polling yang menangkap kekhawatiran remaja Denpasar hingga 67%. “Tentu saya sangat khawatir. Usia di bawah 18 tahun, bisa dibilang usia dimana anak-anak sedang senang-senangnya bermain. Dari kehidupan sehari-hari di rumah, saya sering melihat anak-anak di bawah 18 tahun bermain tanpa melaksanakan protokol kesehatan. Terutama menggunakan masker. Walau mereka bukan kelompok berisiko, tetap saja mereka harus dapat perhatian lebih,” ungkap Dwita Putri menanti titik terang dari pandemi. (kar)

