Mengusung tema Mulat Sarira – Hening Jiwa, Eling Rasa, Denpasar Festival (Denfest) ke-18 Tahun 2025 ditetapkan sebagai percontohan Festival Zero Waste oleh Pemerintah Kota Denpasar sebagai wujud refleksi dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pemerintah Kota Denpasar menetapkan Denpasar Festival (Denfest) ke-18 Tahun 2025 sebagai percontohan Festival Zero Waste. Kebijakan ini menjadi bagian dari refleksi dan introspeksi Kota Denpasar dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi, budaya, dan kelestarian lingkungan.
Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengatakan Denfest ke-18 mengusung tema “Mulat Sarira – Hening Jiwa, Eling Rasa” yang bermakna introspeksi diri dan peningkatan kesadaran bersama. Tema tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari pengalaman Kota Denpasar menghadapi bencana banjir bandang yang sempat menimbulkan korban dan kerugian bagi masyarakat.
“Mulat Sarira itu bermakna introspeksi diri. Berdasarkan pengalaman banjir bandang yang menyebabkan ada korban dan rumah masyarakat rusak, sekarang kita introspeksi ke depan, apa yang harus kita lakukan secara maksimal sehingga itu tidak lagi menjadi beban masyarakat,” ujar Jaya Negara.
Sebagai wujud nyata dari refleksi tersebut, Pemkot Denpasar menerapkan konsep Zero Waste dalam pelaksanaan Denfest ke-18. Sebanyak 18 komunitas pemerhati lingkungan dilibatkan untuk membentuk waste department yang bertugas mengelola sampah langsung di lokasi festival. “Di Denfest ke-18 ini ada pemerhati lingkungan yang membuat waste department, ada tempat pengolahan sampah, ada press sampah plastik dan mesin pengolahan lainnya. Sampah yang dihasilkan selama event ini selesai di sini dan tidak perlu keluar lagi,” jelasnya.
Ia menambahkan, keterlibatan komunitas lingkungan ini dilandasi kepedulian terhadap isu persampahan yang semakin menjadi tantangan, termasuk rencana penutupan TPA. “Mereka ingin melakukan inovasi di hulu. Selama ini sampah event larinya ke belakang, sekarang kita lakukan pengolahan langsung di event Denfest ini. Mereka tidak hanya memberi inovasi, tapi juga bukti nyata kepedulian terhadap kebersihan Kota Denpasar,” katanya.
Sementara itu, relawan program Zero Waste, I Wayan Santi Adnyana, menjelaskan relawan berperan aktif mengedukasi pengunjung dalam memilah sampah. “Kami mengarahkan pengunjung untuk memilah sampah sesuai jenisnya. Di sini sudah tersedia tempat pemilahan dan kami dampingi agar sampah diletakkan di tempat yang benar,” tuturnya.
Menurut Santi Adnyana, respons pengunjung terhadap penerapan konsep Zero Waste cukup positif meski dihadapkan pada tantangan kepadatan pengunjung. “Secara umum masyarakat antusias dan mendukung. Tantangannya saat pengunjung berjubel, sementara relawan kami banyak adik-adik yang masih SMA dan SMP, jadi perlu ekstra koordinasi,” ungkapnya.
Ia berharap penerapan Zero Waste di Denfest dapat menjadi contoh bagi masyarakat. “Ketika sampah dipilah, sesungguhnya dia bermanfaat. Harapan kami metode ini bisa diterapkan di banjar-banjar, sehingga sampah tidak semuanya ke TPA dan Bali bisa menyelesaikan masalah sampahnya sendiri,” pungkasnya. (gan/dya)

