Covid-19 memang membawa banyak orang merasakan pedihnya kehidupan. Tak hanya pembisnis dan orang yang yang bergelut dalam pariwisata saja yang harus mengecap pedihnya hidup. Ada pula dokter-dokter yang mesti menelan pil pahit akibat Covid-19.
Di kala pandemi, sekilas profesi dokter selalu jadi garda terdepan, yang ditarik-tarik dimintai uluran tangan. Namun tak seluruh kalangan dokter yang waktunya terus dipadati pasien. Justru, kalangan dokter gigi harus gigit jari selama pandemi ini. Berdasarkan surat edaran dari Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), mengenai Pedoman Pelayanan Kedokteran Gigi Selama Pandemi COVID-19. Di dalam surrat edaran nomor 2776/PB PDGI/III-3/2020, terdapat beberapa poin yang mesti diperhatikan oleh para dokter gigi. Pelayanan praktik dokter gigi dihimbau untuk dibatasi, apabila kondisi pasien tidak mendesak sekali. Menurut drg. Ni Komang Yuliani, pembatasan praktik dokter gigi selama pandemi ini diterapkan demi keselamatan dokter gigi dan pasien. “Sebab jika praktik takut terpapar dengan air ludah, darah, dan pernapasan pasien yang berefek pada penyebaran virus yang cepat,” ujar Yuliani.
Meski Yuliani harus menutup kerja praktik di rumahnya, dokter gigi yang juga bekerja di RSUP Sanglah ini mengaku tetap bekerja dengan syarat melayani pasien emergency saja. Walau pendapatannya berkurang, Yuliani tak merasa keberatan karena baginya pencegahan penyebaran virus itu lebih penting. "Tidak keberatan, kita sebagai tenaga medis juga harus ikut mengurangi penyebaran dan mendukung peraturan pemerintah karena ini jalan satu satunya untuk memutus rantai penyebaran virus. Malah kita senang dengan pembatasan praktik ini, agar tidak berdampak pada keluarga," jelas Yuliani.
Tak jauh berbeda dengan Yuliani, drg. Astrid Chrisandita juga mengakui pembatasan praktek ini berpengaruh pada penurunan finansial di keluarganya. Kendati begitu, Astrid menyadari apa yang hendak dihindari atas kebijakan ini. “Penggunaan aerosol yang berasal dari skaler, bur, memiliki resiko penyebaran droplet yang tinggi antar dokter, perawat, maupun pasien sendiri. Aerosol dapat menyebar ke ruangan selama beberapa waktu dan sangat riskan penularannya,” papar Astrid saat dihubungi tim Madyapadma online via daring. Terkait pencegahan Covid-19, Astrid jadi memperketat kebersihan. "Jadi lebih selektif memilih kasus serta perawatan, persiapan APD level 3, serta desinfeksi ruangan setiap setelah dipakai pasien. Pasien juga diberi edukasi," ungkap Astrid. Dirinya juga berusaha untuk kembali bangkit dengan menerapkan era new normal.
Janji temu dengan pasien yang sebelumnya sudah direncanakan jauh-jauh hari kini banyak yang harus ditunda, mengingat himbauan yang diberikan PDGI. Kadek Sabina Putri Rayana (17) mengalami penundaan janji ketemu dengan dokter giginya. “Risih aja sudah hampir 3 bulan nggak pernah konsul lagi. Manalagi ini ada behel-behel yang sudah tidak pada tempat yang seharusnya,” keluh Sabina. Tak jauh berbeda dengan Sabina, Putu Vidya Ananda Ratmayanti (17) juga mengaku tidak melakukan konsultasi sejak pandemi menghantui. Kendati begitu, Vidya sadar bahwa itu adalah pilihan yang tepat kala pandemi. “Hal ini bagus bagi pasien maupun dokter karena pada masa pandemi ini dokter sangat amat besar resikonya bisa terdampak terutama dokter THT (Telinga, Hidung, dan Tenggorokan-red) ataupun gigi,” kata Vidya yang mengaku lebih mengutamakan kepentingan bersama.
Berdasarkan hasil pemantauan tim Madyapadma online, pada Kamis (21/05), Jl Gandapura, Jl Kecubung, Jl Veteran, Jl Narakusuma, dan Jl SMA 3 tampak sepi tak menunjukkan adanya kerumunan. Situasi tersebut semakin didukung hujan yang sempat mengguyur Denpasar tadi pagi. Sementara itu di kawasan pertokoan Gajah Mada, hari ini terlihat tak sepadat hari-hari biasanya. Masih ada beberapa toko yang memilih untuk bertahan membuka gerainya selama pandemi. Di kawasan parkir Denpasar Cineplex yang pada umumnya dikerumuni kendaraan pun, kini kondisinya terlihat lenggang. Kawasan Monang-Maning yang dahulunya dipenuhi aroma asap knalpot kendaraan, kini tampak tak sesak seperti biasanya. Jl Drupadi yang kemarin terpantau tergolong cukup ramai, kini arusnya mulai mereda. Begitu juga dengan Jl Sesetan yang arusnya kian surut dibanding kemarin. Berbeda pada Jl Patih Nambi IV yang biasanya sunyi, kini kembali terasa hidup karena salah satu rumah warga tengah melangsungkan upacara agama. Matematikos korepetitoriai Vilniuje, Kaune ir Klaipėdoje https://korepetitoriai.intellectus.lt/matematikos-korepetitoriai-vilniuje-kaune-ir-klaipedoje/
penulis: kar/dyt/dis
reporter: eka/Tim Madyapadma

