Selama pandemi, roda ekonomi pasar tradisional memang terus berputar. COVID-19 pun seolah jadi kerikil yang sempat menghambat lajunya. Namun, COVID-19 ialah sebuah kerikil tajam. Selama ini diam-diam merunjam. Tak sadar, pasar tradisional kini berubah menjadi kawah transmisi lokal.
Belakangan ini Denpasar memang tengah berusaha menekan penyebaran transmisi lokal. Gerombolan kasus transmisi lokal yang berhasil terdeteksi, kerap menyedot atensi publik. Kendati menjadi sorotan, tingkat aktivitas warga di luar rumah terlanjur tak tertahankan. Tim Madyapadma online melaksanakan survei kepada 100 remaja di Denpasar dengan memanfaatkan google form menggunakan metode acak sederhana. Karakteristik responden meliputi usia responden berkisar antara 14 tahun hingga 20 tahun. Dimana sebanyak 1% diisi oleh siswa SMP, 75% oleh siswa SMA dan sisanya yakni 24% diisi oleh mahasiswa perguruan tinggi. Jenis kelamin yang mengisi kuisioner di google form 72% responden perempuan dan 28% responden laki-laki. Hasil polling menunjukkan sebanyak 73% mengaku pernah mengunjungi pasar tradisional sebelum dunia dilanda pandemi. Bahkan 15% menjawab sering pergi ke pasar tradisional. Sementara sisanya mengaku tidak pernah. Hingga akhirnya, setelah status pandemi COVID-19 disematkan, sebanyak 62% menyatakan tidak pernah berbelanja di pasar tradisional. 28% mengatakan hanya 1-3 kali berkunjung ke pasar tradisional. Intensitas pergi ke pasar tradisional yang sebanyak lebih dari tiga kali pun mendapat suara sebesar 9%. Seperti Ni Kadek Mira Cahyani (17) yang selama pandemi sudah lebih dari tiga kali ke pasar guna, “Membeli bumbu masakan. Dulu sih,pas awal-awal masih sering ke pasar dan pasien COVID-19 juga masih dikit. Kalau sekarang mungkin aku masih sering ke Jalan Sulawesi gitu beli kain. Kalau ke pasar lainnya udah jarang,” kata Mira Cahyani. Sementara 1% tidak menjawab.
Memang pasar tradisional menjadi opsi favorit warga dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski telah bermodal masker, tetap saja interaksi antara pedagang dan pembeli menjadi ancaman besar. Sayang, hal tersebut justru minim perhatian. Sampai akhirnya, ledakan transmisi lokal di pasar tradisional terjadi. Sebanyak tiga pasar tradisional, yakni Pasar Badung, Pasar Kumbasari, dan Pasar Gunung Agung menjadi klaster baru penyebaran COVID-19 di Denpasar. Terdapat 18 orang pedagang di Pasar Kumbasari dinyatakan positif Covid-19. Sementara, dua orang pedagang di Pasar Badung yang merupakan suami istri dinyatakan positif Covid-19. Terdapat pula Seorang tukang suwun yang beraktivitas di Pasar Gunung Agung dinyatakan positif Covid-19. Pasar Kumbasari pun akhirnya ditutup sementara semenjak tanggal 10 Juni lalu hingga 15 Juni. Sesuai hasil survei, kabar penutupan beberapa pasar ini pun didengar oleh 76% remaja Denpasar. Sementara 18% remaja mengaku kurang mengetahui kabar penutupan tempat perbelanjaan yang satu ini. Sisanya, yakni sebanyak 6% tidak tahu menahu mengenai kabar yang tengah menggeparkan warga Denpasar. Sementara 18% remaja mengaku kurang mengetahui kabar penutupan tempat perbelanjaan yang satu ini. Sisanya, yakni sebanyak 6% tidak tahu menahu mengenai kabar yang tengah menggeparkan warga Denpasar. “Karena gak ngikutin perkembangan COVID-19. Yang penting kan tetap diam di rumah,” aku Ni Nyoman Lavanya Iswari Devi (14) polos.
