Bagai dua sisi koin, musibah COVID-19 yang menimpa kawasan Meduri juga miliki sisi baiknya. Rasa menyama braya antar penduduk kian mengerat. Bahu membahu berikan bantuan kepada keluarga yang terjangkit COVID-19.
Beberapa hari lalu kawasan Meduri menerima kabar yang cukup buruk. Pasalnya seorang dokter yang bertempat tinggal di Jalan Meduri didiagnosa mengidap COVID-19. Kemudian menyusul 8 kerabatnya dinyatakan positif COVID-19. Sontak saja warga seputar sana diserang rasa khawatir. “Kaget terus takut juga. Kasian soalnya ekonomi juga lagi susah, makin banyak masalah,” aku Ni Made Gatera (54) seorang warga di daerah Meduri. Kendati rasa waswas menyelimuti benaknya, tak alih membuat penduduk Meduri hilang simpati. Sisi positifnya, warga daerah Meduri malah kian eratkan rangkulan berikan sumbangan pangan bagi keluarga yang bersangkutan. “Memberikan bantuan berupa makanan pokok seperti beras, susu, mie instan,” kata Made Gatera yang menyumbang lewat kepala lingkungan.
Tak jauh berbeda dengan Made Gatera, Ni Nyoman Wati Sriani yang juga penduduk Meduri turut memberikan sumbangan pangan. “Saya memberikan sumbangan mie instan saja karena keadaan keluarga saya juga sedang krisis ekonomi,” ungkap Wati Sriani via daring pada Senin (8/6). Meski ekonomi keluarga Wati Sriani diterpa badai pandemi namun niat baiknya untuk turut membantu tetangganya itu tak surut. Memang benar musibah tengah melanda warga Meduri, akan tetapi hal itu malah makin eratkan rajutan persaudaraan antar penduduk disana. Selaras dengan pendapat Wati Sriani menurutnya, “Kita yang namanya menyama (bersaudara –red) ya tetap menyama. Walaupun ada yang terkena COVID-19 kita tetap menyama kita tidak boleh menjauhinya atau mengucilkannya hanya karena dia terkena virus,”ujar Wati Sriani.
Badai yang tengah dilewati warga Meduri juga dapat menjadikannya lebih intropeksi diri. Lebih sadar, akibat tertampar kondisi yang begitu mengkhawatirkan. Serupa dengan apa yang dirasakan I Nyoman Agus Gelgel Prawira Putra (16) jika biasanya Gelgel Prawira berkelana di jalan dengan sedikit beban, kini untuk keluar Gelgel merasa harus pikir-pikir panjang. “Sekarang lebih parnoan kalau mau keluar terutama di areal Jalan Meduri. Nggak seperti biasanya. Jadinya sekarang makin waspada dari sebelumnya,” ucap Gelgel Prawira. I Gede Bayu Mahendra Wijaya (17) juga sependapat dengan Gelgel, Bayu Mahendra tak lagi berolahraga di luar rumah. Menurutnya, “Semenjak Jalan Meduri dibatasi saya jadi tidak pernah lagi pergi keluar untuk berolahraga atau membeli makan. Karena saya merasa takut bila keluar. Takut terkena virus COVID-19 dan orang-orang pasti juga takut jika dekat-dekat dengan saya,” tutur Bayu Mahendra. Keadaan di Jalan Meduri ini memang mampu membuat mata orang-orang lebih terbuka dan peduli sekitarnya.
Berdasarkan pemantauan tim Madyapadma online pada Senin (8/6) keadaan ruas jalan seputaran Kota Denpasar semakin ramai. Aktivitas warga di luar rumah, seolah telah berjalan seperti sedia kala. Jl Kerta Dalem Sari IV, Jl Jayagiri, dan Jl Kecubung terlihat arusnya kian ramai dibanding hari-hari kemarin. Di sekitaran Jl Hayam Wuruk pula lalu lintasnya cukup ramai meski tidak sepadat kemarin. Sementara kondisi arus Jl Ahmad Yani juga tampak cukup ramai. Bahakan kawasan Tohpati telah dipadati kendaraan dan sempat terjadi kemacetan. Tak jauh berbeda juga dengan Jl Sudirman yang hari ini terpantau padat.
penulis: dyt/kar/dis
reporter: Tim Madyapadma

