Saat ini serangan COVID-19 makin ganas dan tak pandang bulu. Tak hanya banyak menyerang penduduk paruh baya, kini COVID-19 juga menyerang anak-anak. Lantas, bagaimanakah persepsi remaja Denpasar terhadap kasus COVID-19 yang menjangkiti anak?
Virus SARS-CoV-2 seolah tak miliki batasan tenaga. Sampai saat ini COVID-19 enggan pantang gencarkan serangan. Segala usia dijadikan target, tak peduli tua maupun muda. Seperti halnya kondisi di Kota Denpasar, tercatat 17 anak telah terjangkit COVID-19. Kasus pertama di Denpasar bermula dari seorang anak berusia tiga tahun asal Desa Dangun Puri Kelod terjangkit COVID-19 karena tertular oleh ayahnya (12/5). Kemudian, belum lewat seminggu pada (20/5) terkonfirmasi anak berumur 10 tahun di kesiman terjangkit COVID-19 sesaat setelah ibunya dikonfirmasi sebagai pasien positif. Lagi-lagi, empat hari setelahnya kembali mucul kasus COVID-19 yang menjangkiti dua orang balita di Sanur Kauh akibat kontak dengan sang ibu. Masing-masing berumur 2 (dua) tahun, sementara satunya merupakan anak usia 4 (empat) tahun.
Di awal Juni tepatnya pada (5/6), dua orang anak berusia 4 (empat) tahun dan seorang anak berusia 10 tahun mengidap COVID-19 sebab ditularkan oleh ibunya yang bekerja sebagai dokter umum di RSUP Sanglah. Lantas, pada (16/6) Denpasar diterjang dua kasus virus SARS-CoV-2 yang menjangkiti 4 (empat) orang anak sekaligus. Sama-sama berlokasi di Desa Tegal Kertha, kasus pertama menjangkiti dua orang anak berumur 5 (lima) dan 7 (tujuh) tahun yang tertular oleh neneknya yang berdagang di Pasar Kumbasari. Kasus anak lainnya terjangkit akibat ibunya yang berdagang ikan di Pasar Kumbasari. Buah hatinya itu berumur 7 (tujuh) tahun dan 10 tahun. Kasus berikutnya berada di Desa Pemecutan Kaja pada (21/6). Pada hari itu, terdapat dua kasus dimana kasus pertama menjangkiti anak berusia 11 tahun karena sempat kontak dengan pedagang ikan Pasar Kumbasari. Kasus kedua yakni anak berumur 12 tahun ditularkan oleh tetangga yang membuka warung di depan rumahnya. Tak cukup sampai disitu, pada (18/6) di Kelurahan Padangsambian tercatat 5 orang anak tertular COVID-19 akibat ibunya yang berdagang ikan di Pasar Kumbasari. Rinciannya yakni, tiga diantaranya berusia 11 tahun, sisanya berusia 10 tahun dan 5 (lima) tahun.
Banyaknya kasus COVID-19 yang turut mengancam keselamatan anak-anak, tak ayal membuat remaja Denpasar kian diselimuti kekhawatiran. Hal tersebut terungkap dari hasil polling pada Senin (29/6) yang dilaksanakan Madyapadma kepada 100 remaja Denpasar dengan rentang usia 13 hingga 20 tahun. Dimana 7% merupakan siswa SMP, mayoritas 71% diisi oleh siswa SMA serta 12% merupakan mahasiswa perguruan tinggi. Jenis kelamin yang mengisi ialah 62% perempuan dan 38% laki-laki. Polling dijalankan menggunakan google form dengan metode acak sederhana. Para responden membagikan pandangannya dengan mengisi kuisioner di google form. Sesuai hasil polling 74% remaja merasa khawatir dan akan berpikir dua kali jika hendak pergi ke luar rumah. “Gelisah sama takut pastinya kalau mau ke luar. Soalnya kan ada anak remaja berstatus OTG, apabila kontak kemungkinan terkena COVID-19 jadi lebih tinggi,” kata Ni Wayan Camani Chintya Dewi (17). Berbeda dengan pandangan Camani, meski merasa khawatir 20% responden tetap memilih untuk berpergian. Sementara minoritas responden yakni 6% responden tidak ambil pusing mengenai masalah tersebut. Seperti halnya Ni Ketut Omni Kanya Anindya Uttami (16) yang enggan untuk terlalu memikirkan kasus COVID-19 pada anak. Bagi gadis asal Sanur tersebut, “Takut sih iya, tapi gak terlalu mikirin banget. Soalnya saya juga jarang keluar rumah jadi gak ada alasan untuk terlalu takut,” aku Kanya.
