Hentakkan nyanyian dan gerakan ratusan penari janger mengajak penonton untuk menari bersama, tarian pergaulan ini memang senantiasa menghibur dan mengedukasi.
Malam minggu terasa semakin hangat, sebab hiburan memikat membuat diri ini rela untuk tetap lekat pada tempat yang sudah dipilih untuk menyimak pementasan. “Luar biasa!” Itulah seru I Made Rudiasa (45). Pria plontos ini memang sengaja menyempatkan diri untuk hadir di Art Center. “Saya pribadi memang gemar menonoton jejangeran dan kebetulan saya ajak juga keluarga saya untuk menonton janger yang spektakuler ini,” ungkapnya menggebu. Komentar yang terlontar dari bibir Rudiasa bukanlah isapan jempol semata. Sebab, penampilan janger yang dipersembahkan Sanggar Ratu Kinasih dan Sanggar Kekeran Budaya benar-benar memukau khalayak yang hadir.
Sanggar Ratu Kinasih yang mempersembahkan janger bertajuk Tari Janger Indonesia Indah menceritakan sebuah cara untuk tetap mempersatukan bangsa dengan diselingi gending-gending bertemakan cinta tanah air. Sebanyak 200 orang penari terlibat dalam pementasan ini. Kelihaian penari dalam memadukan gerakan dengan gending mampus menghipnotis khalayak yang hadir. Meski dinilai mempersembahkan janger dengan maksimal, namun selaku pengempu sanggar, I.A.A Yuliaswathi Manuaba menuturkan sanggarnya tak hanya bergerak pada tari janger saja, “Tidak khusus janger, kami juga bergerak di tari sakral topeng, tari kekebyaran dan lainnya,”ungkapnya. Wanita yang gemar berkesenian ini menuturkan untuk janger sendiri, sanggar yang berdomisili di Nusa Lembongan, Klungkung ini pun telah 4 tahun bergelut dalam jejangeran. “Untuk janger kami 4 tahun belakangan ini memang mencoba terus meregenerasi dan merangsang generasi muda sebagai media pemersatu diantara mereka,” ujarnya menambahkan.
Seusai ke Nusa Lembongan, Sanggar yang turut mengisi parade janger dimalam minnggu kemarin yakni Sanggar Kekeran Budaya, Denpasar Selatan. Penampilan yang disajikan sanggar ini memadukan janger dengan dolanan, yang bertajuk Kedis Sangsiah. Janger yang mengambil konsep inovatif anak-anak inipun tentunya melibatkan anak-anak dan sajian yang dipersembahkan lebih meremaja. Sesekali tawa penonton mengisi penampilan Sanggar dari bumi omed-omedan, Sesetan ini. “Konsep ini sengaja kami gunakan agar anak-anak yang tampil dapat menikmati pementasan dan lebih akrab dengan penonton,” tutur Putu Vinka Paramaditya. Dirinya yang turut melatih anak-anak Sanggar Kekeran Budaya pun merasa bahagia, akhirnya anak didiknya dapat menampilkan janger yang maksimal. “Senang lihat anak-anak tampil, sebab ini bagian dari pelestarian budaya dan mereka sudah menjadi kader pelestari khususnya dalam jejangeran,” ujarnya.
Sama-sama kedua kalinya mengisi acara Nawanatya, tentunya ada saja kendala yang dihadapi, “Karena penari ada di 3 lokasi ada yang di Nusa Lembongan, ada yang bersekolah di Klungkung dan ada di Denpasar, jadi harus benar-benar berkoordinasi dengan baik,” tutur Yuliaswathi menambahkan. Selain itu, karena sajian janger bersifat kolosal sehingga lokasi untuk berlatih haruslah memadai. Namun, keterbatasan itu semua dapat dipatahkan dengan penampilan yang memuaskan. Kemarin malam kedua sanggar ini seolah mengajak para penonton "Mejangeran Sareng Sami!". (Tim MP)

