Oleh: Kanaka
Senioritas adalah suatu hal yang sudah biasa dan sudah banyak terjadi di hampir setiap sekolah di Indonesia. Menurut KBBI, senioritas adalah keadaan yang lebih tinggi dalam pangkat, pengalaman, dan usia. Dalam sebuah organisasi pasti terdapat senioritas di mana selalu ada senior dan junior. Seperti yang kita ketahui senior adalah seorang yang lebih besar atau lebih tinggi posisinya baik berdasarkan usia, pangkat ataupun jabatannya. Sementara junior adalah seorang yang usia atau jabatannya di bawah senior.
Adanya senioritas ini sering kali menjadi salah satu penyebab terjadi penindasan atau yang sering disebut dengan bullying. Berdasarkan dari data statistik Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), telah ditemukan begitu banyak kasus bulliying di Indonesia. Secara konsep, Bullying atau kekerasan di sekolah dapat diartikan sebagai bentuk agresi di mana terjadi ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku (Bully/bullies) dengan korban (victim). Pelaku pada umunya memiliki kekuatan/kekuasaan lebih besar dari korbannya. Pelaku bullying ini sendiri menggunakan senioritas dalam melancarkan aksinya. Senioritas juga bisa dikatakan sebagai fenomena "absurd" dengan tolak ukur yang bias, bahkan ngawur. Fenomena senioritas merupakan situasi di mana terjadi pemisahan kelompok secara sosial berdasarkan umur dalam lingkungan jenjang pendidikan. Yang lebih tua secara umur, mendapat lebelisasi secara otomatis sebagai "senior" yang jauh lebih muda adalah "junior" inilah pola dasar dari senioritas.
Lantas apakah yang ingin diwarisi oleh para senior ke juniornya? Kesombongan, keangkuhan atau “dendam masa lalu” Seorang senior selalu memiliki pemikiran bahwa dia berada di atas dari juniornya, memiliki hak atas juniornya sehingga dapat bertindak sesuai keinginannya. Di sinilah hal yang cenderung salah. Tindakan para senior yang harusnya diawasi. Memang tidak bisa dibantah bahwa senior berada di atas junior dan memiliki hak atas juniornya tapi tentu saja tindakan selalu ada batasnya. Tidak sepatutnya bertindak sesuka hati.
Wajar saja jika seorang senior menggunakan senioritasnya untuk menghukum para juniornya, jika memang mereka salah atau kita masih bisa memakluminya jika mereka hanya memberi tahu, hanya memberi tahu. Namun tetap saja mengatakan itu haruslah yang terbilang wajar, tidak memberatkan apalagi menyiksa junior. Tapi zaman berkembang terus, begitu juga dengan pola pikir anak zaman sekarang. Hukuman “aneh” yang bertemakan wajar tak jarang diberikan ketika junior melakukan kesalahan.
Kasus pembullyan bukan lagi hal yang asing oleh anak zaman sekarang. Bagi mereka itu adalah hal yang lumrah, bahkan mungkin wajib ada di dalam lingkungan. Berawal dari ketidakpatuhan junior kepada seniornya yang membuat konflik kecil. Di sanalah senioritas bekerja sama. Para senior yang merasa dibantah dan tidak hadir akan mulai menuntut banyak hal. Mulai dari yang masuk akal hingga yang di luar akal sehat. Tentu saja masih ada beberapa junior yang memiliki nyali, membantah dan menolak seniornya. Perlu diingat baik-baik bahwa senior yang selalu berada jauh dari juniornya dan merasa memiliki hak atas juniornya. Dengan hak senioritasnya, para senior dapat dengan mudah memulai aksi pembullyan hanya dengan konflik berlandaskan kecil yang tak berujung. Dari aksi pembullyan itu junior tidak lagi dapat menghindar,
Kasus bullying ini sangat berdampak bagi junior yang menjadi korban. Bukan hanya merasa tertekan mereka bisa mengalami gangguan psikologis berupa trauma atau sejenisnya. Korban akan mendapat tekanan mental dan fisik. Bahkan ini bisa saja membuat seorang junior di sekolah atau kampus jarang masuk kelas dan membolos karena trauma. Bahkan telah ditemukan kasus bunuh diri akibat di bully. Dari situ kita bisa lihat dampaknya sangat besar. Mengganggu mental si korban.
