Dari genggaman ponsel pintar miliknya, Komang Apriyandika Putra (17) berhasil dibikin kenyang menyantap kabar terkini dari media-media ternama di Bali. Nyaris setiap hari di awal Juni, nama Pasar Kumbasari terselip dan dicetak besar di berbagai judul berita. Tak heran, bila hal itu jadi nutrisi tumbuh kembang kegelisahannya yang membengkak dari waktu ke waktu.
Saban hari, Apriyandika Putra memang telah kerap bertukar kabar dengan orang tuanya yang terikat pada Pasar Kumbasari. Laki-laki asal Gianyar itu, tahu betul orang tuanya tengah mengadu nasib di sarang bekas COVID-19. Atau boleh jadi masih ada yang tersisa. Setelah sebelumnya, sebanyak 22 pedagang didiagnosa positif COVID-19. Pada, Selasa (16/6), lagi-lagi kasus COVID-19 terbit dengan menggandeng nama Kumbasari. Saat itu, bukan para pedagang yang tertimpa dan menyedot perhatian kesekian kalinya. Melainkan 5 (lima) anggota keluarga dari salah satu pedagang Pasar Kumbasari yang dinyatakan positif tertular COVID-19.
Esok harinya, Apriyandika Putra, kembali menemukan kasus serupa. Bahkan lebih kuat mengguncangnya. Diantara 30 kasus transmisi lokal di Denpasar yang telah dipublikasikan pemerintah, sebanyak 10 orang memiliki satu darah yang sama dengan seorang pedagang canang Pasar Kumbasari yang lebih dulu dirawat. 7 (tujuh) kasus lainnya juga tertular dari pedagang ikan Pasar Kumbasari. 5 (lima) orang merupakan sanak saudarannya dan 2 (dua) sisanya menyebar ke tetangganya di Desa Pemecutan Kelod.
Seakan belum puas mengoyak Kumbasari, kabar pada Kamis (18/6) mengkonfirmasi bila 22 dari 36 tambahan pasien positif COVID-19, terjangkit akibat sempat kontak dengan pedagang di Pasar Kumbasari. Atas segala kasus transmisi lokal beruntun dari sumbangan Pasar Kumbasari itu, bagaimana Apriyandika Putra tak cemas dibuatnya?
“Pastinya saya dan orang tua kaget, karena di pasar ada positif COVID-19. Tetapi kita langsung waspada dengan cara menggunakan masker, selalu mencuci tangan, social distancing, dan orang tua saya selalu memberitahu jangan lama-lama berada di pasar,” ungkap laki-laki berperawakan tinggi itu. Tidak hanya mengkhawatirkan kondisi kesehatan, pasar tradisional yang kini menjadi episentrum penyebaran COVID-19, secara tak langsung juga merapuhkan ekonomi keluarganya. Pembatasan operasi pasar yang diterapkan, pula membatasi pendapatan harian. “Jam buka pasar tidak seperti dulu lagi. Dulu jam pasar dari jam 16.30 – 00.00. Tapi sekarang, dari jam 16.30 – 21.00. Dampaknya penghasilan berkurang, ditambah dengan sedikitnya pengunjung pasar,” tutur Apriyandika Putra.
Nasib pedagang pasar tradisional kini memang bak memakan buah simalakama. Bila berhenti berdagang, nantinya tak bawa uang pulang. Namun, gigih berdagang, boleh jadi COVID-19 yang diboyong pulang. “Mungkin saya hanya bisa memberikan dukungan dan semangat kepada orang tua saya, agar tabah dan sabar menghadapi kondisi ini. Juga saya selalu berharap agar orang tua saya tetap sehat,” harap Apriyandika Putra.
Di sisi lainnya, Ni Made Mutia Pradnyawani (16) juga terjebak dalam kegelisahan yang sama. Ibunya, Ni Luh Yeni (45) telah berjualan ayam di Pasar Badung selama 17 tahun. Hingga kabar sepasang suami istri, pedagang Pasar Badung yang terkonfirmasi positif COVID-19, tak membuat ibu dua anak ini menggulung tikarnya. Sejujurnya Luh Yeni khawatir dan takut terjangkit, namun ekonomi keluarganya menjerit minta ditopang. “Sekarang pembeli lebih sedikit yang datang, tentu penghasilan saya jadi menurun,” ujar Luh Yeni. Melihat kondisi ekonomi keluarganya yang meredup, Mutia Pradnyawangi sebagai bungsu dalam keluarga itu, tak dapat membantu banyak. Beberapa kali siswa SMAN 3 Denpasar itu, sempat mendesak sang ibu, untuk ditemani berjualan, tetapi, “Nggak dikasi sama orang tua saya,” kata Mutia Pradnyawangi.
Masih tak jauh berbeda, Ni Nyoman Gauri Krisma Sangkari (17) pun turut membagikan keluh kesahnya. Sebelum pandemi menyerang, tak sekali pun Gauri merasakan dagangan orang tuanya sepi pembeli. Namun manakala COVID-19 menggemparkan dunia, dewi fortuna seakan menjauh dari keluarganya. Awalnya barang dagangan orang tua Gauri laku keras, mulai dari ibu rumah tangga, catering-catering, rumah makan, bahkan hotel-hotel pun mempercayakan urusan bumbu pelengkap makanan pada orang tua Gauri. Akan tetapi, dalam jentikan jari usaha orangtua Gauri seakan berada di ujung tanduk. “Penurunan paling drastis itu di kalangan suplier hotel dan restaurant yang bergerak dibidang pariwisata. Mengingat adanya COVID-19 membuat tidak adanya akses masuk bagi wisatawan sehingga per-operasian hotel, penginapan, villa maupun restaurant di sekitarnya harus ditutup sehingga mempengaruhi keadaan pasar dan penurunan jumlah omset pedagang,” tutur Gauri.
Belum lagi kondisi di Pasar Badung kian membuat Gauri waswas. “Tapi kalau tutup juga mau makan apa? Semua tagihan dan kebutuhan setiap hari harus terus berjalan. Jadi ya harus tetap bertahan,” jelas gadis berambut panjang tersebut. Kondisi seperti ini tak membuat Gauri hilang akal, mengandalkan kemajuan teknologi, gadis asal Denpasar itu memutuskan untuk membantu orang tuanya dengan menjual produk mereka via whatsapp layaknya online store lain. “Mengingat customers yang pasti takut keluar rumah tapi tetap harus memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya sebagai yang lebih mengerti pemasaran online membantu dengan cara memasarkan produk-produk secara online,” ucap Gauri.
Berdasarkan pemantauan tim Madyapadma online, pada Jumat (19/6) arus lalu lintas di Jl Ahmad Yani Utara dan Jl Cokroaminoto terbilang ramai seperti sebelum PKM ditetapkan. Pos jaga di Jl Ahmad Yani terlihat tiga petugas yang tengah berjaga. Namun tidak dilakukannya pemeriksaan pada kendaran-kendaraan yang melintas. Sementara itu, kondisi Jl Sekar Tunjung tampak cukup ramai seperti hari-hari sebelumnya. Berbeda dengan arus lalu lintas di Jl Kenyeri, Jl Turi, Jl Nuansa Indah, Jl Indrajaya, Jl Nuansa Utama, Jl Kerta Negara, Jl Lembu Sora, dan Jl Padma yang terpantau cukup lenggang.
penulis: kar/dyt
reporter: Tim Madyapadma

