Boleh jadi para lansia memiliki peluang lebih besar untuk terjangkit COVID-19. Kendati begitu, bukan berarti anak-anak dapat terbebas dari ancaman sepenuhnya. Di Bali, COVID-19 telah menginfeksi 109 anak.
Belum lagi pada awal Juni tepatnya Selasa (2/6), virus SARS-CoV-2 telah mengambil nyawa seorang anak berusia 12 tahun asal Desa Seronggah, Gianyar. Sementara Di Kota Denpasar sendiri semenjak bulan Mei, tercatat 18 anak terdiagnosa mengidap COVID-19. Tentunya kasus COVID-19 yang mengjangkiti anak-anak membuat orang tua menjadi lebih waspada.
Anak-anak umumnya begitu aktif, rasa ingin tahunya pun cukup tinggi. Lantas tiba-tiba badai pandemi datang dan mengharuskan semuanya berdiam diri di rumah masing-masing. Mungkin menghabiskan waktu seharian satu dua hari di rumah semudah membalikkan telapak tangan. Namun, bagaimana dengan tetap di rumah selama berbulan-bulan? Di tengah masa aktifnya, perlahan anak-anak pun akan dilanda kejenuhan. Selaras dengan yang diungkapkan I Made Nararya Dhananjaya (17). “Tentu merasa jenuh dan bosan di rumah,” aku Dhananjaya singkat. Hingga akhirnya Dhananjaya dan teman-temannya ingin mendaki. Ketika dirinya meminta izin kepada sang ibu sontak saja ibunya melarang. “De (jangan -red) nu (masih -red) COVID-19,” tegas Ni Wayan Suartini. Sadar akan bahayanya, meski merasa kecewa Dhananjaya akhirnya tetap menurut. “Aku juga udah berpikir sama teman. Gabut sama nekat itu beda. Nggak apa-apa daripada ngendah (aneh-aneh –red). Mendaki kan bisa kapan saja, sama siapa saja,” jelas Dhananjaya menyadari kesalahannya.
Berbeda cerita dengan Ni Made Mila Mahadewi (15). Mila terkadang bepergian untuk sekadar membeli makan atau membeli keperluan rumah lainnya. Walau berpegian hanya sebentar, Mila tetap merasa waswas. “Iya khawatir karena kita tidak tahu apakah orang-orang disekitar kita itu pernah kontak dengan pasien COVID-19 atau nggak,” kata Mila. Ayah Mila, I Made Arie Wahyudi (45) pun merasa khawatir tatkala anaknya tengah berada di luar rumah. “Tentu saja rasa khawatir itu ada, namun selalu diingatkan untuk melakukan protokol kesehatan,” kata Arie Wahyudi. Kendati merasa waspada, Arie Wahyudi tak pernah melarang buah hatinya untuk keluar rumah. “Karena mereka keluar rumah sudah menggunakan standar dan prosedur protokol kesehatan dan mereka merespon baik hal tersebut,” ucap Arie Wahyudi. Mendengar kasus anak-anak yang terjangkit COVID-19, Arie Wahyudi merasa prihatin. Baginya itu dapat terjadi akibat “Kurangnya pemahaman serta pengawasan dari orang tua, akhirnya anak-anak mereka yang terdampak,” ungkap Arie Wahyudi.
Sepemahaman dengan Arie Wahyudi, Ni Komang Yuliani (46) juga merasa terdapat kemungkinan orang tua kurang paham mengenai protokol kesehatan serta kurang mengawasi anak-anaknya. Buah hati Yuliani sendiri, I Made Evan Freddiana Putra (15) masih kerap pergi ke luar rumah. “Bosan, tapi udah dapat izin buat pergi, respon awalnya marah tapi disuruh makek masker dan usahakan pulang cepat dan selalu mencuci tangan setelah berpergian,” ucap Evan. Yuliani pun mengakui hal tersebut “Saya tetap mengingatkan anak pakai masker, membawa hand sanitizer, jaga jarak, dan sampai di rumah cuci tangan. Terkadang saya melarang anak keluar rumah. Saya tekankan kepada si anak kalau tidak perlu sekali jangan keluar. Kalau memang ada perlu apa yang dicari keluar saya tidak beri waktu lama keluar. Harus segera pulang dan anak juga sudah mulai mengerti situasi diluar,” papar Yuliani. Di tengah berbagai cobaan badai pandemi, para orang tua juga diselimuti kekhawatiran terhadap sang buah hati.
Berdasarkan pantauan Tim Madyapadma pada Rabu (01/07) di beberapa jalan protokol terlihat ramai. Seperti di Jl. Teuku Umar, Jl. Raya Renon, Jl. W.R. Supratman, Jl. Suli, Jl. Nangka, Jl. Kepundung, Jl. Sudirman, dan Jl. Gatot Subroto Timur terpantau ramai oleh kendaraan. Jalan protokol Patimura bahkan disesaki oleh pengendara, sehingga menimbulkan kemacetan. Beberapa restoran cepat saji di daerah Gatot Subroto terlihat sudah kembali membuka layanan makan ditempat. Bahkan mall dan toko di daerah Teuku Umar juga sudah beroperasi secara normal, namun tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat. Sementara itu di Jl. Wijaya Kusuma, Jl. Drupadi, Jl. Cekomaria, Jl. Dukuh, Jl. Patih Nambi, Jl. Pucuk 1, dan Jl. Turi Gg. Beji tidak terlihat banyak kendaraan yang berlalu lalang, malah sebagian terlihat sepi dari pengendara, namun gerai - gerai masih beroperasi dengan normal. Tak jauh berbeda, lapangan Renon yang biasanya menjadi destinasi utama saat ingin berolahraga kini sepi pengunjung, berbeda dengan Lapangan Puputan yang masih terlihat aktivitas warganya
penulis: dyt/dis
reporter: Tim Madyapadma
fotografer: dis

