“Patah kiri hitungan 2x8 mulai,” seru laki-laki berkaos putih memberi arahan kepada kumpulan remaja itu. Sontak saja semuanya menggerakkan badan di tengah panasnya Lapangan Niti Mandala Renon. Teriknya mentari tak cukup tuk menyurutkan semangat remaja-remaja itu.
Sore itu (14/01) telah memasuki hari kedua latihan fisik menuju Ekspedisi Jejak Arkeologi Munduk Juwet, Tabanan. Di hari kedua ini rupanya semangat belasan remaja itu kian berkobar. Dengan sigapnya mereka mengikuti arahan. Cukup dengan satu seruan, dengan kompaknya mereka bergerak-gerak tunjukkan keseriusan mereka menjelang ekspedisi di tahun 2020 ini. Ada yang berbeda dengan latihan fisik hari kedua ini, jika Senin kemarin latihan fisik dilaksanakan di lapangan hijau Trisma, kali ini latihan menuju ekspedisi dilakukan di Lapangan Niti Mandala Renon. “Kenapa di Renon itu karena di sekolah masih ada acara EPT (Eksebisi Praja Trisma). Jadi tidak memungkingkan untuk kita latihan, karena kita harus lari keliling lapangan,” ungkap Ni Made Yani Savitri Devi (17) selaku peserta Ekspedisi Jejak Arkeologi Munduk Juwet.
Awalnya latihan fisik ini dijadwalkan akan dilaksanakan mulai pukul 4 sore hingga 6 sore. Sayangnya rencana tersebut tak berjalan lancar, hingga jarum jam menunjukkan pukul 5 sore masih banyak orang yang berlalu-lalang di kawasan SMAN 3 Denpasar. Tentu saja itu menjadi halangan bagi mereka untuk melakukan latihan fisik di sekolah. Akhirnya belasan remaja itu sepakat untuk latihan fisik di tempat lain, untuk mengekfektifkan waktu. Selaras dengan yang diungkapkan I Nyoman Lanang Putra Pandu (16) sebagai salah satu peserta ekspedisi tahun 2020. “Dipikir-pikir daripada nggak latihan sama sekali mending kita pindah tempat ke Renon,” ungkap Lanang.
Latihan pun dimulai pukul 5.30 sore selama satu setengah jam. Latihan yang dilakukan pun masih sama dengan latihan pada hari pertama, hanya saja ada beberapa gerakan tambahan. “Menurut saya, dibandingkan kemaren, latihan hari ini terasa lebih berat. Selain karena lapangannya yang lebih luas, dan ada tambahan beberapa gerakan juga seperti gerakan naik turun tangga,” aku Yani Savitri. Gadis yang menggunakan behel itu juga mengaku bahwa dirinya yang jarang berolahraga juga membuat latihan terasa lebih berat. Rupanya hal yang sama juga dirasakan oleh Lanang. “Kalau aku sendiri lumayan berat karena aku jarang olahraga di rumah. Sampai badanku sakit-sakit sehabis latian kemarin,” tutur Lanang laki-laki bertubuh tinggi. (dyt)

