Di tengah ancaman pandemi yang menjerat, masih ada orang-orang tangguh yang mesti jelajahi dunia luar. Diantaranya pekerja ojek online. Jargon diam di rumah, tak berlaku bagi mereka. Dalam merajut asa, pekerja ojek online mesti siap pertaruhkan diri hadapi COVID-19.
COVID-19 seolah menjadi tamparan keras bagi kita semua. Ujian demi ujian terus berdatangan tak kunjung henti. Layaknya nasib para ojek online yang tetap mempertaruhkan kesehatannya demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Seperti I Komang Ariana (33), sudah dua tahun lamanya Komang Ari mengadu nasib menjadi ojek online. "Tujuannya untuk menghidupi keluarga," kata Komang Ari singkat. Bagi Komang Ari pekerjaannya ini mampu membuatnya bertahan hingga kini. Walau di tengah badai pandemi Komang Ari tetap optimis, "Selalu semangat dan jangan pantang menyerah. Karena pasti selalu ada jalan," ujar Komang Ari. Komang Ari juga selalu memperhatikan himbauan akan protokol kesehatan “Kami (para ojek online –red) selalu melakukan protokol kesehatan. Selalu menjaga kebersihan, diantaranya memakai masker, menggunakan handsanitizer setiap waktu, penyemprotan disinfektan setiap minggu di pos aman COVID-19,” jelas Komang Ari.
Selaras dengan Komang Ari, I Ketut Angga Wijaya (40) mengaku, “Kami (para ojek online –red) tetap berusaha untuk mengikuti protokol kesehatan dari pemerintah. Minimal sudah memakai masker dan bawa handsanitizer untuk cuci tangan,” aku Angga Wijaya. Berkelana di jalanan tatkala COVID-19 masih mengintai, memang acap kali membuat perasaan jadi waswas. Seperti Angga Wijaya yang mengaku bahwa dirinya khawatir dengan penyebaran virus yang satu ini. Tak hanya itu, setelah pandemi menyerang pendapatan para ojek online turut berkurang. “Kalau sebelum pandemi lumayan banget, perharinya bisa sampai 300.000. Setelah pademi turun jadi 200.000 dan mulai kemarin malah semakin turun paling sehari sekitar 100.000,” tutur Angga Wijaya. Angga Wijaya juga menambahkan bahwa hal itu terjadi karena, “Mulai kemarin sistem bonusnya turun drastis untuk ojol grab, kalau ojol gojek malah sudah dari sebulan yang lalu sistem insentif dan bonus dihapus. Itu untuk di Bali ya, kalau di luar Bali lebih parah lagi,” jelas Angga Wijaya.
Disamping itu terdapat pula ojek online yang memilih untuk diam di rumah selama pandemi terjadi, seperti I Gusti Ngurah Girindra Anta Kusuma (19). “Biar saja orang lain yang lebih membutuhkan pekerjaan, saya di rumah dulu sampai pandemi ini selesai,” ungkap Girindra Anta yang masih tergolong remaja sudah menekuni profesi driver ojek online. Selain itu, keputusan pemuda asal Denpasar itu diambilnya sebab sang ibu tak memberikan izin kepada Girindra Anta selama pandemi COVID-19 melanda. Selain itu pendapatan para ojek online pun terus menyusut selama pandemi ini. “Sebelum pandemi ramai banget yang order. Kalau sekarang sepi banget jadi nggak worth it,” ungkap Girindra Anta.
Berdasarkan pemantauan tim Madyapadma online, Jumat (29/05), beberapa ruas jalan di Denpasar masih dipenuhi aktivitas warga. Kondisi tersebut terlihat di Jl Patih Nambi dan Jl Nusa Indah, bahkan proyek bangunan di Jl Patih Nambi pun hari ini masih berjalan. Sama halnya dengan situasi di Jl Tulip, banyak toko-toko yang memilih untuk tetap berjualan. Sementara itu, arus Jl Gatot Subroto hari ini dipadati kendaraan, bahkan sempat terjadi penumpukan kendaraan. Pantauan di Jl Ratna, Jl Subita, Jl Melati, Jl Angsoka, Jl Sari Gading, Jl Suci, Jl Nangka, Jl Kusuma Bangsa, Jl Kebo Iwa, hari ini arusnya pula cukup ramai. Kepadatan arus lainnya juga terlihat di ruas Jl Ahmad Yani Utara, Jl Cokroaminoto, dan Jl Kargo Permai. Kendati demikian, arus yang cukup lenggang dapat ditemui di Jl Sekar Tunjung VIII, Jl Noja Dukuh, Jl Sulatri, Jl Waribang, Jl Sokasati, Jl Turi, Jl Kamboja, Jl Plawa, Jl Kenyeri Gang Rampai dan Gang Kemuning II. Hari ini terpantau aktivitas pos pemeriksaan yang terletak di perempatan Gatsu Barat dan Kebo Iwa. Tampak semua kendaraan bermotor diarahkan ke areal kosong dekat pos untuk diperiksa oleh petugas polisi, dinas perhubungan, dan pecalang. Namun, kendaraan beroda empat terlihat lolos dari pemeriksaan.
penulis: kar/dyt/dis
reporter: iwaw/Tim Madyapadma
fotografer: yan

