Dampak COVID-19 memang begitu terasa. Ingin sekadar pergi ke kantor pun sulit rasanya. Tak sedikit pula yang mendadak menerima surat PHK. Namun masyarakat Denpasar tak kehabisan akal, di tengah pandemi, bisnis online jadi andalan.
Sudah terhitung sebulan semenjak I Ketut Redite (51) membuka usaha jual beli buah-buahan lokal. Redite sangat aktif berjualan manakala rahinan umat Hindu tiba. Usaha yang dijalaninya ini dimulai ketika sanak saudaranya di kampung memberi kabar bahwa pasokan yang menjual buah-buahan lokal menurun drastis akibat pandemi ini. “Untuk itu saya memiliki insiatif untuk membantu agar petani-petani juga tidak mengalami masalah pada perekonomiannya,” aku Redite. Setelah memutuskan hal itu, ia mengaku segera mengurus surat-surat yang sekiranya diperlukan saat proses distribusi agar dirinya tidak sampai melanggar aturan yang berlaku.
Siapa sangka, niat baik laki-laki paruh baya itu, menuai hasil yang baik pula. “Dengan penjualan buah ini, hasilnya lumayan untuk menambah pendapatan, kebetulan juga di perumahan saya peminatnya lumayan banyak, karena buah lokal juga murah-murah,” tutur Redite. Walau baru terjun di dunia bisnis selama sebulan, namun Redite telah melewati beberapa lika-liku perjalanannya. “Kendalanya di perjalanan karena tempatnya lumayan jauh. Terkadang ada masalah surat-surat. Sempat waktu itu sudah mengurus surat-surat dengan lengkap, mencari surat kesehatan di rumah sakit, tau taunya malah tidak digunakan karena tidak ada pemeriksaan,” jelasnya. Baginya masa pandemi seperti ini memang harus dijalani dengan saling bahu-membahu menolong sesama. Meski krisis kesehatan, namun jangan sampai krisis kemanusiaan.
Kisah serupa lainnya juga datang dari Made Sudiani (45). Awalnya, Sudiani bekerja di salah satu perusahaan swasta yang terletak di kawasan Sanur. Sebelum COVID-19 menyerang kesehatan masyarakat, Sudiani telah menjual hasil olahan makanannya apabila terdapat pesanan ketika upacara-upacara adat. Akan tetapi setelah pandemi ini dirinya pun membuka usaha online yang dijalani setiap hari bersama suaminya yang merupakan seorang chef di salah satu hotel di Jimbaran. Meski harus bersaing ketat dan mengambil resiko hasil olahannya tidak laku terjual, Sudiani tetap yakin dan berteguh pada keputusannya. “Kalau kendala pasti ada. Intinya kita yakin. Selama apa yang kita lakukan tidak merugikan orang lain, tetap berusaha dan jangan menyerah,” semangatnya. Menurut Sudiani, setiap perjuangan pasti ada hambatannya. Yang dapat dilakukan hanyalah bersyukur pada keadaan dan berdoa pada Tuhan.
Di tengah wabah COVID-19 ini, memang diperlukan tenaga ekstra dan kecerdasan dalam mengambil berbagai peluang untuk mengais pundi-pundi rupiah. Demi memenuhi kebutuhan hidup di tengah pandemi, ada masyarakat yang memilih untuk membanting setir atau sekadar menambah penghasilan lewat bisnis online. Selaras dengan yang diungkapkan oleh Ngurah Keshawa Satya Santiarsa (17). “Langkah kita untuk menyikapi tantangan pekerjaan yang paling tepat adalah dengan memulai usaha sendiri. Terlepas dari keuntungan yang minim, setidaknya kita sudah mulai merintis, mungkin untuk saat ini tidak seberapa hasilnya tapi setidaknya masih bisa pakai buat survive di situasi COVID ini,” kata Keshawa. Bagi Keshawa, memulai usaha dalam keadaan darurat ini adalah langkah tepat dan positif. Tak jauh berbeda dengan yang diungkapkan Keshawa, Kadek Dwi Trisna Larasati (17) pun turut membagikan pandangannya. “Ada sisi positifnya sih. Kita jadi lebih kreatif dalam mencari uang, terus kita juga jadi lebih bisa ngatur waktu. Gak males-malesan aja selama COVID ini,” ungkap Dwi Trisna.
Pada hari ketiga PKM, ruas jalan Kota Denpasar semakin terlihat sepi. Berdasarkan hasil pantauan Tim Madyapadma online, Jl. WR Supratman, Jl. Sudirman, Jl. Raya Sesetan, Jl. Bypass Ngurah Rai, dan Jl. Cok Agung Tresna terlihat jauh lebih sepi dibanding hari-hari kemarin. Kondisi serupa juga terjadi di Jl. Patih Nambi, Jl. Kaswari, Jl. SMA 3, Jl. Noja Dukuh, dan Jl. Pulau Saelus.
Penulis: kar/dyt
Reporter: iwaw/kpw/tri/Tim Madyapadma

