Pembelajaran daring akan menyambut siswa di tahun ajaran baru nanti. Jadi ujian bagi kemandirian siswa dan kreatifitas para pengajar. Di tengah-tengah keriuhan melawan COVID-19 ini, pendidikan pun juga patut diperjuangkan. Sudah siapkah belajar di kelas daring?
Menyadari grafik COVID-19 yang tak kunjung melandai stabil. Maka pemerintah pun telah menegaskan, bila tahun ajaran baru nanti akan disapa melalui daring. Kabar ini pun tak luput dari sepengetahuan kepala sekolah SMAN 8 Denpasar, Drs. Ketut Suyastra, M.Pd. Pria yang dikenal berjiwa tegas ini, telah mempercayakan para pengajar untuk bebas berinovasi dalam memantik semangat siswa menempuh kelas daring. “Semua guru didorong untuk berkreasi dalam pembelajaran sehingga tidak menjadi beban dan membosankan. Tidak ada metode pembelajaran atau model khusus yang harus dilakukan. Semua guru diserahkan kesempatan kepada untuk berinovasi,” jelas Suyastra. Selaras dengan Santos Luki J (35) seorang pengajar di SMAN 8 Denpasar telah menyiapkan metode pembelajarannya sendiri. “Bisa menggunakan google meet, zoom, classroom, whatsapp untuk komunikasi,” kata Santos Luki. Dirinya juga mengaku akan membuat variasi metode daring tiap pertemuan demi menumbuhkan semangat belajar anak didiknya. “Mengajak siswa nonton video pembelajaran yg menarik, mengajak siswa bermain kuis dengan menggunakan kahoot atau quizizz,” ujar Santos Luki.
Beralih ke SMAN 3 Denpasar, Desak Nyoman Agung Wulan Rosmithasari, S.Pd.B. M.Pd, pula mengakui kekuatan dari aplikasi-aplikasi yang dapat menunjang pembelajaran. “Selama masa pandemi ini tidak ada alasan untuk malas belajar. Tidak ada lagi kata gaptek (gagap teknologi – red) karena anak-anak tumbuh dan berkembang di zaman teknologi,” tegas wanita yang mengemban mata pelajaran Bahasa Bali ini. Dalam daftar rencana metode pembelajarannya, Desak Wulan tampak telah mengumpulkan beberapa video dan film yang berkaitan dengan materi kelas daringnya. Tak hanya itu, wanita yang dikenal dengan suara lembutnya ini, menyadari adanya kerinduan yang akan tercipta semasa pembelajaran daring nantinya. Tugas-tugas yang bertumpukan tanpa adanya perhatian dari pengajar pun, justru hanya akan memperkeruh suasana hati. “Ada kalanya tatap muka daring dilakukan, sehingga siswa merasa ada perhatian dari guru, juga mengurangi kejenuhan mereka yang tidak dapat bertemu teman-teman,” ungkap Desak Wulan.
Tak jauh berbeda dengan Desak Wulan, Ni Putu Suastini, S.Pd, M.Pd (51) seorang guru Bahasa Inggris di SMPN 3 Denpasar pula mengaku akan mengandalkan segala aplikasi pembelajaran yang mumpuni. Suastini juga mengingat adanya aplikasi pembelajaran bernama Lentera Denpasar, yang telah disediakan oleh pemerintah. Wanita yang telah mengajar di SMPN 3 Denpasar selama 27 tahun ini, tentu tahu betul bagaimana karakter siswa yang kerap dijumpai. Namun tetap saja, kelas daring ialah tantangan berat dan kali pertama dihadapinya. Tentu Suastini berharap dapat bekerja sama dengan orang tua siswa. “Iya tentu kami (para guru –red) juga perlu memberi dukungan dan motivasi kepada siswa,” ucap Suastini.
Kendati para pahlawan tanpa tanda jasa itu telah berusaha memberikan yang terbaik, namun setiap percobaan pertama tentu tak akan hasilkan yang sempurna. “Pelajarannya jadi lebih sulit dimengerti, misalnya saja matematika. Soalnya saya orangnya kalau belajar matematika harus sama guru,” tutur Agnesheia Sheshilia Febry Ayudha (14) seorang siswa SMP PGRI 3 Denpasar. Pande Putu Bagaskara Pratama (14) murid SMPN 3 Denpasar juga mencurahkan kegelisahannya, “Saya sendiri lebih cepat jenuh atau bosan karena belajar tanpa teman itu sangat tidak asik.” Keluh kesah lainnya juga datang dari, Ni Wayan Camani Chintya Dewi (17) siswa SMAN 2 Denpasar yang acap kali temukan kesulitan. “Kurang paham terhadap mater, jadi kalau siswa bertanya pada guru mungkin masih kurang puas atas jawaban yang diberikan. Terus ada gangguan internet,” kata Camani Chintya.
