Virus SARS-CoV-2 rupanya masih enggan kibarkan bendera putih tanda perdamaian. Pasalnya hingga kini tercatat 23 tenaga kesehatan yang terjangkit dan harus bangkit melawan. Terjangkitnya para tenaga kesehatan, tentunya meningkatkan kewaspadaan masyarakat yang hendak berobat ke pusat kesehatan.
I Putu Pranadea Vidya Sagara (16) dibuat terbelalak kaget tatkala jemari lihainya menulusuri situs-situs web untuk mengikuti perkembangan kasus COVID-19. Kabar tenaga medis yang terpapar COVID-19 membuat laki-laki berperawakan tinggi itu bergidik ngeri sekaligus prihatin. Masalahnya bukan hanya satu atau dua tenaga medis yang dinyatakan positif COVID-19, melainkan hingga Jumat (26/6) telah terdapat 23 tenaga medis di Denpasar yang terjangkit COVID-19 di tempatnya bertugas. Seperti pada Kamis (18/6) lalu, RS Umum Dharma Yadnya dihantam kabar mengejutkan, pasalnya seorang tenaga medis terdiagnosa mengidap COVID-19. Hal tersebut tentunya menambah catatan kasus tenaga medis yang terjangkit COVID-19 tatkala mengemban tugasnya. Sontak saja, pihak RS Umum Dharma Yadnya mengambil langkah untuk mengantisipasi penyebaran rantai COVID-19 semakin meluas. “Melakukan tracing, melaporkan ke dinas kesehatan kota dan provinsi, melakukan isolasi mandiri, melakukan rapid test bila reaktif lanjut ke swab PCR,” papar dr. I.G.N. Agung Anom, MARS direktur RS Umum Dharma Yadnya menyebutkan langkah-langkah yang diambil rumah sakit kala itu. Untuk mencegah kasus yang sama terulang kembali, dr. Agung Anom menjelaskan di tengah badai pandemi ini, RS Umum Dharma Yadnya kian memperketat kebijakan yang ada. “Tingkatkan screening. Naikkan level APD setingkat lebih tinggi dari standard,” ujar dr. Agung Anom.
Gempuran badai pandemi yang begitu kuat membuat Pranadea merasa, “Saya sangat prihatin dengan kondisi mereka. Mengingat bahwa tenaga medis merupakan garda terdepan dalam menghadapi situasi pandemi ini, mereka rela menahan lapar, haus, buang air, hingga istirahat demi mengobati para pasien yang sudah terinfeksi virus,” sesal Pranadea. Pranadea begitu menyayangkan keadaan tenaga medis yang terinfeksi virus SARS-CoV-2 ketika mereka sedang bertugas. “Dampaknya tentu akan sangat membahayakan apabila terjadi kondisi dimana kita kekurangan tenaga medis yang sanggup bertugas mengobati pasien, baik itu pasien COVID-19 ataupun bukan,” tambah Pranadea yang berkulit sawo matang.
Menurut Pranadea, maraknya kasus tenaga kesehatan yang turut terjangkit COVID-19 diakibatkan persediaan sarana prasarana untuk perlindungan diri tenaga medis masih belum memadai. Sejalan dengan pandangan Pranadea, Ni Wayan Dewi Lestari (18) turut membagikan pendapatnya “APD yang digunakan kurang mampu untuk melindungi diri dari virus tersebut. Terdapat juga kemungkinan tenaga kesehatan kurang hati-hati dalam melaksanakan tugasnya,” kata Dewi Lestari. dr. Komang Mira Astuti, salah satu dokter klinik swasta di daerah Seminyak pun mengakui minimnya ketersediaan APD bagi para tenaga medis. “Variatifnya gejala COVID-19 membuat tenaga medis harus sangat waspada. APD harus kita pakai. Tetapi salah satu masalahnya yaitu APDnya yang langka. Bahan bangku langka, APD sudah mulai naik harganya. Semua tenaga medis memerlukannya. Ini mendorong ketersediaan APD menjadi langka. Itulah kendala kami saat ini,” ungkap dr. Mira Astuti.
Menjalani tugas selaku garda terdepan, membuat tenaga kesehatan sangat rentan terinfeksi virus SARS CoV-2 penyebab penyakit COVID-19. Menyadari hal tersebut, menurut Galuh Kinasih (17) “Tenaga medis banyak terjangkit COVID-19 saat bertugas di rumah sakit diakibatkan oleh ketidakjujuran pasien tentang kondisi kesehatan pasien tersebut sehingga mereka tidak masuk dalam kategori PDP/ODP yang apabila dikatakan secara jujur akan dapat mempercepat tenaga medis dalam penanganan dan penularan dapat diputus,” jelas Galuh. Kerjasama semua pihak sangat diperlukan untuk memutus rantai penyebaran COVID-19 ini. “Jadi tolong kalian semua bantu kami (para tenaga medis –red) untuk melakukan pencegahan COVID-19,” pesan dr. Mira Astuti di akhir wawancara.
Dalam pantauan Tim Madyapadma pada Jumat (26/06) terlihat di beberapa ruas jalan hanya beberapa pengendara yang terlihat berlalu lalang, seperti yang terpantau di Jl. Turi, dan Jl. Padma. Tampaknya kewaspadaan masyarakat masih tinggi, sehingga masih bertahan untuk tinggal di rumah. Sementara itu di Jl. Gatsu Timur, Jl. Gatsu Tengah, Jl. W.R. Supratman, Jl. Kenyeri, Jl. Wahidin, Jl. Setia Budi, dan Jl. Sekar Tanjung VIII aktivitas warga sudah berjalan dengan normal dan lalu lintas sudah kembali ramai, bahkan beberapa memutuskan untuk berolahraga di sekitar ruas jalan. Sedangkan di Jl. Wijaya Kusuma, Jl. Kenyeri Gg. Kemuning dan Jl. Kenyeri Gg. Rampai nampak sepi dari kendaraan yang berlalu lalang.

