Memasuki Bulan Juni, kondisi Denpasar semakin kritis. Kasus transmisi lokal penyebaran virus SARS-Cov-2 terus melejit. Akibatnya, pemerintah pun kalang kabut. Tak pernah jera untuk selalu mengigatkan protokol kesehatan. Lantas, bagaimana kesadaran remaja Denpasar terhadap transmisi lokal?
Hiruk pikuk Kota Denpasar kian hari kian kembali hadir. Kebisingan lalu lintas. Toko-toko yang kembali beroperasi. Seolah masyarakat melupakan bahaya pandemi yang makin meraung. Tanpa disadari, tingkat aktivitas warga di luar rumah semakin meningkat. Seolah telah siap menyambut era new normal yang gencar digaungkan. Meski begitu, sebagian besar remaja masih memilih untuk bernaung di dalam rumahnya masing-masing. Hal itu terungkap dari hasil polling tim Madyapadma online kepada 100 remaja di Denpasar pada Selasa (9/6). Metode polling yang dilakukan adalah metode acak sederhana dengan memanfaatkan media google form. Responden mengisi kuisioner di google form. Hasilnya diverifikasi oleh tim Polling Madyapadma-online. Karakteristik responden meliputi usia responden berkisar antara 13 tahun sampai 17 tahun. Jenis kelamin yang mengisi 25% responden laki-laki dan 75% responden perempuan.
Menurut hasil polling, dalam dua minggu terakhir ini, 43% remaja Denpasar mengaku tidak pernah berolahraga di luar rumah. Bisma Indrayana (16) pelajar asal SMKN 2 Denpasar mengaku “Lebih memilih berolahraga saat keadaan mulai membaik, daripada saya berolahraga keluar rumah saat pandemi yang memungkinkan resiko terkena COVID-19,” ungkap Indrayana kala dihubungi via daring (9/6). Berbeda dengan Indrayana, Ni Ketut Susilawati (16) siswa SMKN 3 Denpasar dalam kurun waktu dua minggu belakangan ini dirinya sempat berolahraga di luar rumah. “Sekitar 1-3 kali. Karena ada tugas penilaian akhir semester sama pengen olahraga aja sih,” ucap Susilawati. 26% remaja lainnya juga telah berolahraga di luar rumah, sebanyak 1-3 kali dalam kurun waktu dua minggu terakhir. Persentase yang lebih tinggi menunjukkan 31% responden belorahraga di luar rumah lebih dari 3 kali selama dua minggu ke belakang.
Selain olah raga, aktivitas lain yang dilakukan responden remaja Denpasar dalam dua minggu terakhir adalah 10% responden berkunjung ke rumah sanak saudara lebih dari 3 kali banyaknya. Sementara 42% remaja lainnya hanya berkunjung sebanyak 1-3 kali. Ni Luh Ayu Nirwasita (16) mengaku dirinya sempat menengok sanak saudaranya. “Saya pergi (berkunjung ke rumah sanak saudara-red) buat sembahyang Purnama,” kata Nirwasita. Persentase paling tinggi yakni sebanyak 48% menunjukkan remaja tetap berdiam diri di rumah. Seperti Anak Agung Veda Nandana (16) Siswa SMAN 3 Denpasar yang tak pernah melancong ke kampung halaman ataupun ke rumah saudaranya yang lain sebab kekhawatiran gerogoti pikirannya. “Nggak pernah, karena memang nggak diajak. Kalau pun diajak aku nggak mau soalnya ada Covid-19,” ujar Veda Nandana merasa waspada.
Kendati demikian, dalam kurun waktu dua minggu belakangan, Susilawati sempat berkumpul bersama temannya. “Pernah kumpul-kumpul 2 (dua) kali karena meet (bertemu - red) sama teman dari luar Bali,” aku Susilawati. Pengakuan Susilawati mewakili pernyataan 34% responden lainnya yang mengaku sempat berkumpul sebanyak 1-3 kali guna melepas rindu dengan kawannya. Sementara 60% responden mengaku tidak sempat keluar untuk berkumpul bersama teman-temannya. Seperti pengakuan Nirwasita. “Nggak ada nongkrong. Karena lebih suka diam di rumah, malas keluar,” aku Nirwasita. Di samping itu persentase terendah menunjukkan hanya terdapat 6% remaja yang beraktivitas bersama temannya lebih dari 3 (tiga) kali.
Pusat perbelanjaan memang dibuka, meskipun begitu 53% remaja mengaku tak pernah berpergian ke sana. Seperti Nandana yang enggan berpergian ke pusat perbelanjaan karena lebih dulu digerogoti rasa takut, tertular virus SARS Cov-2. “Apalagi ke mall, nggak pernah. Takut keluar aku,” jawab Nandana. Berbanding terbalik dengan 10% remaja yang tetap melesat ke pusat perbelanjaan lebih dari 3 kali selama dua minggu terakhir. Sisanya, sebanyak 37% responden mengaku sempat pergi ke pusat perbelanjaan sebanyak 1-3 kali. Seperti Susilawati yang membagikan alasannya tetap pergi, “Pernah untuk ngecek mata di optiknya,” aku Susilawati.
Berdasarkan polling, memang betul sebagian besar remaja Denpasar tetap teguh untuk tak beranjak dari lingkungan rumahnya. Namun, tak sedikit pula yang masih berkelana di jalanan. Hingga Selasa (9/6) persentase transmisi lokal di Denpasar telah menginjak angka 60,28%. Sesuai hasil polling, 52% remaja telah sadar akan kondisi Denpasar yang begitu mengkhawatirkan. Namun sebanyak 22% responden masih berpikir bahwa tingkat transmisi lokal di Denpasar belum meroket sejauh itu. Parahnya lagi masih ada sebanyak 26% remaja yang mengaku tak mengikuti perkembangan COVID-19. Itulah remaja kota Denpasar (Tim Polling Madyapadma-online).

