"Nilai kamu 40,60 terus. Nilai sikap C, D semua ? Mau jadi apa kamu?," tanya sang ayah dengan nada tinggi kepada anaknya, Andi Dwi Putra. Selasa,(20/3)
Pertanyaan yang bernanda menggugat itu membuat Andi bungkam. Maksud hati ingin memberitahu dirinya lolos dalam ajang inovasi Internasional. Namun apa daya, ia terlalu takut. Sang ibu yang mngethui hal tersebut, lekas memberi dukungan penuh pada anaknya. Perlahan namun pasti, Andi mulai merajut tekadnya menjadi aksi. Meski tanpa sepengetahuan sang ayah.
Benar saja, laki-laki berkulit sawo matang itu mendapatkan gold medal dalam ajang internasional itu. Dengan itu, setidaknya ia dapat sedikit berafas lega. Sayangnya, tantangan masih menghadang. "Masih ingat rumah kamu?" kata sang ayah sambut kedatangan Andi. Lagi-lagi andi terdiam. Wajahnya tertunduk. Bukan kalimat itu yang ia inginkan.
Untungnya, sang ibu yang selalu mendukungnya datang bak pelipur lara. Bagaimana tidak, saat melihat piagam dan medali yang dibawa sang anak, wajah bangga jelas tersemat di wajah tuanya kala itu. Bagai mendapat durian runtuh. Ayanhnya mendapat pangilan dari lembaga terkait ajang internasional itu, sontak konotasi sang ayah berubah pada Andi Dwi Putra. Hanya mengiyakan suara dari telepon itu dan wajahnya yang melongo jelas menandakan : ia bangga.
Begitulah kisah dalam video yang ditampilkan Mega Agustini, pembicara seminar yang bertajuk 'I am an Inovator'. Seteah tayangan itu, ia pula menyebutkan bahwa Andi merupakan pendiri INNOPA. "Awalnya saya, Andi, Sema, Winda dan Budi sering ikut ajang inovasi baik nasional hingga Internasional. Dari sana kita menemukan inovator Indonesia kurang dukungan," ujarnya. Berangkat dari sana, membuncahkan lima sekawan itu mendirikan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (INNOPA), sebagai wadah bagi inovator muda Indonesia ke kancah Internasional. Sedari 5 Juni 2011, telah terhitung tujuh tahun INNOPA berdiri.
Di sisi lain, Mega mengaku berprofesi sebagai mahasiswa semester 3 kala itu, membuat mereka harus kerja ekstra mewujudkan impian : membuat Indonesia menjadi negara inovatif bukan konsumtif. Hanya sja, minat inovasi dikalangan masyarakat Indonesia tergolong minim, susah dibangkitkan. Lebih-lebih membangun koneksi dengan dunia Internasional pula bukan perkara gampang. "Awal berdiri, ngirim 1 project keluar negeri aja udah syukur," ungkap wanita berambut lurus itu.
Serupa seperti Andi. INNOPA pula wujudkan tekad dengan tindakan. Mega mengungkapkan INNOPA terus berkembang 'menggepakkan sayap' guna mencetak inovator-inovator muda, salah satunya dengan melakukan seminar ini. "Melalui ini kami malakukan promosi agar lembaga ini diketahui masyarakat luas," ungkap Mega. Hal tersebut tak berakhir sia-sia. "Sekarang, 50 sampai 60 project dari Indonesia mampu kami kirimkan dalam setiap event," ucapnya. Walau belum sebanyak Malaysia yang mengirimkan ratusan inovator, setidaknya ini adalah suatu pencpaian, Mega menjelaskan. Sebab pada dasarnya, "Menjadi inovator tak harus dari hal sulit atau berprofesi setingkat professor. Dari permasalahan sederhana dan tekat dalam diri, itu pun cukup sebagai modal," tambah Mega.
Di tempat yang berbeda, Citananta Indra (17) ungkap lembaga INNOPA sangat membantu dalam mewujudkan mimpinya. Terlebih, ini kali pertama bagi Cita mengikuti ajang inovasi. "Awalnya terpaksa dari ajakan temen, tapi coba-coba buat inovasi ternyata gak sesulit yang terbayangkan," ungkapnya. Ternyata 'coba-coba' Cita berakhir mujur. Ia berhasil menyabet medali emas dalam ajang WINTEX 2018 di Institut Teknologi Bandung itu, berkat produk peredam bisingnya. "Tadinya coba-coba, sekarang pingin ikut lagi jadinya," kata Cita sembari tertawa kecil. Siswa SMA Negeri 3 Denpasar itu juga mengapresiasi adanya lembaga selayaknya INNOPA. "Bagus, INNOPA setidaknya dapat menjadi tempat menampung aspirasi anak muda khususnya dalam berkarya yakni berinovasi. Kayak aku dari ga tertarik jadi pingin buat inovasi lagi," paparnya.
Dari kisah Cita setidaknya mampu membuktikan visi berdiri INNOPA, tersampaikan; membantu para inovator mewujudkan mimpi mereka. Perjalanan masih panjang. Berinovasi pun juga bukan hal instan, perlu yang namanya konsisten dan berkesinambungan. Sekarang para anak muda mulai tergugah, sehingga mewujudkan Indonesia yang inovatif kedepannya, bukan hal mustahil kan? (non/cy).

