Pandemi COVID-19 memang memaksa seluruh umat untuk berdiam diri di rumah. Gemerlap dunia luar yang selalu jadi nikmat setiap hari, kini mendadak raib. Namun hal sederhana di rumah yang dahulu tak terlihat, sekarang jadi terasa dekat. Mencintai alam sekitar dengan berkebun, satu diantaranya.
Awalnya keluarga Putu Vidya Ananda Ratmayanti (17) hanya sekadar menanam bibit buah naga di pekarangan rumahnya. Lambat laun, bermain dengan bibit dan tanah gembur pun jadi sebuah candu. “Sampai akhirnya memesan bibit tanaman yang didatangkan dari Jawa, setelah itu merambat ke sayuran,” ungkap Vidya Ananda kala dihubungi via daring, di Denpasar, Selasa (26/5). Vidya dan keluarganya yang telah cukup lama mengeksplor dunia tanaman pun menyadari bila bercocok tanam seolah jadi trend baru yang bermanfaat di kala pandemi. Baginya, “Setiap keluarga atau individu jadi mampu menanam sendiri dan memenuhi kebutuhan sayurannya sendiri,” kata Vidya.
Hal tersebut pun dirasakan oleh Ni Nyoman Lavanya Iswari Devi (15). Selama pandemi COVID-19 melanda, masakan di rumahnya terasa lebih nikmat dan penuh cerita berkat hasil kerja keras berkebun bersama. “Pas mulai Corona itu sudah mulai ngerapiin tanaman hias di rumah. Kalau tanaman yang bisa dikonsumsi sekitar satu bulan setelahnya,” aku Lavanya. Kegiatan bercocok tanam di rumahnya, dipelopori oleh sang ibu. Awalnya keluarga Lavanya menanam tanaman yang berasal dari bahan makanan yang dapat ditanam kembali seperti kangkung. “Jadi kangkung ditanam lagi di kolam, kebetulan ada kolam ikan di rumah. Jadi seperti sistem kangkung air gitu dan sekarang udah mulai ada daunnya,” ujar Lavanya. Tak berhenti di satu varian, Lavanya dan keluarga pun mulai mencoba menanam bayam, kacang panjang, dan tanaman sayur lainnya.
Sang ayah, I Gede Putu Suwitra (51) pun turut membagikan pandangannya mengenai trend bercocok tanam di tengah pandemi. “Bagi masyarakat urban pada umumnya kebanyakan dimotivasi untuk mengisi waktu senggang, menyalurkan hobi, dan syukur-syukur ada hasil yang bisa dinikmati di dapur keluarga,” ujar Suwitra. COVID-19 mungkin membuat orang-orang mau tak mau harus diam di rumah. Untuk sebagian orang mungkin itu jadi waktunya beristirahat sejenak dari hiruk pikuk kesibukan. Namun hal itu tak berlaku bagi Suwitra, hanya duduk berdiam diri bukanlah hal mudah untuknya. “Jadi mengekspresikannya dengan hobi ataupun berbagai aktivitas rumah. Kebetulan ada sedikit hobi dan lahan ya berkebun jadi pilihan,” ucap Suwitra.
Berdasarkan pemantauan tim Madyapadma online, pada Selasa (26/05), kondisi di beberapa ruas jalan Kota Denpasar tampak kembali cukup dipadati aktivitas warga. Hal tersebut terpantau di Jl Surapati, Jl Kapten Agung, Jl Sudirman, Jl Diponegoro, Jl Veteran, dan kawasan sekitar Catur Muka. Hari ini pula terpantau aktivitas Pasar Kreneng yang ramai dipadati masyarakat. Pertokoan di sekitar Pasar Kreneng pun tampak telah dibuka kembali. Sama halnya dengan situasi di Jl Kertanegara dan Jl Lembu Sora, terlihat pedagang tipat, tukang cukur, dan bengkel motor tetap teguh mencari nafkah di tengah pandemi, meskipun hari ini tak banyak pelanggan yang memenuhi lapak mereka. Sementara itu, di Jl Kembang Matahari, Jl Noja, Jl Sekar Sari, Jl Siulan, Jl Patih Nambi, Jl Gadung, Jl Sandat, Jl Tunjung, Jl Sari Gading, Jl Gunung Tutur, dan Jl Gandapura arusnya terpantau cukup lenggang. Di Jl Bypass Ngurah Rai juga tampak lebih sepi dibanding biasanya, pos jaga Biaung yang terletak di kawasan itu pun pula sepi petugas. Di pos jaga daerah Gatsu Barat, pukul 15.11 juga tampak tidak melaksanakan pemeriksaan, sebab petugas dinas perhubungan, aparat polisi, serta pecalang tengah menikmati waktu istirahat. Namun, tampaknya Jl WR Supratman, Jl Cokroaminoto, Jl Cargo Permai, Jl Gunung Catur, Jl Gunung Andakasa, Jl Gatsu, Jl Kebo Iwa Utara dan Selatan kembali disesaki kendaraan seperti sebelum memasuki masa PKM. Arus yang cukup ramai juga ditemui di Jl Nusa Indah, Jl Subita, Jl Kenyeri, Jl Melati, Jl Kamboja, Jl Pidada, Jl Ahmad Yani, Jl Kusuma Bangsa, dan Jl Suli.
Sebagian besar kondisi jalan di seputaran Denpasar, terpantau lebih ramai dari hari - hari sebelumnya. Entah apakah hal itu dipengaruhi karena ungkapan Dewa Made Indra selaku sekretaris satgas COVID-19 Bali pada media, pada Jumat (22/05) yang menyatakan bahwa masyarakat boleh beraktivitas di luar rumah. Padahal Dewa Indra secara langsung meralat ucapannya pada keesokan harinya. Namun, apadaya sepertinya pemberitaan awal telah terekam di benak masyarakat.
penulis: kar/dyt/dis
reporter: iwaw/Tim Madyapadma
fotografer: yan

