Parade Semara Pagulingan Duta Denpasar dan Gianyar Tampil Memikat

Suara Riuh diiringi irama gamelan di Kalangan Ayodhya, Taman Budaya, memikat pengunjung Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2019 untuk menyaksikan penampilan Duta Kota Denpasar dan duta kabupaten Gianyar menampilkan Parade Semara Pagulingan, Sabtu Siang (29/6).
Penampilan duta kota Denpasar bahkan mendapat dukungan penuh dari Wakil Walikota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara dengan hadir menyaksikan langsung penampilan Sekaa Gong Kerthi Yasa, Br. Suwung Batan Kendal, Kelurahan Sesetan, Denpasar. Duta kota Denpasar yang menampilkan Tabuh Langsing Tuban, tabuh kreasi ‘Nge-lindur Nada’, Tari Kesari Gandrung dan Tari Legong Kuntir. Tari Legong Kuntir ini terinspirasi dari cerita Ramayana. Tarian ini menceritakan tiga orang putra seorang Rsi yaitu Arya Bang, Arya Kuning dan yang bungsu Dewi Anjani. Suatu hari sang Rsi memberikan kedua putranya gelang sementara kepada sang bungsu yakni Dewi Anjani diberikan sebuah cermin yang diberi nam ‘Cupu Manik’. Cermin ‘Cupu Manik’ dapat melihat ke masa lalu, sekarang dan akan datang. Kedua putranya sangat menginginkan cermin ‘Cupu Manik’. “Melihat kejadian itu sang Rsi melemparkan Cupu Manik ke dasar kolam. Kedua putranya berebut menyelam ke dasar kolam memperebutkan Cupu Manik. Tetapi mereka gagal mendapatkannya. Saat mereka muncul kembali ke permukaan kolam, wajahnya kedua putranya menjadi kera,” papar pembina tari Legong Kuntir, Ni Wayan Eni Fristariani.
Seorang penari tari Legong Kuntir, Ida Ayu Trianan Titania Manuaba mengaku bekerja keras untuk persiapan menari di PKB ini dilakukan selama dua bulan agar menguasai teknik menari legong. “Jadi tantangan selama latihan itu mencari kekompakan,” tutur Trianan Titania Manuaba. Menurut Titania, perkembangan zaman, membuat Tari legong yang ditampilkan oleh dua penari perempuan ini mengalami sedikit perubahan. “Dari dulu sampai sekarang pasti mengalami perubahan dari segi susunanya, pakem, ekspresi, style dan lain sebagainya,” jelas Titania. Penampilan duta kota Denpasar ini ditampilkan oleh Sekaa Gong Kerthi Yasa, Br. Suwung Batan Kendal, Kelurahan Sesetan, Denpasar.

Sementara itu, penampilan duta Gianyar tak kalah menariknya. Duta Gianyar yang ditampilkan oleh Komunitas Seni Bagus Pangus dari Br. Payangan berkolaborasi dengan Karang taruna Sandi Janana, desa Melinggih, kecamatan Payangan, Gianyar menampilkan Tabuh Sekar Gendot mejadi penampilan pembuka, kemudian tarian Legong Kuntir. Tabuh Sekar Gendot merupakan tabuh klasik yang lahir di Gianyar. “Pilihan tabuh Sekar Gendot karena ada pemikiran untuk mempertahankan jati diri dalam konteks ini tabu khas daerah,” terang pembina duta kabupaten Gianyar, Wayan Q. Wirabawa. Tak heran irama suling dan juga gender menyatu menjadi irama yang selaras. “Untuk tabuh ini memang sudah lama digarap dan kita sudah berlatih sekitar bulan Februari kurang lebih empat bulan,”tutur seorang penabuh Gangsa dari duta Gianyar, Putu Ayong Krisnanda Wahyu Kusuma.
Seorang penonton yang menyaksikan penampilan duta kota Denpasar dan duta kabupaten Gianyar, Wayan Wirana mengapresiasi penampilan Semara Pagulingan dari kedua duta tersebut. “Kalo penampilannya dua-duanya bagus, tapi Denpasar seninya lebih kental dibandingkan Gianyar, kalo Gianyar sudah ada perubahan dari Legongnya,” tutur Wayan Wirana. (del/dip)

