"Perekonomian keluarga menjadi kacau balau. Pemasukan sangat sedikit hanya sekadar bisa untuk bertahan hidup," ucap Dewa Ayu Putu Linda (44) ketika ditemui di rumahnya, sekitar kawasan Peguyangan.
Pandemi COVID-19 yang telah menghantui semenjak beberapa bulan lalu ini, kian mengeruhkan berbagai problema kehidupan. Untuk sekadar menghirup udara segar di luar rumah pun susah. Apalagi untuk mencari pelanggan di tengah musibah. “Kalau dulu buat jajan sampai 200 biji habis terus. Sekarang laku 50 biji saja sudah bersyukur,” ungkap Linda. Selama dua tahun membuka usaha di kawasan Sedap Malam, baru kali ini Putu Linda mengalami kemerosotan ekonomi yang drastis. Dirinya hanya bisa berharap pemerintah akan memberikan pelayanan yang baik dan merata kepada warga, tanpa terkecuali. “Termasuk pemberian bantuan yang tepat guna dan tepat sasaran,” harap Linda.
Tak jauh berbeda dengan Putu Linda, Ni Ketut Kendri (58) pun turut merasakan pahitnya keadaan ekonomi akibat pandemi ini. Setelah 10 tahun mencicipi dunia usaha kuliner Bali baru kali ini dagangan Kendri sepi pembeli. Wanita asal Klungkung ini mengaku banyak pembelinya yang lari karena gencar beralih profesi “Penghasilan pada menurun karena kebanyakan jadi penjual. Kalau biasanya kan pekerja itu jadi konsumen tapi karena sekarang sudah diPHK jadinya mereka yang jualan sendiri,” tutur Kendri.
Keluhan Linda dan Kendri tidak ditampik oleh Made Mita Wikantari (19). Menurut Mita Wikantari, Setelah pandemi COVID-19 ini membuka usaha online seolah telah menjadi trend tersendiri. "Tidak hanya e-commerce yang saat ini kian marak, munculnya online shop baik itu menjual makanan, sayuran dan buah-buahan, ataupun produk lainnya. Sehingga membuat keberadaan pedagang warung saat ini sedikit terasingkan," kata Mita Wikantari.
Kendati demikian, tidak semua pedagang memiliki nasib buruk. Selaras dengan apa yang diungkapkan Ni Made Linda Septya Dewi (16) “Nggak semua pedagang itu pendapatannya menurun, masih ada yang stabil. Menurutku pedagang yang menurun tu pedagang yang usahanya mencakup pariwisata juga seperti pedagang oleh-oleh khas Bali,” jelas Septya Dewi. Menurut Septya Dewi, penghasilan pedagang sembako masih lebih stabil karena itu merupakan bahan pokok kebutuhan masyarakat. Septya Dewi menjadi salah satu remaja yang masih menaruh kepercayaan pada pemerintah. “Untuk saat ini pemerintah udah melakukan yang terbaik. Semua masyarakat harusnya lebih mengikuti aturan pemerintah. Semua kena danpaknya, jadi semua sama-sama bantu biar dunia kembali sehat begitu juga dengan ekonomi,” tutup Septya Dewi.
Berdasarkan pemantauan tim Madyapadma online, pada Selasa, (19/05), hari kelima penerapan PKM Kota Denpasar, beberapa ruas jalan yang sempat padat tempo hari, kini kembali terpantau cukup lenggang. Seperti di Jl Drupadi dan Jl Hayam Wuruk. Namun, kawasan Panjer hari ini masih cukup ramai dipadati kendaraan. Sementara itu, keadaan Jl Bypass Ngurah Rai masih menunjukkan kesenyapan yang serupa setelah pemberlakuan PKM diresmikan. Begitu juga dengan Jl Waribang, Jl Patih Nambi, Jl Gandapura, Jl Noja, Jl Padma, Jl Sekar Sari, dan Jl SMA 3. Di sisi lain, Jl WR. Supratman tampak tak menunjukkan perbedaan yang mencolok dibanding hari kemarin. Beberapa kendaraan masih lalu-lalang, namun keramaiannya telah berkurang sebagian semenjak penerapan PKM. Sama halnya dengan Jl Sesetan, yang frekuensi kendaraannya berkurang. Beberapa gerai fast food telah memilih menutup sementara usahanya, namun warung-warung kecil masih terlihat berjualan. Di jalan kawasan parkir karyawan RSUP Sanglah juga terlihat tak jauh berbeda pada hari perdana PKM. Terpantau pula kondisi Jl Ahmad Yani Utara yang keramaiannya masih tak banyak berubah semenjak Denpasar tegaskan dengan PKM.
penulis: kar/dyt
reporter: cok/ays/eka/Tim Madyapadma

