"Ini ada larutan birometil biru, silahkan disemprotkan ke papan tulis ini" ujar Cintya Pramesti selaku MC dalam acara Olimpiade Penelitian Siswa Sains dan Humaniora V 2017 (16/09).
Bersamaan dengan terbitnya mentari, beberapa peserta Olimpiade Penelitian Siswa Sains dan Humaniora (OPSSH) 2017 tampak berlalu lalang di ruang workshop SMA Negeri 3 Denpasar (16/09). Ditahun kelima OPSSH, 41 tim lolos dari berbagai SMP se-Bali tergabung sebagai finalis. Raut cemas terpampang nyata di wajah para peserta, sembari menghafal materi presentasi hari esok. Poster-poster penelitian terpajang disekililing ruang Workshop SMAN 3 Denpasar. Terlihat para panitia acara sibuk menyiapkan persiapan akhir acara tahunan Forum Peneliti Muda Trisma ini. “Sejauh ini sudah cukup sih, tinggal menyempurnakan lagi,” ujar I Made Artha Sucita selaku panitia bidang perlengkapan OPSSH 2017.
Tepat pukul 09.45 akhirnya Bapak Walikota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra tiba di SMAN 3 Denpasar guna membuka sekaligus meresmikan acara tahunan ini. Sebelum dilaksanakan prosesi pembukaan OPSSH terlebih dahulu dilangsungkan sambutan oleh ketua Panitia, Kadek Wiramarta. “OPSSH kali ini berbeda dengan sebelumnya, kali ini lebih mementingkan pembinaan. Pasalnya para peserta sebelumnya hanya mengirimkan idenya saja, kemudian baru diseleksi. Selanjutnya karya yang lolos akan diberikan bimbingan langsung oleh pihak SMAN 3 Denpasar,” tuturnya pagi itu (16/09). Dengan berakhirnya sambutan dari ketua panitia OPSSH, acara pembukaan akhirnya dilangsungkan. Prosesi pembukaan disimboliskan dengan penyemprotan birometil biru ke papan yang telah diberi larutan Ca(OH)2 dan alcohol sehingga terbentuk tulisan OPSSH 2017 berwarna biru. “Mari kita sambut prestasi dengan senyuman,” setidaknya begitulah ungkap Rai Mantra selaku Walikota Denpasar secara singkat.
Antusiasme terpancar dari seluruh peserta ketika dikunjungi Bapak Walikota Denpasar. Kata demi kata terlontar manis dari para peserta ketika ditanya megenai penelitiannya. “Ini penelitian kedua saya setelah sebelumnya saya pernah ikut lomba penelitian di Korea. Awalnya sih karena saya penasaran dengan teman-teman yang mendapat nilai tinggi, sehingga saya tertarik untuk meneliti lebih lanjut. Ternyata bentuk wajah merupakan salah satu faktornya. Nah dari sana saya berpikir untuk menerapkan konsep Golden Ratio guna mengetahui masalah ini,” jelas Cahaya Tirta, salah satu peserta asal SMPN 3 Denpasar. Tidak hanya para finalis saja, ternyata siswa-siswi yang tidak lolos juga menyempatkan dirinya untuk hadir mendukung teman-temannya yang tengah berjuang mengharumkan nama sekolah masing-masing. Hal ini dilakukan salah satu siswi asal SMP Saraswati 1 Denpasar, Friyani (14). “Sebenernya kecewa sih gak lolos, tapi ya mau gimana lagi. Saya kesini untuk memberi dukungan pada teman-teman saya,” ungkap gadis kelahiran Sumba Timur, 14 Agustus 2003.
Mengingat banyaknya inovasi baru yang digelar pada ajang ini, tentunya banyak pula kendala yang dihadapi. Namun semua itu dapat diatasi berkat kerja sama antar panitia. “Semoga OPSSH berjalan lancar dan Forum Peneliti Muda Trisma bisa terus berjaya,” harap Wiramarta selaku ketua panitia. Berbeda dengan Cahaya Tirta, ia berharap agar dirinya bisa menang dan memboyong piala bergilir OPSSH V 2017. (mp/msk)


