Bagi warga Denpasar, Pasar Kreneng selalu menyimpan berbagai kenangan. Dari pagi sampai malam, denyutnya tak pernah meredup. Saban hari dikerumuni warga, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ataupun sekadar melepas penat di malam harinya. Lantas bagaimana nasib Pasar Kreneng di tengah pandemi?
COVID-19 memang berhasil membekap banyak tempat umum. Namun, Pasar Kreneng tampaknya masih bernapas setiap hari. Walau kini setiap orangnya lalu lalang dengan memakai masker. Bahkan beberapa pembeli kedapatan masih mengenakan helm. Kegiatan jual beli memang masih mengalir, namun tentu hal ini dibatasi. “Jam berdagang sekarang diatur, yang sebelum ada COVID-19, tidak adanya jam malam atau 24 jam. Sekarang sudah diberlakukan sampai jam 9 (sembilan) malam,” kata I Made Suarta, salah satu pedagang sembako di Pasar Kreneng. Pria yang telah membuka lapak di Pasar Kreneng semenjak tahun 1985 ini, mengaku rutinitas berdagangnya berubah semenjak ada pandemi. Dagangannya sepi pengunjung, hingga gerainya pun terpaksa ditutup lebih awal daripada biasanya.
Tak jauh berbeda dengan kondisi keuangan Ni Wayan Gubreg (90), dapat dikatakan pendapatannya menurun drastis akibat COVID-19 ini. “Pendapatan di hari biasa setiap bulan sampai 600.000, selama corona ini menurun drastis, sehari cuma dapat 25.000,” aku Wayan Gubreg. Di usia rentanya, Wayan Gubreg masih memilih untuk tetap berjualan Ubi dan Keladi. Rasa khawatir akan kesehatan memang tak dapat ditampik, namun bukan tanpa alasan Gubreg tetap memilih untuk menjajakan dagangannya. “Khawatir, cuma saya kalau berjualan di pasar bisa ketemu temen yang seumuran, bisa ngobrol. Sampai sekarang berdagang bikin saya tetep kencang walaupuh umur sudah tua,” ungkap Wayan Gubgreg.
Bukan hanya itu dampak yang harus dihadapi para pedagang pasar. Masih terdapat bahaya lain yang mengintai para pedagang. Proses jual beli tentu mengharuskan adanya interaksi antara penjual dan pembeli yang dapat meningkatkan peluang terjangkitnya COVID-19. Selaras dengan apa yang diungkapkan Kadek Satria Putra Purnama (17), menurutnya “Pasar kan tempat umum yang harus buka selama pandemi. Tentu tujuannya untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dibidang pangan. Pasti pasar ini jadi tempat berkumpulnya banyak orang dong, terutama pasar tradisional yang interaksi anatara penjual dan pembelinya deket banget. Jadi peluang terjangkit virusnya itu lumayan besar,” jelas Satria.
Bagi Satria, pedagang dan pembeli di Pasar Kreneng masih kurang tertib dalam menjalankan protokol kesehatan. "Saat berdagang masih banyak pedagang yang tidak mau menggunakan masker, sarung tangan, dll. Kebanyakan alasannya karena agak ribet berdagang sambil menggunakan APD (Alat Pelindung Diri). Terus pembelinya juga mungkin lupa atau gimana jadi mereka kurang patuh sama protokol kesehatan yang ada," papar Satria. Berbanding terbalik dengan pendapat Satria, menurut I Made Doddy Primantara (20) "Pembeli di Pasar Kreneng semua sudah tertib. Alasannya sudah ada himbauan dari pemerintah physical distancing dan jaga jarak yaitu sering mencuci tangan, memakai masker, dan selalu jaga kesehatan," ucap Doddy.
penulis: dyt/kar
reporter: Tim Madyapadma

