Cuaca cerah hiasi langit bumi SMAN 3 Denpasar. Nampak para siswa yang berdatangan dengan pakaian khas Trisma. Namun ada yang berbeda dari itu semua. Rabu (15/01) Nampak beberapa siswa-siswi dengan celana pendek biru dan baju endek sedikit demi sedikit mendatangi Trisma.
Tepat ketika jarum waktu menunjukkan pukul 07.30, siswa-siswi SMP di seluruh Bali mendatangi bumi Trisma. Menghabiskan waktu dengan berkeliling lingkungan sekolah seakan-akan menjadi hal yang menarik untuk dilakukan. Manik matanya bergerak liar mencari satu objek yang menarik untuk diperhatikan. Namun, hal itu tidak dapat menutup raut kecemasan dan ketegangan yang tampak begitu jelas. Sesekali bibirnya berkomat-kamit menghafal materi untuk perlombaan ETC (Enterpreneurship Trisma Competition) dan TSO (Trisma Science Olympic).
Ketika arah-arahan terdengar di pengeras suara, seketika semuanya terdiam dan memasang telinga mereka guna mencerna semua informasi yang disampaikan. Rupanya seluruh peserta lomba diminta untuk berkumpul di workshop untuk mengikuti pembukaan acara. Tepat ketika pukul 08.30 lomba ETC dan TSO resmi dibuka oleh Kepala Sekolah SMAN 3 Denpasar, Drs. Ida Bagus Sudirga, M.PD.H. Satu persatu peserta mulai keluar dari workshop lantas menuju tempat bertempur mereka. Beberapa peserta tampak menundukkan kepala, merapalkan doa demi kelancaran mereka.
Sebagian peserta terlihat bergerak menuju ruang pertemuan atas Trisma. Langkah kakinya terdengar bergema mengisi ruangan. Terlihat pula beberapa pembina yang menemani anak didiknya. Menurut salah satu pembina, I Ketut Nugraha Swadharma, SE, MM, TH, TCH, CH, CHt, CNNLP, MNNLP, CI, CTNNLP, CQG, MQG, MH, MHt, CMH, CCH (34), selaku pembina dari SMPN 9 Denpasar mengungkapkan bahwa ETC merupakan kegiatan yang sangat menguntungkan bagi para kaum millennial. “ETC itu kegiatan yang sangat bagus untuk merangsang generasi millennial menjadi entrepreneurship yang cerdas, berkompeten, dan berdaya saing tinggi dalam era digital,” terang Nugraha. Selain bertujuan untuk menumbuhkan kreatifitas generasi muda, lomba ini juga dapat menambah pengalaman baru dan wawasan-wawasan bagi para pesertanya. Selaras dengan apa yang diungkapkan oleh salah satu peserta Lomba ETC dari SMPN 3 Denpasar, Ni Made Galuh Cakrawati Dharma Wijaya (15). “Aku ikut lomba ini buat nambah pengalaman baru walaupun agak tegang tadi karena pertanyan juri tapi syukur udah selesai,” ungkap Galuh.
Terlepas dari ruangan lomba ETC yang dikelilingi dinding berlapis kaca, kondisi berbanding terbalik dengan lomba TSO yang pelaksanaanya jauh lebih tertutup. Lab biologi dan Lab Kimia yang sebelumnya selalu terbuka dan terpapar sinar sang surya, kini tertutupi dengan tirai-tirai merah yang menghalangi sinar masuk. Ruangan ber-AC ini terlihat dipenuhi oleh siswa-siswi yang tengah terfokus dengan kertas dihadapan mereka. Terlihat pula beberapa peserta yang terlihat membolak-balik kertas lantas menulis di kertas lain. Setelah sekian lama akhirnya waktu pengerjaan telah berakhir. Para peserta terlihat keluar ruangan dengan hembusan nafas lega seakan-akan beban seberat 1 ton telah diangkat dari pundak mereka. Ni Kadek Ami Diastuti (14), peserta TSO yang berasal dari SMPN 2 Rendang ini mengaku mengikuti lomba ini dengan tujuan untuk mempermudah mencari SMA. TSO 2020 ini juga bukan kali pertama bagi Ami. “Sekarang itu nyari sekolah pakai zonasi jadi aku cari kesempatan lomba-lomba, siapa tahu bisa sekolah disini,” ujar Ami. TSO sendiri merupakan olimpiade yang terdiri dari matematika, fisika, biologi, kimia dan geosains yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dari generasi muda. “Harapan terbesarku ya semoga aku bisa menang dan untuk kedepannya semoga kegiatan ini bisa berjalan lebih baik lagi,” harap Ami. (krn/dyt)

