Remaja memang haus akan ruang. Ingin bebas berekspresi tanpa mesti dibatasi. Manakala jalani masa pandemi, tentu tak sedikit yang menahan gejolak ingin pergi. Tak heran sebanyak 10 % pelanggar pelaksanaan PKM (Pembatasan Kegiatan Masyarakat) adalah remaja.
“Pasti akan pergi seperti biasanya tetapi sesuai keperluan saja, kalo enggak perlu mungkin akan diem di jumah gen (red- di rumah aja),” aku I Wayan Eka Semarandana (17) salah satu anak muda asal Kesiman, saat dihubungi, Sabtu (16/5) di Denpasar. Di tengah peperangan melawan COVID-19 memang terasa sulit apabila hanya duduk berdiam diri di rumah. Di hari-hari sebelum PKM (Pembatasan Kegiatan Masyarakat) diterapkan, memang laki-laki yang kerap disapa Eka ini acap kali bepergian keluar rumah.
Selain sekadar hanya membeli kebutuhan makanan, di tengah Pandemi ini Eka bahkan tetap aktif mengikuti perlombaan, atau bermain bulu tangkis di dekat rumahnya. Menurutnya, walaupun pemerintah telah menghimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah, namun wilayah Kesiman dahulunya tetap dipenuhi kegaduhan kendaraan. “Setelah ada PKM mulai agak sepi, dulu kalau siang di sini masih ramai sekali,” ujar Eka. Eka tak banyak berharap pada keberhasilan PKM, dirinya hanya mengharapkan adanya kesadaran masyarakat yang masih gemar bepergian tanpa tujuan jelas.
Rupanya bukan hanya Eka saja, I Wayan Satria Pradipa Ariwijaya pun mengakui hal yang sama. “Sebelum PKM biasanya pergi untuk COD-an, ya alasannya customer lebih gampang diajak COD daripada order pakai jasa antar barang online,” tutur Satria. Setelah pemberlakuan PKM pun, kemarin dirinya sempat berkeliling wilayah Denpasar. “Gerbang di beberapa perbatasan wilayah menurutku masih kurang ketat, hal yang seperti ini terasa kurang optimal,” ucap Satria kala dihubungi via daring.
Meski Denpasar masih berada dalam zona merah, beberapa remaja memang tetap lincah beraktivitas di luar rumah. Hal ini sesuai dengan “Mayoritas yang terkena tilang itu anak yang berkendara saat malam hari. Karena ada yang tidak menggunakan masker, ada juga yang tidak memakai helm,” jelas I Nyoman Yunika Kasputra (35) seorang pecalang Desa Pakraman Tembau yang bertugas di pos 7 Penatih. Nyoman Yunika masih mengharapkan ketertiban remaja Denpasar dalam mengikuti kebijakan. “Menurut pantauan tiang, masih ada 10% remaja yang belum tertib,” tambahnya.
Berdasarkan pantauan tim Madyapadma online pada hari kedua pelaksanaan PKM Kota Denpasar. Arus lalu lintas di seputaran Kota Denpasar tampak tak jauh berbeda dibandingkan dengan hari kemarin, hari pertama PKM (keramaiannya berkurang setengah dibandingkan sebelum PKM diberlakukan –red). Kondisi tersebut terlihat di Jl. WR. Supratman, Jl. Gatot Subroto Timur, Jl. Trengguli, Jl. Padma, dan Jl. Kaswari Selatan. Kepadatan pos 7 Penatih yang kemarin ramai diperbincangkan warga terlihat berbeda. Kini terpantau sore hari, arusnya telah berangsur lenggang. Petugas pos juga melakukan pemeriksaan kendaraan secara acak. Sehingga kemacetan seperti kemarin, tidak terulang kembali.
Sementara, keramaian arus kendaraan di Jl. Seroja, Jl. Kenyeri, dan Jl. Ratna terpantau tidak mengalami perubahan. Keadaannya masih sama seperti kemarin (hari pertama PKM -red). Terlihat juga terdapat satu dua orang yang bersepeda di seputaran Jl. Seroja dan Jl. Ratna. Di Jl. Seroja pula, sore ini terpantau seorang petugas menggunakan jas hujan biru, tengah menyemprotkan desinfektan di beberapa titik pusat keramaian. Kondisi di Jl. Hayam Wuruk juga tidak jauh berbeda dari hari perdana PKM. Di sepanjang Jl. Hayam Wuruk juga ditemukan pesepeda berkelompok dan pesepeda perorangan. Kendati begitu, kawasan perkantoran dan sekolah tampak begitu lenggang. Hal itu terlihat di Jl. Kamboja, Jl. Mawar, dan Jl. Melati (iwaw/kar/dyt/Tim Madyapadma).

