"Aduh aku nggak mikir apa. Udah lemes banget," ucapnya sambil tertawa. Begitu kata Putu Puan Maharani (18) saat ditanya mengenai perasaannya ketika menjalani rapid test.
Sudah lima hari kondisi Puan Maharani didera panas tinggi. “Sebelumnya cek darah kan pas hari ketiga tapi trombosit masih normal. Jadi disuruh hari kelima cek darah lagi,” ungkap Puan Maharani dihubungi via daring. Puan awalnya berencana melaksanakan cek darah lagi pukul 14.00 WITA. Namun, siapa sangka pukul 11 siang Puan tergolek pingsan tak berdaya. “Bapakku panik, aku langsung dibawa ke UGD (Unit Gawat Darurat). Tapi UGD nggak mau nerima karena aku panas kan sama ada batuk gitu. Mungkin mereka mikir gejalanya mirip corona (COVID-19 -red). Jadi disuruh rapid tes dulu takutnya gimana,” kenang Puan.
Untungnya ketika hasil rapid test diberikan, Puan bisa menghela napas lega. “Hasilnya negative. Astungkara,” ucapnya penuh rasa syukur. Puan juga berbagi cerita mengenai proses rapid test kepada tim Madyapadma online “Awalnya diambil darahnya gitu sama seperti cek darah biasanya. Abistu ronsen paru-paru,” tuturnya.
Lain kisah dengan Puan, Rama Gerald Jade menjalani rapid test atas inisiatifnya sendiri. "Aku kan orangnya banyak di luar rumah beberapa hari ini kontak sini kontak sana, ketemu orang itu ketemu orang ini. Rada-rada cemas juga karena banyak keluar sehingga salah satu motivasiku ikut rapid tes itu biar tahu apakah hasilnya positif atau negatif," jelas Rama. Dirinya mengaku melaksanakan test tersebut di pos jaga daerah Keboiwa.
Berbagi pengalamannya, Rama mengaku dalam proses rapid test, data mobilitas pribadi selama ini perlu diberitau secara jujur. “Apa ada ke daerah-daerah transmisi, apa ada kontak dengan ODP (Orang Dalam Pemantauan) atau OTG (Orang Tanpa Gejala),” ujarnya mengulangi pertanyaan petugas rapid test sewaktu itu. Seusai mendapat hasilnya pun, petugas akan memberikan surat keterangan hasil rapid test yang berlaku selama 10 hari.
Terkait rapid test, dr. Putu Astri Dewi Miranti, MPH membagikan pendapatnya “Fungsinya untuk penapisan kasus orang yang telah memiliki kekebalan tubuh terhadap infeksi COVID-19,” ujar Astri Dewi. Dirinya menyarankan pada warga yang pernah memiliki riwayat kontak ataupun pernah berpergian ke daerah yang berada dalam zona merah COVID-19 sebaiknya melakukan rapid test. Astri Dewi bersedia memaparkan prosedur rapid test tahap awal, sebagai berikut “Penapisan orang dengan risiko oleh petugas melalui wawancara dan bukti tertulis, orang yang memenuhi kriteria dilakukan rapid tes oleh petugas, hasil rapid tes reaktif dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR/swab, hasil rapid test non reaktif diberikan edukasi dan hasil kepada orang yang diperiksa,” papar Astri Dewi.
Berdasarkan hasil pemantauan tim Madyapadma online beberapa kawasan di Kota Denpasar terlihat tak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Hal tersebut terlihat di Jl. Gandapura, Jl. Nuansa Indah, Jl. Patih Nambi IV FF, Jl. Ahmad Yani Utara, Jl. Kenyeri gg III Kemuning, dan Jl. Sekar Tunjung VIII. Jumat (22/05), arus lalu lintas di seputaran Jl. Waribang juga tampak sepi. Kondisi di Jl. Pemuda, Renon arusnya masih tak jauh berbeda dengan hari kemarin. Sementara itu, di Jl. Tulip, Jl. Turi dan Jl. Padma masih terlihat beberapa aktivitas masyarakat. Bahkan beberapa pemilik toko di Jl. Tulip juga tetap beraktivitas normal dan membuka gerainya. Jl WR Supratman tergolong agak ramai sama seperti sebelum PKM (Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Itu juga terlihat di Jl. Melati, Jl. Suli, Jl. Sarigading, Jl. Jala Suci, Jl. Gatot Subroto, Jl Cokroaminoto hingga Jl. Kebo Iwa (Utara dan Selatan -red) dan Jl. Kargo Permai. Kendati begitu hari ini, di Jl. By Pass Ngurah Rai nampaknya tak banyak kendaraan bermotor yang melintasi kawasan tersebut. Kawasan yang relatif agak sepi terlihat di kawasan pendidikan dan perkantoran di Jl. Kamboja, Jl. Jepun dan Jl. Mawar.
penulis: kar/dyt/dis
reporter: cok/iwaw/Tim Madyapadma

