Jalan-jalan ke Bali memang asyik. Bertemu guratan senja magis sambil ditemani semilir angin pantai. Tapi sekarang, pandemi Covid-19 menghadang. Pelancong tak lagi datang. Kantong pariwisata pun langsung hilang, Mendadak, sektor UMKM jadi pilar harapan.
Setiap kali jarum jam terus berputar. Maka seiring dengan itu juga roda perekonomian mesti bergerak. Namun, semenjak sektor pariwisata Bali dihantam pandemi Covid-19. Sontak laju ekonominya terkulai lemas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, ekonomi di Bali tepatnya pada triwulan II 2020, tercatat menyusut sampai -10,98%. Menjadi sejarah terpelik dalam satu dasawarsa terakhir. Di tengah situasi ini, sektor UMKM digadang-gadang mampu jadi penyelamat. Lalu, bagaimana persepsi remaja Denpasar memandang kekuatan sektor UMKM Bali?
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Tim Madyapadma kepada 100 remaja di Denpasar dengan batasan usia 13-20 tahun pada tanggal 26 – 28 Oktober 2020. Responden polling terdiri 66% perempuan dan 34% laki-laki. Dengan memanfaatkan formulir google menggunakan metode acak sederhana.
Hasilnya, tingkat minat orang Bali dalam menggeluti sektor UMKM menurut remaja di Denpasar, tergolong tinggi. Itu diakui 60% responden remaja. “Karena saya lihat, banyak orang yang mengambil profesi bisnis. Setiap beberapa meter di pinggir jalan terdapat usaha dagang,” ujar I Gede Satria (16) siswa asal SMK TI Bali Global Denpasar saat dihubungi, Kamis (29/10) di Denpasar.
Perkembangan UMKM di Bali pun tentu tak lepas dari dorongan dan perhatian para pemangku kebijakan. Sebanyak 41% remaja menilai pemerintah telah memberi perhatian tinggi terhadap sektor UMKM. 27% menganggap tingkat kepedulian pemerintah masih tergolong rendah. Di sisi lain, 26% suara memilih untuk tidak menjawab. Mengutip informasi dari data Pemerintah Kota Denpasar pada tahun 2019, setidaknya tercatat sebanyak 326.000 UMKM yang tersebar di Pulau Bali. Kota Denpasar sendiri menjadi kawasan dengan pertumbuhan UMKM tertinggi. Yakni sejumlah 4.445 pelaku UMKM.
Seolah menggantikan kantong pariwisata. Sektor UMKM dinilai berperan penting menggerakan roda ekonomi Bali di tengah pandemi. Setidaknya, sebanyak 57% remaja memandang demikian. Bahkan 27% lainnya menganggap sangat berperan penting. ”Sekarang ini kan pariwisata sedang di masa terpuruknya. Nah UMKM ini yang menurutku dapat membantu ekonomi Bali saat ini. Bisa membantu memenuhi kebutuhan mereka yang dulunya bekerja di pariwisata, sekarang beralih jadi wirausaha,” jelas Ni Made Linda Septya Dewi (17) siswa asal SMAN 3 Denpasar.
Kendati begitu, bukan berarti UMKM begitu kebal terhadap pandemi. 52% remaja Denpasar menyetujui jika pandemi Covid-19 berdampak sangat besar dalam perkembangan UMKM. “Banyak dari mereka yang terpaksa gulung tikar selama pandemi ini. Menurutku ada beberapa faktor, kesulitan proses produksi, pengiriman bahan lama tertunda, dan jumlah pembeli pastinya menurun,” kata Ni Kadek Silvia Putri Tantra (16) siswa asal SMA Dwijendra Denpasar ini.
Namun, perkara itu tak lantas membuat perkembangan UMKM terantuk jalan buntu. Intensitas memanfaatkan media digital dalam berbisnis pun dipacu. Bersama 44% suara lainnya, bagi Komang Ayu Trishantika Dewi (20) pelaku UMKM di Bali telah gencar memanfaatkan media digital. “Kalau sebuah UMKM mau bertahan di tengah pandemi mereka ya memang harus memanfaatkan media digital. Sekarang rasanya sudah banyak deh UMKM yang daftar-daftar di aplikasi ojek online,” papar Ayu Trishantika, mahasiswa asal Universitas Udayana.
Betul memang Kota Denpasar kerap dilintasi ojek online. Namun akan berbeda cerita, jika meneliti kondisi sekitar daerah-daerah pelosok Bali. Hal ini disadari oleh 40% remaja Denpasar lainnya. Salah satunya Ni Putu Arista Supadmi (17) siswa asal SMAN 3 Denpasar, yang berpikir masih kurang gencarnya pemanfaatan media digital dalam kelangsungan UMKM di Bali. Menurut Arista, “UMKM di Bali itu banyak. Misalnya ada peternakan sapi, ayam, atau perkebunan bunga pacah. Di luar Kota Denpasar aku lihat masih banyak yang nggak promosi lewat media digital. Mereka ada yang sebatas mulut ke mulut aja atau ngandalkan distributor.”
Padahal, pengaruh pemafaatan media digital dalam laju perkembangan UMKM sangatlah besar. Mengutip dari riset yang dilakukan oleh Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penelitian Komunikasi dan Informatika (BPSDMP Kominfo) Manado. Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara penggunaan media digital terhadap tingkat penjualan, yakni sebesar 60,2%.
Sebanyak 46% remaja Denpasar pun juga mengakui pengaruh media digital yang sangat tinggi. “Gumi Corona gini, udah banyak banget orang jualan online. Menurutku, banyak orang yang ingin dapat uang tanpa bersusah payah, ya dengan jualan online. Uang dapat, lelah berkurang. Secara logika pastinya media digital sangat berpengaruh, sekarang kan zaman udah canggih,” kata Joy Ronald Bima, siswa asal SMAN 8 Denpasar. (kar)

