Senin (13/01), angin yang berhembus sedikit kencang temani belasan remaja yang tengah melatih kebugaran mereka. Sesekali peluh tampak menetes dari pelipisnya. Rupanya kali ini terik sang mentari tak ingin mengganggu niat belasan remaja yang tampak serius itu. Ada apakah?
Kaos identitas sekolah membalut tubuh belasan remaja itu. Saat itu waktu menunjukkan pukul 4 sore, badannya terus bergerak mengikuti arahan yang diberikan. Barang semenit dua menit kumpulan remaja tersebut berhenti sejenak, mengurangi penat yang mulai terasa. Tetes demi tetes keringat mulai membasahi tubuhnya. Tampaknya remaja-remaja itu tengah mengikuti latihan fisik guna menyiapkan diri pada ekspedisi nanti. Setelah dua tahun terlewat, akhirnya acara ekspedisi kembali hadir. Jika di tahun 2018 dilaksanakan jelajah sepeda Bali bagian barat, di awal tahun 2020 ini akan dilaksanakan ekspedisi jejak arkeologi Munduk Juwet, Tabanan. Oleh karena itu, belasan remaja itu melakukan latihan fisik untuk mempersiapkan daya tahan tubuh mereka saat kegiatan jelajah nanti.
Melakukan jelajah selama 3 hari tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kondisi tubuh yang baik benar-benar diperlukan untuk hal yang satu ini. Latihan fisik pertama ini diawali dengan pemanasan lari keliling lapangan SMA Negeri 3 Denpasar. Setelah itu, para peserta ekspedisi akan dihitung denyut nadinya. Lantas barulah latihan kembali dilanjutkan dengan push up, sit up, sprint, plank, dan lain sebagainya. Latihan fisik ini memang memiliki berbagai manfaat. Selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Kanianita Sanjaya selaku peserta Ekspedisi Jejak Arkeologi Munduk Juwet, menurutnya latihan yang satu ini selain untuk melatih kebugarannya juga dapat memberi bayangan seberapa tenaga yang akan terkuras selama ekspedisi nanti. “Sebelumnya aku memang orangnya jarang olahraga, jadi waktu tau ada pelatihan fisik seneng sih, nanti waktu ekspedisi biar nggak kaget jadinya,” tambah Kanianita.
Rupanya latihan fisik yang dilaksanakan ini memberi kesan tersendiri bagi para peserta Ekspedisi Jejak Arkeologi Munduk Juet. “Pelatihan fisiknya ini mendebarkan, bikin jantung jadi deg-degan,” gurau Ni Putu Sasti Wulandari Dwipa (17) seusai meneguk satu botol air mineral. Ekspedisi tinggal menghitung hari, segala doa dipanjatkan demi kelancaran acara yang satu ini. “Dengan adanya pelatihan fisik ini semoga nanti di perjalanan semua bisa lancar-lancar saja,” harap Kanianita diakhir wawancara. (dyt)

