Tak seperti biasanya, ruangan ber-AC itu tampak lebih ramai. Manik mata puluhan remaja itu memusat di satu titik. Rupanya sebuah video ekspedisilah yang berhasil mencuri perhatian mereka semua. Lantas, bagaimanakah kisah yang tersimpan pada ekspedisi kemarin?
Waktu berjalan begitu cepat, ketika membuka mata di keesokan hari kumpulan remaja itu akan langsung menghadapi Ekspedisi Jejak Arkeologi Munduk Juwet. Ekspedisi yang diselenggarakan oleh Madyapadma Journalistic Park ini, telah dilaksanakan sejak tahun 2008 dengan mengusung tema “Menjelajahi Pulau Tandus, Menggali Potensi Terpendam”. Ekspedisi pertama yang dilaksanakan pada 12 tahun silam mengambil tempat di Nusa Penida dengan kolaborasi bersama CII (Conservation Internasional Indonesia). Angkatan 30 Madyapadma lah yang menjadi pelopor kegiatan jelajah yang satu ini. Kegiatan ekspedisi ini, hampir diselenggarakan secara rutin oleh tiap-tiap angkatan. Sayangnya, angkatan 31, 35, dan 38 tak sempat untuk menyusun acara ekspedisi. Kegiatan ekspedisi, rupanya meninggalkan memori yang manis bagi para pesertanya. “Ekspedisi kemarin itu seru banget. Momen yang memorable juga,” aku Tjok Istri Sintawati salah satu peserta Ekspedisi Pesisir Barat.
Ada begitu banyak cerita yang tersimpan disetiap ekspedisi. “Pokoknya yang paling seru itu pas di daerah Negara. Soalnya naik turunnya banyak banget, terus kebetulan juga aku jarang lewat daerah sana,” ungkap Tjok Sinta pada Kamis (16/01). Ekspedisi bukanlah kegiatan yang sembarang dilakukan. Kegiatan jelajah ini selalu memiliki tujuan yang berbeda-beda di tiap angkatannya. Hal serupa juga diungkapkan oleh I Nyoman Tri Sendyana (19) atau yang lebih akrab disapa Atik selaku pemimpin umum Madyapadma angkatan 40. Menurutnya Ekspedisi Pesisir Barat yang diselenggarakan oleh angkatannya memiliki fokus utama untuk mengingatkan bahwa di Bali bagian barat juga memiliki potensi yang tak kalah dengan bagian selatan atau timur yang memang lebih sering diekspose. Karena itulah ekspedisi yang dilaksanakan pada Januari 2018 itu bertajuk “Harta Karun Bali yang Terlupakan”.
Begitu banyak hal baru didapat dari kegiatan jelajah yang dilaksanakan. Seperti pada ekspedisi angkatan 40, sebuah buku mengenai harta-harta yang tersembunyi di Bali bagian barat berhasil diterbitkan. Tak tanggung-tanggung, panjang rute yang harus ditempuh untuk Ekspedisi Pesisir Barat mencapai angka ratusan kilometer. Menempuh perjalanan sejauh itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ada berbagai rintangan yang muncul. “Kondisi di lapangan itu beda sama yang udah kita perkirain pas planning ekspedisi, kaya tim reporter yang susah nyari narasumber, tim sepeda yang waktu perjalanannya nggak sesuai karena telat berangkat, rutenya yang susah,” tutur Atik. Ekspedisi Pesisir Barat bukanlah kali pertama Atik mengikuti kegiatan jelajah tersebut. Sebelumnya Atik mengikuti Ekspedisi Pesisir Timur yang diselenggarakan oleh angkatan 39 Madyapadma. Hambatan yang dialaminya pun hampir sama. “Ngatasin kondisi yang seperti itu, kita mau nggak mau harus improvisasi di lapangan, liat situasi di lapangan, ada langkah lain nggak yang bisa diambil kalau langkah yang direncanain ternyata gabisa,” terangnya.
Kerjasama dan koordinasi antar tim sangat diperlukan dalam kegiatan ekspedisi ini. Hal tersebut bertujuan agar kondisi saat ekspedisi tetap terjaga. “Kerjasama itu hal wajib dalam menyukseskan acara, tapi selain itu perlu juga kemampuan mengambil keputusan yang baik di lapangan. Jangan lupa juga buat selalu bahagia dalam menjalani kegiatan seperti ekspedisi. Karena pada dasarnya kan ekspedisi ini jalan-jalan sambil belajar dan berkarya,” pesan Atik di akhir wawancara. (dyt)