Terkait merebaknya kasus COVID-19 di Kota Denpasar, 99% remaja sadar akan interaksi jual beli di pasar memang rentan menjadi tempat penyebaran virus yang satu ini. Lain halnya dengan 1% remaja yang masih ragu-ragu. Sebanyak 94% remaja meyakini bila ancaman ini kian membesar akibat masih kurangnya penerapan protokol kesehatan yang lebih pada pasar. Sementara sisanya memilih tak menjawab. Dalam upaya memutus rantai penyebaran COVID-19, langkah yang diambil oleh pemerintah ialah dengan menutup operasi pasar tradisional. Namun, berdasarkan survei, sebanyak 77% remaja mengatakan tindakan pemerintah ini tidak sepenuhnya efektif. Berbeda dengan 18% remaja lainnya yang mempercayai kebijakan pemerintah ini akan efektif dalam mengakhiri penyebaran COVID-19. Sementara sebanyak 3% berpendapat langkah tersebut tidaklah efektif dan sisanya memilih tidak menjawab. Sebagian remaja Denpasar, tepatnya 52% responden, pun menilai kurangnya kesungguhan Pemerintah Provinsi Bali dalam mencegah penyebaran COVID-19. “Karena menurut saya masih ada pasar yang masih belum menerapkan protokol kesehatan seperti berjaga jarak, menggunakan face shield ataupun melaksanakan rapid test atau swab test. Untuk yang sudah seperti itu saya hanya tahu Pasar Kumbasari, Pasar Badung, dan Pasar Gianyar yang melakukan swab test sementara masih banyak pasar yang belum,” ucap Ida Ayu Suci Aksara Jejineng (16). Di sisi lain, sebanyak 27% remaja telah melihat adanya kesungguhan Pemerintah Provinsi Bali dalam menangani pandemi ini. “Kalau menurut aku sendiri pemerintah udah serius menangani penyebaran COVID-19 dipasar karena mereka udah mengambil beberapa tindakan yang tujuannya buat mencegah penyebaran COVID-19. Seperti yang di Pasar Badung itu kan ditauin ada yang positif mereka langsung melakukan penelusuran dan memeriksa pedagang-pedagang lain untuk mencegah penyebaran yang lebih luas lagi. Selain itu, kaya di Pasar Ketapian juga dari pihak kelurahan ya kalau nggak salah itu mereka melakukan penyemprotan disinfektan di area pasarnya,” papar putu Okta Satriani (16). Di sisi lain, 6% remaja menyatakan tidak adanya kesungguhan pemerintah dan sisanya memilih tidak menjawab.
“Dilihat dari PKM yang nggak terlalu ketat. Terus sekarang Pasar Kumbasari kan ditutup sedangkan kalau masyarakat khususnya orang Bali pasti bakal sering banget ke pasar, pasti pelanggan dari Pasar Kumbasari perginya ke pasar-pasar lainnya. Terus gara-gara itu pasar lain jadi ramai. Makanya dari yang aku tahu kayaknya belum ada deh gimana caranya ngatasin hal itu,” tegas Putu Ristia Amandari (19) dalam menilai kurang efektifnya penanganan yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Bali terhadap kluster pasar tradisional. Ristia Amanda pun tak sendiri, total sebanyak 58% remaja berpandangan yang serupa. Sementara 19% remaja berpendapat pemerintah selama ini telah bergerak dengan tepat. 7% menjawab dengan lantang pemerintah tidak menunjukkan kesungguhannya dalam menangani rantai COVID-19 di pasar tradisional. Sementara 16% lainnya memilih tidak berpendapat.
