Bukan keinginan pedagang untuk mengotori pasar tradisional sebagai klaster baru penyebaran COVID-19. Bukan maksud pembeli juga, menambah peluang laju rantai penyebaran. Hanya saja, pasar tradisional seakan tak mampu berjauhan dari interaksi hangat antar pihak. Mirisnya, COVID-19 sungguh menyukainya. Tak heran, kini COVID-19 bersarang nyaman di pasar tradisional.
Memasuki bulan Juni, bukannya makin tenang, COVID-19 malah kian tunjukkan taringnya. Masa-masa yang diyakini sebagai masa transisi menuju era new normal, disambut oleh Denpasar dengan munculnya klaster pasar tradisional. Awal kisah ledakan transmisi lokal terjadi pada Jumat (5/6), 2 (dua) orang pedagang Pasar Badung tercatat sebagai pasien positif. Di hari yang sama pula seorang pedagang pasar Kumbasari dan seorang pedagang Pasar Gunung Agung terkonfirmasi mengidap COVID-19. Lantas, sontak saja beberapa pedagang di Pasar Kumbasari melaksanakan rapid test. Keesokan harinya (6/6) kembali terkonfirmasi seorang pedagang di Pasar Gunung Agung positif COVID-19. Menyusul pada Rabu (10/6), 18 pedagang di Pasar Kumbasari dinyatakan mengidap COVID-19. Lagi-lagi pada Kamis (11/6), 3 (tiga) pedagang lain di Pasar Kumbasari menambah catatan kasus positif COVID-19 di Kota Denpasar. Belum lagi pada Selasa (16/6) kemarin 5 (lima) dari 10 tambahan kasus transmisi lokal di Denpasar usut punya usut merupakan keluarga pedagang Pasar Kumbasari. Kondisi seperti ini tentunya menimbulkan kekhawatiran baik bagi pedagang pasar atau para pembeli yang hendak membeli keperluan pangannya di pasar tradisional. “Setelah mendengar ada pedagang yang terkena COVID-19 jadinya khawatir dan deg-degan,” aku Ni Luh Yeni (45) seorang pedagang Pasar Kumbasari.
Selama 17 tahun Luh Yeni menggali pundi-pundi rupiah di Pasar Kumbasari, sebagai pedagang ayam, baru kali ini rasa cemas menyergapnya begitu kuat. Belum lagi setelah pasar tradisional ditetapkan jadi klaster baru, Luh Yeni tak dapat mengelak nasib usahanya kian sepi pengunjung. Pemasukannya pun tak mengucur deras seperti dahulu. Dalam proses jual beli di pasar tradisional, kontak fisik memang sulit untuk dihindari. Menurut Luh Yeni dalam kondisi ini menuntut adanya kesadaran pribadi masing-masing. Namun kerap kali Luh Yeni temukan beberapa pembeli yang tak konsisten menamengi diri sendiri. “Saya lihat kebanyakan pembeli maskernya nggak dipakai dengan benar,” ujar Luh Yeni. Di sisi lain, Mang Tama (23) membagikan kisahnya ketika membantu orang tuanya berjualan sayur di Pasar Badung. Tatkala menggunakan face shield yang diberikan pemerintah, beberapa pedagang merasa tak nyaman. Lambat laun mereka memilih untuk hanya menggunakan masker sebagai alat pelindung. “Tapi bahkan pakai masker aja pedagang masih gerah. Jadi terkadang maskernya dibuka. Selain untuk kesehatan ini juga terkait kenyamanan orangnya,” tutur Mang Tama.
COVID-19 yang telah menjangkau kawasan pasar tradisional pun tak ayal membuat remaja Denpasar kian khawatir. Ni Made Mutia Pradnyawangi (16), salah satu contoh kecilnya. Buah hati Luh Yeni yang kini sehari-hari hanya dapat menetap di rumah. Mendengar kabar pedagang-pedagang yang tanpa sadar mengjangkiti keluarganya, Luh Yeni pun tak ingin mendapati putrinya bernasib sial. Mutia pun tak dapat banyak bertindak, dirinya hanya mampu memanjatkan doa dan menanti sang ibu pulang dalam rundungan kecemasan. “Ibu masih berjualan di pasar. Jadi cuma bisa menasehati agar hati-hati dan selalu jaga jarak dengan orang lain," ungkap Mutia. Berbeda dengan Mutia, meski mengaku sedikit khawatir, Ni Kadek Mira Cahyani (17) dan kakaknya masih kerap kali berkelana di seputaran Pasar Badung untuk membeli kain. “Lebih berhati-hati saat bertemu orang banyak. Jika tempat yang kita tuju ramai lebih baik kita mengantri atau mencari tempat penjual yang lebih sepi,” kata Mira Cahyani membagikan sedikit tipsnya. Selain itu, Mira Cahyani juga mengantisipasi agar tak sampai membawa pulang virus ke rumahnya. “Hal yang selalu saya lakukan yaitu setelah sampai di rumah barang-barang yang kita beli dan kita bawa seperti uang, tas, jaket, helm saya jemur terlebih dahulu dan di semprotkam disinfektan. Saya juga cuci tangan menggunakan disinfektan dan sabun,” jelas Mira Cahyani.