Serupa dengan apa yang dialami Camani Chintya, Ni Luh Putu Arista Supadmi (17) siswa SMAN 3 Denpasar, turut membagikan kendalanya selama ini, “Terkadang server error. Materi belajar pun kadang tidak disampaikan secara tuntas, kemudian langsung diberi tugas. Seringkali saya mengambil jalan pintas, mengcopy jawaban teman karena materinya belum saya kuasai betul dan tidak sempat waktunya untuk mempelajari karena tugasnya sudah diberikan batas waktu pengumpulan,” aku Arista Supadmi. Sementara itu, salah satu teman sekelas Arista, yakni Galuh Kinasih (17) juga menyadari pembelajaran daring selama ini masih penuh lubang.
“Banyak faktor yang bikin pembelajaran susah kan, mulai dari nggak bisa belajar secara tatap muka sama guru, nggak bisa leluasa berdiskusi sama temen, dan melakukan kegiatan lain secara langsung yang berhubungan sama pembelajaran,” ungkap Galuh Kinasih. Menurut Galuh, belajar daring selama ini lebih menuntut murid untuk belajar secara mandiri. “Banyak tugas-tugas yang diberikan, jadi kalau materinya belum sampai di kita pribadi tapi udah disuruh buat tugasnya itu kan beban dan susah. Butuh bimbingan pastinya dari guru pengampunya,” tutur Galuh Kinasih. Kendati begitu bagi Galuh Kinasih, pembelajaran jadi dapat dilakukan dimana pun dan kapan pun asal terdapat jaringan internet sebagai pendukung.
Di balik segala kelemahan dan kelebihan bagi I Dewa Ayu Adiswari Paramitananda (16) pelajar asal SMAN 8 Denpasar pembelajaran daring dapat membantu pemutusan rantai penyebaran COVID-19. “Penyebaran virus dapat berkurang dengan nggak berkumpul di tempat-tempat ramai gitu,” kata Adiswari. Adiswari hanya berharap, “Semoga sistemnya lebih dibenahin aja. Mungkin untuk guru-guru yang kadang cuma ngasi tugas aja tanpa ada materi lebih awal, bisa diperbaiki supaya muridnya juga mengerti dan nggak ngeluh ngerjain tugasnya. Media pembelajarannya juga mungkin lebih ditingkatin sih,” tutup Adswari.
Berdasarkan pemantauan tim Madyapadma online pada Jumat (05/06) sebagian dari hasil pantauan tim menunjukkan kondisi arus yang cukup lenggang. Hal itu dapat dijumpai di sekitaran Jl Sekar Tunjung, Jl Kenyeri, Jl Yudistira, Jl Padma, Jl Turi, Jl Warmadewa, Jl SMA 3 dan Jl Narakusuma. Tampak kondisi di Jl Tulip pun cukup lenggang, bila dibandingkan dengan minggu kemarin. Beberapa pedagang pun juga masih membuka gerainya dengan tetap berbekal masker. Sementara itu, arus di Jl Nangka Selatan semakin ramai ketika sinar mentari kian terik. Serupa pula di Jl Cokroaminoto yang cukup ramai seperti sebelum masa PKM diterapkan. Begitu juga di Jl Patimura, Jl Veteran, dan Jl WR Supratman. Arus yang cukup ramai juga terpantau di seputaran Jl Sumatera, Jl Nuansa Indah, Jl Ken Arok, Jl Ken Dedes, Jl Belimbing, Jl Melati, Jl Kamboja, Jl Nusa Indah. Kepadatan lalu lintas lainnya turut tampak terjadi di daerah Gatsu Barat dan Tengah. Sementara itu, hari ini Jl Meduri ditutup karena terdeteksi positif COVID-19. Lain halnya dengan keadaan taman kota yang terlihat masih dikunjungi oleh sepasang remaja dan bapak-bapak. Mereka tampak duduk di bangku taman yang berbeda. Padahal jelas tertera spanduk penutupan taman kota sementara.
penulis: dyt/kar
reporter: Tim Madyapadma
fotografer: dis