Lantas apabila membicarakan kesungguhan Pemerintah Kota Denpasar dalam menindaki penyebaran COVID-19 di pasar tradisional, sebanyak 33% remaja menyuarakan adanya kesungguhan pemerintah. “Berdasarkan informasi yang saya dapat, setelah diduga ada penyebaran COVID-19 di Pasar Kumbasari, pemerintah melalui badan terkait langsung melakukan swab test pada pedagang yang diduga pernah kontak dengan pasien. Selain itu, juga dilakukan penyemprotan disinfektan di area pedagang yang dinyatakan positif dan area dagangannya ditutup sementara waktu. Menurut saya hal tersebut sudah menunjukkan bahwa penanganan pemkot Denpasar pada penyebaran COVID-19 di pasar tradisional sudah efektif,” jelas Ni Luh Putu Arista Supadmi (17). Disertai pula dengan 21% suara yang menilai telah efektifnya penanganan dari pemerintah. Sementara itu, hampir sebagian, tepatnya 45% remaja, menyatakan kurangnya kesungguhan pemerintah Kota Denpasar menanggapi ledakan transmisi lokal di pasar tradisional. Terkait hal tersebut, 61% remaja kompak menjawab karena kurang efektifnya kebijakan yang diambil oleh pemerintah kota. 4% lainnya menjawab pemerintah Kota Denpasar tidak serius dalam bertindak dan sisanya memilih tidak menjawab (18%). Selain itu, 15% remaja ragu-ragu dalam menilai efektifnya tindakan pemerintah, kemudian sebanyak 3% mengakui tidak efektifnya langkah pemerintah dalam melawan COVID-19.
Melihat kondisi pasar yang kini jadi tempat penyebaran COVID-19 yang baru, 16% remaja Denpasar merasa pasar tradisional sekarang memang telah menjadi episentrum baru dan utama dalam penyebaran rantai COVID-19. Sementara, 34% responden merasa pasar tradisional sekarang menjadi episentrum baru penyebaran COVID-19. Lain halnya dengan mayoritas 40% mengatakan pasar tradisional kini hanyalah salah satu episentrum baru dan utama penyebaran COVID-19. Sedangkan hanya 1% remaja Denpasar yang beranggapan bahwa pasar tradisional sekarang bukan episentrum baru dan utama penyebaran COVID-19. Sisanya, sebanyak 9% memilih tidak menjawab.
Manakala kondisi tempat perbelanjaan kebutuhan sehari-hari seperti pasar tradisional malah menjadi tempat incaran COVID-19, tentunya hal itu menimbulkan perasaan takut dan masyarakat merasa terancam mara bahaya. Seperti 51% responden remaja Denpasar yang merasa seperti itu. 30% sisanya hanya merasa takut. Berbanding terbalik dengan 14% remaja yang merasa penyebaran COVID-19 di pasar tradisional tak membuatnya takut dan gentar. 1% lainnya merasa hal tersebut tak menakutkan serta membahayakan. Di sisi lain, 4% remaja lainnya enggan untuk menjawab. Setelah pasar tradisional diserang COVID-19, 50% responden mengaku tak lagi berani untuk sekadar berbelanja ke sana. Sementara 37% remaja masih agak berani untuk pergi ke pasar tradisional. 8% tidak memberikan jawabannya dan hanya 5% remaja Denpasar yang tetap berani untuk pergi ke pasar. “Berani tapi saya tetap menggunakan masker dan membawa hand sanitizer. Selain itu, saya datang ke pasar tradisional juga pada saat siang tidak pagi-pagi karena pagi-pagi keadaan sangat ramai,” ungkap Mira Cahyani.
Hasil pantauan tim Madyapadma online pada Senin (15/06) menunjukkan aktivitas masyarakat Denpasar di beberapa kawasan tak seramai hari kemarin. Kondisi tersebut terlihat di Jl. Hayam Wuruk, Jl. Kecubung, dan Jl. Wr. Supratman Gg. Lilacita. Jl. Jaya Giri, lalu lalang kendaraannya juga terlihat lebih sepi dibandingkan dengan hari kemarin. Hari ini di sana juga terdapat sebuah bengkel yang mulai beroperasi, nampaknya pelanggan bengkel tersebut cukup banyak. Berbeda dengan kondisi di Jl. Kerta Dalem Sari IV yang mulai ramai. Terpantau penduduknya mulai keluar rumah untuk bekerja ataupun sekadar berolahraga di lingkungan Kerta Dalem Sari IV. Di Jl. SMA 3, beberapa kendaraan tampak berlalu lalang. Sementara wilayah yang masih tampak sepi yakni berada di Jl. Kaswari. Begitu pula dengan Jl. A. Yani Perumahan Yani Permai masih terlihat sepi. Namun terdapat warga yang berkeliling di sekitaran perumahan untuk menghilangkan jenuh. Di pagi hari, tampak pula satu dua warga yang berangkat ke tempat kerjanya.
penulis: kar/dyt
reporter: Tim Madyapadma
diagram: yan

