Di tengah badai COVID-19, para tenaga kesehatan mesti bertahan. Terang-terangan menantang virus SARS-CoV-2 demi menyembuhkan pasien-pasiennya. Hingga perlahan satu demi satu tenaga kesehatan berjatuhan. Rumah Sakit tempat pasien COVID-19 menggantung nasib, malah jadi bumerang bagi tenaga medis.
Serangan virus yang satu ini masih membabi buta, tak pandang bulu menginfeksi masyarakat. Tak ayal, para tenaga kesehatan Kota Denpasar yang miliki niat mulia pun turut terkena imbasnya. Kabar-kabar tenaga kesehatan yang terjangkit COVID-19 mulai berkeliaran di mesin pencari. Diawali oleh seorang dokter di sekitaran Denpasar yang terdiagnosa mengidap COVID-19 (13/5). Lantas menyusul, pada Minggu (17/6) seorang bidan dikabarkan terpapar COVID-19 di Puskesmas Denpasar Selatan. Berikutnya pada Selasa (19/5) seorang staf administrasi laboratorium mikrobiologi di Sanglah dinyatakan menjadi pasien positif. Masih bertempat di Rumah Sakit Sanglah, pada Kamis (21/5) seorang dokter juga tercatat positif COVID-19. Pada Jumat (29/5) seorang bidan di salah satu Rumah Sakit Swasta Denpasar dikabarkan mengidap COVID-19. Lagi-lagi di penghujung bulan Mei (31/5) seorang dokter kembali menambah rentetan daftar tenaga kesehatan yang terpapar COVID-19.
Belum berhenti sampai disana, sejauh ini pada bulan Juni telah tercatat 10 tenaga kesehatan positif COVID-19. Pada Selasa (2/6) berita menggemparkan berhembus di Denpasar. Pasalnya 4 (empat) dokter di RS Sanglah mengidap COVID-19. Keesokan harinya, Rabu (3/6) RS Sanglah kembali menerima berita buruk. COVID-19 menjangkit 3 (tiga) dokter sekaligus. Setelah tenang selama beberapa hari, virus yang satu ini kembali menyerang seorang dokter di RS Dharma Yadnya (14/6). Tiga hari kemudian (17/6) kasus lainnya hadir dengan menginfeksi 2 (dua) orang perawat di RS Dharma Yadnya.
Banyaknya kasus tenaga medis yang turut jadi incaran COVID-19 belakangan ini, rupanya berhasil memusatkan perhatian publik tak terkecuali para remaja. Melihat hal itu, Rabu (24/6) tim Madyapadma melaksanakan survei kapada 100 remaja Kota Denpasar. Melalui google form, Madyapadma menerapkan metode acak sederhana. Dimana karakteristik responden berjenis kelamin perempuan sebanyak 72%. Sementara, responden laki-laki jumlahnya 28%. Rentang usia responden berkisar antara 14 tahun hingga 20 tahun. Di samping itu, mayoritas responden dipenuhi siswa SMA 87% dan sisanya yakni 9% merupakan siswa SMP serta 4% mahasiswa perguruan tinggi. Hasil polling menunjukkan 61% tidak pernah pergi ke Rumah Sakit selama pandemi. Lain hal dengan 22% responden yang sempat mengunjungi Rumah Sakit entah karena berobat ataupun menjenguk kerabatnya yang tergolek sakit. Sebanyak 8% mengaku tidak pernah sekali pun menghirup udara luar selama masa COVID-19. 1% responden lainnya mengaku kerap kali pergi ke pusat pengobatan.