Meskipun sebagian besar kasus COVID-19 yang menimpa anak terpapar dari lingkungan keluarganya, namun bukan berarti anak-anak akan aman dari jangkauan virus SARS-CoV-2 jika masih kerap melancong di tengah badai pandemi. 53% responden sangat menyutujui pernyataan tersebut. “Semakin banyak orang rumah yang keluar semakin besar peluang anggota rumah terpapar virusnya itu. Soalnya kan kita gatau orang rumah yang baru datang dari luar itu ngapain aja, misalnya mereka sampe rumah lupa cuci tangan/bersihin diri trus langsung interaksi sama kita atau megang benda dirumah ya walaupun keliatannya nggak kenapa tapi kan waswas juga. Apalagi ada orang yang udah positif tanpa gejala,” jelas Ni Putu Nanda Putri Suryantari (17). Lantas, 40% remaja Denpasar setuju jika terlalu sering keluar rumah boleh jadi memperbesar peluang terjangkitnya COVID-19 pada anak. Di sisi lain, 3% responden tak sejalan dengan pendapat tersebut. Sisanya sebanyak 4% enggan menjawab.
Kendati mayoritas responden merasa peluang terjangkitnya COVID-19 akan kian meningkat jika acap kali berpelesir, namun remaja merasa tak bisa terus menerus berdiam diri di rumah entah karena ada keperluan yang harus dibeli ke luar rumah ataupun hal lainnya. Seperti Kanya yang terkadang masih bepergian “Saya hanya pergi jika ada keperluan yang mendesak, seperti belanja bulanan, pergi ke bank, sembahyang. Kalau pergi nongkrong-nongkrong atau sepedaan ramai-ramai enggak sih,” ucap Kanya. 86% responden juga tetap pergi jika ada keperluan mendesak. Lain hal dengan 6% remaja yang mengaku sering kali bepergian ke luar rumah. Seperti I Made Angga Devananda (17) yang mulai dilanda kejenuhan. “Bosan tahu. Jadinya aku pergi buat nongkrong sama teman, main layangan, sepedaan. Tapi kalau keluar pasti selalu pakai masker sama bawa handsanitizer. Biar tetap aman,” aku Devananda. Berbanding terbalik dengan Devananda, 8% responden mengaku tidak pernah ke luar rumah.
Di tengah serangan COVID-19 yang bertubi-tubi ini, satu dua remaja terkadang tak mengindahkan anjuran-anjuran yang telah ditentukan. Masih ada saja remaja yang ramai-ramai berkumpul bersama kawannya. Kondisi tersebut membuat 38% remaja menggelengkan kepala, tak setuju dengan tindakan yang dilakukan segelintir remaja tersebut. “Kita kan tidak tahu apakah orang tersebut sehat atau terjangkit COVID-19. Dengan berkumpul saat situasi ini juga dapat memperbesar bertambahnya kasus COVID-19. Kondisi di luar rumah juga sangat rentan. Apalagi tindakan seperti ini tidak sesuai dengan protokol kesehatan salah satunya social distancing,” jelas Ida Ayu Nadia Reisa (17). Berbeda dengan Nadia, 61% responden tidak terlalu mempersalahkan hal tersebut yang penting remaja-remaja yang berkumpul itu tetap memperhatikan protokol kesehatan. Di sisi lain, 1% responden menganggap kegiatan kumpul-kumpul remaja selama pandemi merupakan hal biasa.
Berdasarkan pantauan Tim Madyapadma pada Senin (29/06) suasana berbeda terlihat di Jl. Meduri Gg. 1 sepi dari pengendara yang berlalu lalang, karena adanya rapid test yang dilakukan di gang tersebut. Hal yang sama juga terlihat di Jl. A. Yani, Jl. Kaswari, Jl. Patih Nambi dan Jl. Jayagiri, arus lalu lintas terlihat sepi dari pengendara. Kendati sepi dari pengendara, warung - warung kecil masih tetap membuka gerainya. Sementara di jalan- jalan protokol seperti Jl. Kerta Dalem Sari IV, Jl. By Pass I Gusti Ngurah Rai, Jl. Danau Buyan, Jl. Hangtuah, Jl. Raya Puputan, Jl. Diponegoro, Jl. Gunung Agung, Jl. Gajah Mada, Jl. Gunung Subur, Jl. Imam Bonjol, Jl. Mahendradata, Jl. Teuku Umar Barat, Jl. W.R. Supratman, Jl. Nangka, Jl. Kebo Iwa, Jl. Kertanegara dan Jl. Kecubung terlihat ramai oleh aktivitas warga dan pengendara. Beberapa warga memanfaatkan kesempatan untuk membuka gerai menggunakan mobil pribadi untuk berjualan buah dan masker. Jl. Veteran terlihat ramai, beberapa pedagang kecil mulai membuka gerainya kembali. Lapangan Renon juga terlihat ramai oleh beberapa warga yang berolahraga. Sedangkan di Jl. Ratna, Jl. Wijaya Kusuma dan Jl. Hayam Wuruk hanya beberapa kendaraan yang terlihat berlalu lalang.
penulis: dyt/dis
reporter: Tim Madyapadma

