Ditengah badai pandemi COVID-19, kesehatan jadi hal yang paling diperhatikan sekaligus dikhawatirkan. Terhitung sekitar tiga bulan sudah kita tak beranjak dari rumah. Selama itu pula kita lebih memperhatikan kondisi kesehatan ketimbang hari-hari biasa. Meski tak bisa banyak beraktivitas, sebagian besar masyarakat memang cenderung berolahraga guna menjaga kesehatan fisiknya. Mungkin tanpa disadari kita telah mengabaikan hal yang tak kalah penting dari kesehatan fisik, yaitu kesehatan mental. Bukan hanya kesehatan fisik, kesehatan mental juga sama terancamnya dalam kondisi seperti ini. Keadaan yang tak kunjung membaik, minimnya interaksi dengan sesama, dan rutinitas yang kacau tentu bisa berdampak pada kondisi mental sesorang.
Dikutip dari www.infobanknews.com, tingkat kecemasan masyarakat memang cenderung lebih tinggi ditengah pandemi COVID-19. Lembaga Riset CESPELS (Center for Social, Political, Economic and Law Studies) menggelar survei tentang pandangan masyarakat terkait COVID-19, penanganan pemerintah dan dampak sosial ekonominya yang melibatkan 1053 responden. Survei yang melibatkan 34 provinsi di Indonesia ini menyebutkan bahwa tingkat kecemasan masyarakat cukup tinggi, tercermin dari temuan bahwa mayoritas responden merasa cemas (54,4%) dan sangat cemas (35,6%) akibat COVID-19. Selain itu, mayoritas responden (51%) juga merasa lingkungan sekitarnya kurang aman. Mirisnya justru topik seperti ini biasanya kurang diperhatikan oleh masyarakat. Sebagian menganggap kesehatan mental masih sedikit tabu untuk diperbincangkan. Padahal di masa pandemi COVID-19 merupakan hal yang normal untuk merasa cemas atau kurang stabil secara emosional.
Di Indonesia sendiri, kesehatan mental tampaknya masih jarang diperhatikan. Adanya stereotype bahwa orang berpenyakit mental adalah ‘orang gila’ cukup membuat orang-orang enggan membicarakannya. Apabila ada yang mengaku kurang stabil secara mental, bisa-bisa dicap sebagai pencari perhatian. Stigma-stigma seperti inilah yang kian memperkeruh keadaan. Maka tak heran apabila masyarakat kita kurang sadar mengenai masalah ini. Bahkan bulan Mei kemarin sebetulnya adalah bulan kesadaran kesehatan mental, tetapi hanya satu dua orang yang menyadarinya. Begitulah sekiranya mengapa masyarakat kita sebetulnya perlu lebih diedukasi mengenai hal ini. Jangan sampai tanpa sadar kita malah melukai hati seseorang hingga memperburuk kondisi mental seseorang.
Nyatanya, kondisi mental sendiri memang sangat penting untuk kita dalami. Bahkan rasa khawatir atau cemas berlebihan akibat pandemi ini bisa menyebabkan tubuh menciptakan gejala mirip seperti terjangkit COVID-19. Kondisi ini dikenal dengan istilah psikosomatik akibat COVID-19. Maka penting bagi kita untuk menyadari hal-hal yang dapat menyebabkan rasa cemas berlebih sebelum hal itu kian berdampak negatif. Ada baiknya kita membatasi konsumsi informasi dan hanya mencerna informasi dari sumber-sumber terpercaya. Melakukan aktivitas menenangkan seperti meditasi pun tak ada salahnya untuk menjaga kestabilan pikiran. Teruslah berpikir positif karena semua ini pasti akan berlalu. Perhatikan juga keadaan orang disekitar kita dan tetaplah menebar kebaikan (scy).