Menengok kondisi pusat pengobatan yang kian disesaki pasien positif COVID-19 bahkan terdapat tenaga kesehatan ikut terjangkit, membuat beberapa remaja Denpasar dihantui rasa takut apabila meski berkunjung ke tempat berobat. Seperti yang diungkapkan I Gusti Putu Dian Indrawati (17) yang benaknya kini diselimuti rasa waswas. Bagi Dian saat ini pusat-pusat pengobatan bukanlah tempat yang aman untuknya, sebab “Kalau di rumah sakit kemungkinan kita terkena COVID-19 jadi lebih rentan,” ujar Dian. Sepaham dengan Dian, Ni Ketut Septarini (17) turut membagikan pandangannya. “Sekarang di rumah sakit ada saja yang terinfeksi COVID-19 dan secara fisik orang yang terinfeksi kadang nggak ada perbedaan gitu. Misalnya pas kita lagi berobat terus nggak sengaja bersentuhan sama orang yang terinfeksi dan kita nggak tahu, otomatis kita pulang bawa virus dan menyebar lagi ke keluarga. Terus keluarga berinteraksi sama orang lain, tersebar lagi, gitu seterusnya,” kata Septarini menjelaskan mengapa pusat pengobatan jadi tempat yang menakutkan baginya. Bersama Dian dan Septarini, 21% responden juga merasa tak aman jika harus pergi ke pusat pengobatan. Sebagian kecil remaja Denpasar, 2% menganggap meski tengah diterjang badai pandemi, pusat pengobatan tetap menjadi tempat yang aman dan tidak menimbulkan rasa khawatir sedikit pun. Di sisi lain, mayoritas responden sebesar 63% tetap merasa aman namun tetap khawatir dan waspada jika harus berobat ke pusat pengobatan saat pandemi. “Tetap aman, hanya saja kita harus tetap memperhatikan protokol kesehatan. Seperti cuci tangan, menggunakan masker, jaga jarak dan sesampai dirumah langsung mengganti baju kemudian mandi dan juga menerapkan hidup pola sehat,” ungkap Ni Kadek Prema Chitta Maheshwari (17). Sementara responden lainnya sejumlah 14% memilih tak menjawab.
Selain itu, menurut Prema interaksi yang terjadi antara tenaga medis dengan pasien yang berobat memungkikan adanya penyebaran COVID-19. “Para tenaga medis setiap harinya menemui dan memeriksa banyak pasien yang tidak diketahui terjangkit COVID-19 atau tidak, sehingga bisa saja para tenaga medis menjadi perantara penyebaran,” papar Prema. Tampaknya 63% responden juga berpandangan apabila interaksi yang terjadi di pusat pengobatan merupakan hal yang rentan. Angka yang tergolong tak sedikit, yaitu sebanyak 32% merasa interaksi antara tenaga medis dengan pasien yang berobat merupakan hal yang sangat rentan. Berbeda dengan 5% responden yang kurang setuju dengan pernyataan tersebut. Setelah mendengar kabar rentetan kasus tenaga medis yang terinfeksi COVID-19, 98% responden berpikir bahwa kejujuran masyarakat ketika berobat ke pusat pengobatan menjadi salah satu hal penting dalam upaya mencegah penularan COVID-19. Namun, segilintir orang yakni sebanyak 2% merasa ragu akan hal tersebut.
Berdasarkan pantauan Tim Madyapadma pada Rabu (24/06), beberapa jalan terpantau ramai oleh kendaraan. Seperti yang terlihat pada Jl. Raya Puputan dan Jl. W.R. Supratman para pengendara terlihat berlalu lalang seperti sebelum PKM diberlakukan di Denpasar. Keramaian lalu lintas juga tampak di Jl. Gunung Agung, Jl. Gunung Salak, Jl. Mahendradata, Jl. Gatot Subroto, Jl. Teuku Umar, Jl. Cokroaminoto, Jl. Subur dan Jl. Kargo Permai .Hal serupa juga terlihat di Jl. Noja Perumahan Citramas dan Jl. Pakisaji beberapa kendaraan terlihat berlalu lalang, bahkan masyarakat sudah melakukan aktivitas seperti biasa dengan protokol kesehatan yang dianjurkan. Sedangkan di Jl.Turi Gg. Beji terlihat sepi dari pengendara yang melintas. Begitu pula di Jl. Dukuh, walaupun tidak banyak pengendara yang melintas, tetapi terlihat beberapa aktivitas pedagang dan pegawai di sekitar gudang minuman.
penulis: dyt/dis
reporter: Tim Madyapadma
diagram: yan

