“Sebenernya aku ninggalin banyak hal hari ini,” ujar Nyoman Ayu Winna Trigita. Kamis, 6 Februari 2026, siswi 17 tahun itu memilih duduk di ruang seleksi Communiphoria, meninggalkan pameran ekstrakurikuler yang telah dipersiapkannya selama dua minggu, demi proses yang ia perjuangkan.
Keputusan itu tidak datang dengan ringan. Cakrawarna, ekstrakurikuler yang Winna bangun sejak akhir kelas sepuluh hingga kelas sebelas, hari itu menggelar pameran. Namun Winna tidak ada di sana. Ia sudah menyampaikan alasannya kepada pembimbing: ia ingin fokus mengikuti seleksi Communiphoria. Pilihan itu ternyata tidak meninggalkan penyesalan. “Aku belajar banyak banget hari ini,” katanya. Dalam hitungan jam, ia merasa mendapat pengalaman yang jauh lebih berharga daripada satu agenda yang harus ia tinggalkan.
Hari itu sendiri terasa panjang. Sejak pagi, Winna sudah menjalani berbagai aktivitas, senam, mengerjakan tugas lain, hingga bermain bulutangkis sebelum seleksi dimulai. Tubuhnya lelah, panas terasa menyengat. Menjelang sore, ia sempat tertidur sekitar empat puluh menit. Cara sederhana itu cukup untuk mengembalikan fokusnya. Tidur singkat sebelum momen penting sudah menjadi kebiasaannya agar pikiran kembali lancar. Ruang seleksi terasa lebih bersahabat. Kipas dan pendingin ruangan membantu meredam panas, menciptakan suasana yang tenang. Tugas yang diberikan tidak terasa menakutkan, justru menyenangkan, terutama karena materinya adalah berita kisah, jenis tulisan yang paling ia cintai. Minat Winna pada berita kisah tumbuh dari kekagumannya pada tulisan kakak kelasnya, Aura Kasih. Dari cerita perjuangan yang penuh luka dan air mata, Winna belajar bahwa tulisan yang hidup lahir dari proses panjang. Ia sadar belum berada di titik itu, tetapi keinginannya jelas: berusaha semampunya.
Namun semangat itu tidak selalu datang tanpa gangguan. Ni Made Yanika Dewi, peserta lain dalam seleksi Communiphoria, merasakan hal serupa. Bagi Yanika, Communiphoria selalu membawa rasa excited yang berbeda dibanding kegiatan lain. Pengalaman sebelumnya, ketika ia merasa diayomi kakak-kakak, membuatnya kembali dengan antusiasme tinggi. Tahun ini, situasinya berubah. Yanika harus bersaing dengan adik kelasnya sendiri. Rasa tidak aman pun muncul. Sejak awal kegiatan, kecemasan datang silih berganti, takut salah, takut malu, takut tidak berkembang. Tekanan bertambah ketika Yanika harus menjalani siaran di tengah seleksi. Saat peserta lain bisa menyimak materi secara utuh, ia harus membagi konsentrasi. Materi terpotong, pemahaman tidak penuh. Tulisan yang dihasilkan terasa tidak mengalir. Bahkan kesempatan kedua menulis pun belum memberinya rasa puas. “Aku ngerasa belum improve,” ujarnya jujur. Keraguan semakin besar ketika membayangkan penilaian mentor, sementara performa siaran yang ia jalani terasa berantakan, kata-kata tersendat, alur tidak rapi.
Meski demikian, baik Winna maupun Yanika sampai pada kesadaran yang sama. Bahwa di balik rasa tidak adil, cemas, dan takut gagal, mereka tidak berjalan sendirian. Semua peserta sedang belajar, sedang berproses, dan sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Yanika mengaku masih sering overthinking setiap malam, tentang peluang lolos, tentang kenyataan bahwa tidak semua orang bisa bertahan. Namun ia tetap memilih menyelesaikan apa yang ada di depannya. Menulis sebisanya. Memberi yang terbaik dari kondisi yang tidak ideal. Seleksi Communiphoria hari itu tidak memberi jawaban pasti. Namun bagi Nyoman Ayu Winna Trigita dan Yanika Dewi, 6 Februari 2026 menjadi hari yang menyimpan makna lain. Di tengah panas, lelah, dan ragu, mereka belajar bahwa bertahan, meski merasa belum cukup baik, adalah bentuk keberanian paling jujur dalam sebuah proses. (cpm)

