Di tengah badai pandemi, para peserta didik baru tak dapat langsung menginjakkan kaki di almamaternya. Tak dapat pula bersua dengan kawan baru. Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pun terpaksa dilakukan tanpa tatap muka.
Sebelum virus Sars-CoV-2 menerjang, MPLS sekaligus jadi ajang tuk merajut tali persahabatan dengan teman baru. Namun kini MPLS dilaksanakan dari jarak jauh, memanfaatkan kecanggihan teknologi yang telah tersedia. Semuanya dilakukan demi alasan keselamatan. Enggan memperburuk keadaan dengan menambah rentetan kasus COVID-19. Kendati begitu, bukan berarti sekolah tak melakukan persiapan sama sekali. “Untuk yang dipersiapkan MPLS tahun ini tidak banyak. Hanya video profil sekolah yang akan ditayangkan kepada calon siswa baru, buku panduan untuk calon siswa baru dan power point dari masing-masing ekstra yang akan kita tampilkan nanti untuk calon siswa baru,” papar Ni Putu Ari Puspita Dewi (17) selaku pengurus OSIS di SMAN 3 Denpasar.
Kondisi serupa juga terjadi di SMAN 1 Denpasar. Menurut Anak Agung Ayu Bintang Kesuma Dewi (16) salah satu pengurus OSIS SMAN 1 Denpasar, sekolahnya juga melaksanakan MPLS melalui daring dengan memanfaatkan aplikasi whatsapp juga zoom. “Untuk MPLS online ini pelaksanaannya cuma 3 hari saja. Jadwal acaranya juga sudah disusun dari pihak sekolah,” kata Bintang. Pembukaan MPLS pada Senin (13/7) mendatang akan diisi oleh video sambutan dari Gubernur Bali, I Wayan Koster. Selanjutnya, siswa baru akan diputarkan video profil sekolah yang berisi pengenalan lingkungan, sarana prasarana, guru/tenaga kependidikan, tata tertib, serta lagu mars SMAN 1 Denpasar. Lantas kegiatan MPLS di hari pertama akan ditutup dengan tanya jawab bersama siswa.
Sementara MPLS hari kedua di SMAN 1 Denpasar akan diisi dengan pemberian beberapa informasi penting mengenai narkoba, penanganan COVID-19, dan sanitasi sekolah. Lain halnya dengan kegiatan di hari terakhir MPLS, “Untuk hari ketiga diberikan informasi jadwal pembelajaran online dan informasi tentang prestasi sekolah dari alumni, OSIS, perangkat ekstra. Lalu penutupan MPLS,” jelas Bintang. Beberapa rangkaian acara tersebut harus disiappkan OSIS seminggu lamanya. “Kalau yang disiapkan OSIS itu testimoni prestasi, pengenalan ekstrakurikuler bersama perangkat-perangkat ekstra,” ucap Bintang. Persiapan yang tak bisa dilakukan secara langsung, tak ayal sempat membuat Bintang dan pengurus OSIS lainnya merasa kesulitan. “Hambatannya sih karena ini online jadi lebih rumit karena harus ngumpulin video pengenalan satu per satu dan lebih memakan waktu sih persiapannya karna nggak tatap muka,” aku Bintang.
Ayu Sitha Triana Dewi (15) salah satu peserta MPLS mengungkapkan bahwa dirinya merasa “Perasaan saya itu sedikit deg-degan bercampur senang. Deg-degan takut nerima banyak tugas gitu,” ucap Sitha. Berbeda dengan Sitha, Ni Made Mila Mahadewi (15) sedikit menyayangkaan tatkala harus MPLS melalui daring. “Karena MPLS kali ini online, saya merasa sedikit sedih karena tidak dapat bertemu dan kenalan dengan teman-teman secara langsung,”ungkap Mila. Kadek Metta Suradnyani (15) juga sependapat dengan Mila. “Sedikit keberatan karena MPLS online membuat kita kurang leluasa untuk berinteraksi dengan teman baru dan guru baru. Kita juga jadik tidak tahu langsung keadaan sekolah baru,” jelas Metta. Kendati begitu, Mila dan Metta paham betul bahwa ini semua bertujuan agar penyebaran virus SARS-CoV-2 tak meluas. “Di tengah situasi sekarang saya pikir ini adalah solusi terbaik agar kegiatan sekolah tetap berjalan,” ujar Mila (dyt/dis).

