Suasana ramai mewarnai hari terakhir Denpasar Festival (Denfest) ke-18 Tahun 2025 di Kawasan Patung Catur Muka, Denpasar, Senin (23/12). Di tengah kerumunan pengunjung dan beragam hiburan, penerapan konsep zero waste tetap dijalankan hingga penutupan festival.
Denpasar Festival (Denfest) ke-18 Tahun 2025 resmi ditutup pada Senin (23/12) di Kawasan Patung Catur Muka, Denpasar. Sejak digelar pada 20 hingga 23 Desember 2025, festival tahunan ini tidak hanya menghadirkan pementasan tradisi, tetapi juga menyuguhkan beragam hiburan modern yang menarik perhatian pengunjung. Kerumunan terlihat memadati berbagai stan kuliner, agro, serta UMKM, serta panggung dengan beragam pementasan seni yang mengiringi suasana penutupan.
Selain menjadi ruang hiburan dan ekonomi kreatif, Denfest 2025 juga menegaskan komitmennya sebagai role model Festival Zero Waste. Konsep ini diwujudkan melalui keterlibatan 18 komunitas lingkungan yang tergabung dalam waste department dan relawan pengelolaan sampah selama kegiatan berlangsung.
Relawan program zero waste, I Gusti Lanang Agung Sabda Adnyana, mengatakan suasana bertugas di hari terakhir berlangsung cukup padat. “Suasananya lumayan ricuh, tapi ibu-ibu, warga, sama anak-anak sudah mulai patuh membuang sampah dan memilah,” ujarnya. Ia menjelaskan, tugas utama relawan adalah mengarahkan pengunjung untuk memilah sampah sejak dari sumbernya.
Menurutnya, terjadi perubahan perilaku pengunjung dari hari pertama hingga hari terakhir festival. “Kalau hari pertama mereka kurang mau memilah sampah. Hari ini udah lumayan, mereka udah mulai mengerti,” kata Gung Sabda. Meski begitu, ia mengakui tantangan tetap ada, mulai dari kelelahan hingga menghadapi pengunjung yang belum terbiasa dalam memilah sampah.
Sementara itu, Ketua Umum Komunitas Temanmu sekaligus Koordinator Waste Department Eling Ring Rasa Denfest 2025, Anak Agung Ngurah, menyebutkan volume sampah yang dihasilkan selama Denfest mencapai sekitar 3 – 4 ton. “Hari pertama lebih dari satu ton, hari kedua nambah sekitar satu setengah ton, hari ketiga hampir dua ton. Totalnya kurang lebih tiga sampai empat ton,” ungkapnya.
Sampah tersebut tidak langsung dibuang, melainkan diolah di lokasi festival. “Sampah organik kita olah untuk maggot, komposter, dan fasilitas pengolahan modern di Lapangan Puputan. Sedangkan anorganik seperti plastik dan botol sudah ada yang mengolah kembali,” jelasnya. Bahkan, tusuk sate dan sumpit bekas diproses menjadi lembaran kayu yang rencananya dijadikan meja dan kursi berlabel Denfest.
Dengan berakhirnya Denfest 2025, praktik pengelolaan sampah berbasis zero waste yang diterapkan selama festival menjadi pengalaman tersendiri bagi relawan dan pengunjung. Relawan program zero waste, Gung Sabda, berharap kebiasaan memilah sampah dapat diterapkan di berbagai kegiatan lain. “Semoga ke depannya, event-event lain, termasuk di sekolah, bisa menerapkan pemilahan sampah karena itu sangat penting,” harapnya. (gan/ags)

