Malam sasih kesanga kembali ramai. Para warga bersorak antusias menyaksikan pawai ogoh-ogoh, seakan lupa dengan Omicron yang sedang mengintai. Akankah Bali aman setelah ini?
Pawai ogoh-ogoh kembali terlaksana di beberapa daerah setempat di Bali pada Rabu (2/2), setelah vakum dua tahun lamanya. Pawai ini terlaksana sebagai rangkaian hari Pengerupukan, yang jatuh tepat sehari sebelum Hari Raya Nyepi.
Pengerupukan tak hanya diwarnai oleh pawai ogoh-ogoh. Ada beberapa hal yang mesti dijalankan oleh Umat Hindu dalam rangkaian hari Pengerupukan, seperti menyebar nasi tawur dan melakukan prosesi mebuu-buu (mengobor-obori -red) rumah. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar, seperti yang tertulis dalam berita berjudul “Tradisi Ngerupuk di Bali” pada laman resmi pemerintah Kota Denpasar.
Berdasarkan Surat Edaran (SE) nomor 009/SE/MDA-Prov Bali/XII/2021, Majelis Desa Adat (MDA) mempersilahkan para warga Bali untuk menyemarakan pawai ogoh-ogoh beserta dengan 11 aturan yang patut ditaati. Salah satunya adalah kegiatan ogoh-ogoh yang hanya dapat dilakukan di sekitar area banjar adat dan dibatasi hingga pukul 20.00 WITA. Menurut Bendesa Agung MDA Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, alasan pengeluaran surat edaran tersebut merupakan bagian dari upaya untuk melindungi kreativitas generasi muda Bali di tengah pandemi.
Hal ini tentu menjadi topik hangat bagi warga Bali. Pasalnya, semenjak pandemi Covid-19 melanda, pawai ogoh-ogoh sudah dua tahun tidak terlaksana. I Gede Yogi Arya Sentana (16), salah satu pemuda Banjar Lebah, Desa Sumerta, mengaku merasakan euphoria Pengerupukan yang sama. “Walaupun pelaksanaan pawai ogoh-ogoh dibatasi untuk mencegah penyebaran kasus, keadaan ini tidak membuat semangat kami para pemuda dan pemudi turun. Kami tetap semangat sampai pawai selesai,” ujarnya saat dihubungi, Rabu (7/3).
Di lain sisi, pengakuan I Kadek Risky Artha Widnyana (16), seorang pemuda Banjar Buaji, Desa Penatih, menyatakan bahwa pelaksanaan pawai ogoh-ogoh di sekitaran Kota Denpasar masih jauh dari kata taat akan protokol kesehatan. “Saya melaksanakan pawai ogoh-ogoh di sekitaran daerah Penatih Dangin Puri dan Catur Muka Puputan, banyak sekali orang yang berkerumun saat menonton pawai ogoh-ogoh dan tidak menggunakan masker sama sekali,” tutur Risky saat diwawancarai via online.
Sama hal nya dengan apa yang terjadi di Bali bagian lainnya. Gianyar, tepatnya di Desa Batubulan, ribuan kepala bahkan memadati area pertigaan Celuk. Sebagian mengenakan masker. Namun sebagian besar lainnya tidak. Di malam Pengerupukan itu, riuh rendah pawai masyarakat Bali diintai oleh kasus Omicron.
Dikutip dari indobalinews, juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai saat dikonfirmasi Selasa 1 Maret 2022 menjelaskan, saat ini penularan virus Covid-19 di Kota Denpasar masih tergolong tinggi. Dibuktikan dengan data kasus positif Covid-19 di Bali per tanggal 1 Maret, yang menyentuh angka 152.939 kasus. Dan kini kembali melonjak, hingga menyentuh 154.144 kasus positif pada 7 Maret 2022 kemarin. Apakah klaster pawai ogoh-ogoh kemarin menjadi penyumbang utama?
Karenanya, Dewa Rai menghimbau masyarakat agar jangan sampai kendor menerapkan protokol kesehatan. "Kondisi ini harus menjadi perhatian kita bersama, tidak boleh kendor dalam menerapkan protokol kesehatan, karena jika lengah dan abai dengan prokes, tidak menutup kemungkinan kasus covid akan kembali meningkat, sehingga diperlukan kerjasama berbagai pihak serta seluruh lapisan masyarakat, kita harus terus waspada dan disiplin prokes," ujar Dewa Rai dalam wawancaranya, Selasa (1/3). (skr/cit)