Selain itu, senioritas tidak hanya berdampak buruk bagi yang tertindas, senioritas juga berdampak buruk bagi orang yang menindas. Jiwa senioritas yang harusnya digunakan untuk hal yang membangun salah satunya seperti meningkatkan disiplin dengan memberi contoh yang baik kepada para juniornya malah disalahgunakan untuk menindas juniornya akan berdampak buruk untuk si penindas. Mengapa? Karena hal itu akan membuat dia menjadi seseorang yang “Gila Hormat” yang mana dapat berdampak buruk untuk masa depannya. Oleh karena itu, sebagai pelajar yang berakal maka kita harus menghindari dan memberantas yang namanya senioritas.
Dari segi pendidikan pun senioritas adalah salah satu hal yang menghambat kelancaran pendidikan di Indonesia. Pendidikan di Indonesia tidak dapat dikatakan baik jika masih ada saja yang namanya senioritas yang membuat kesenjangan antara siswa. Dibutuhkan koordinasi yang baik untuk bisa mewujudkan suatu sistem pendidikan yang layak antara siswa, guru, maupun pejabat pemerintah yang bersangkutan. Oleh karena itu, untuk mewujudkannya maka permasalahan ini harus segera diberantas.
Senior juga sering kali berlagak galak di depan juniornya agar ditakuti oleh juniornya. Berlagak galak kepada junior seharusnya sudah tidak relevan, di mana berlagak-galak kepada junior hanya menimbulkan dendam yang berkelanjutan dari generasi ke generasi. Sebagai siswa kita harusnya memberanikan diri dalam memperjuangkan hal yang benar, juga senantiasa memperjuangkan rakyat dan tentunya tak melupakan akademik. Menjadi senior yang memberi tauladan dalam bersikap galak menghadapi birokrasi sekolah yang tidak sesuai, yang mungkin perlu diterapkan dalam kehidupan siswa saat ini.
Masyarakat harus menyadari bahwa penindasan masih saja terjadi di sekolah-sekolah pada masa kini. Mungkin di sekolah guru tidak pernah menyaksikan secara langsung terjadinya penindasan, tetapi hal ini tidak menghentikan tindakan tersebut di lingkungan sekolah. Sama saja dengan orang tua, apakah Anda yakin kalau anak Anda sedang merasa aman dan baik-baik saja di sekolah?
Oleh karena itu kesadaran akan bullying harus ditingkatkan! Mulailah bertindak dan berbicaralah kepada anak-anak di sekitar Anda. Mulailah peduli dan bertemulah dengan guru-guru dan para pengurus sekolah agar penindasan yang kerap terjadi akhirnya dapat dihentikan. Tanpa keberanian untuk berbicara kepada siapapun, perubahan tidak akan dapat diperoleh dalam dunia ini. Marilah kita hentikan penindasan mulai dari sekarang! Hentikan generasi anak muda yang akan terus menderita oleh karena aksi bullying yang sekarang belum kita kendalikan sepenuhnya.
Seiring dengan berjalannya peristiwa-peristiwa senioritas semakin membabi buta, berebut untuk menjadi topik hangat di kalangan masyarakat hingga pemerintah sendiri ikut turun tangan menanganinya. Pemerintah tidak segan-segan mengurus hingga ke akar-akarnya kasus yang berkaitan dengan senioritas karena pada diri sendiri adalah salah satu cerminan bagi pendidikan Indonesia. Pemerintah melakukan berbagai hal untuk mencegahnya, salah satunya melakukan pengawasan kegiatan OSPEK di beberapa universitas, melakukan sosialisasi kepada senior-senior di beberapa universitas dan anak SMA yang akan memasuki masa perkuliahan. Hal itu sangat wajar dilakukan oleh pemerintah mengingat pola pikir anak zaman sekarang yang di luar dari akal sehat. Memang belum terjadi, tapi siapa yang akan menjamin bahwa hal tersebut tidak akan pernah terjadi? official zlibrary domain . Find free books Perlu diingat bahwa senioritas ini akan terus berlanjut dari zaman ke zaman mengingat adanya rasa dendam dari para junior yang menyebabkan siklus senioritas akan terus berlanjut mengiringi perubahan zaman. Dapat disangkal bahwa Indonesia telah melakukan tindakan terhadap senioritas yang dapat menyebabkan pendidikan di Indonesia gagal

