“Seni budaya di sekolah itu selama ini sebatas pada teoritis, jadi dengan kesempatan ini ayo dipraktekkan seni itu,” ajak I Ketut Serawan, S.Pd mantap.
Begitulah kalimat yang terlontar dari bibir I Ketut Serawan, S.Pd. Pria yang mengajar di SMP Cipta Dharma sebagai guru bahasa Indonesia ini pun mengaku prihatin dengan kondisi seni budaya saat ini. “Basic saya memang bukan di seni budaya, tetapi disini saya paham betul bahwa seni di sekolah-sekolah hanya sebatas teori dan saya tak ingin seni hanya sebatas pada pemahaman teori saja,”ujarnya. maklum saja pria bertubuh kurus ini berujar demikian. Sebab, untuk mencari pemain dalam pementasan di Nawanatya, Serawan benar-benar mempraktekkan apa yang disebut teori itu. “Anak-anak yang tampil tidak ada dari ekstra teater atau semacamnya, mereka semua terpilih berawal dari materi drama di kelas jadi saya ajak mereka berpraktek dan itulah tujuan teori yang sebenarnya, itulah yang ingin saya tekankan bahwa teori digunakan sebagai landasan untuk berpraktek bukan stop hingga di teori saja,” bebernya kritis.
Garapan yang bertajuk ‘Aib’ ini pun terkesan berani, sebab ini berawal dari cerita asli yang cukup dewasa. Namun, Serawan mensiasati, karena ini sebagai bentuk keprihatinannya terhadap fenomena joged jaruh yang meresahkan. “Ini sebenarnya cerita dewasa, naskah dimodifikasi agar unsur joged itu bisa masuk kesana. Itulah sebabnya saya ingin otokritik bagaimana fenomena joged jaruh itu menjadi kambing hitam terjadinya suatu aib di masyarakat,” ungkapnya serius. Serawan yang mengambil anak-anak baru, harus mengajarkan sejak awal bagaimana agar dapat tampil dengan maksimal. “Bagaimana mereka main supaya gak blocking, serta mengenai olah rasa, olah sukma, dan olah gerak pun itu harus saya ajari dari awal,” terangnya.
Satu pemikiran dengan Serawan, I.A.Vivianne Adyantara, S.Pd pun turut berkomentar. “Memang begitulah adanya, jadi dengan Nawanatya inilah sebagai wadah untuk mempraktekkan teori seni itu sendiri,” ujarnya. Meski di tempatnya mengajar (SMPN Widyasuara Sukawati Gianyar) ia mengampu tugas sebagai guru bahasa inggris, namun Vivianne tak pernah lepas dari seni. “Saya kebetulan memang mengajarkan ekstra tari sekaligus guru bahasa inggris. Sebagai guru sudah 14 tahun dan tari dari usia 5 tahun,” ungkapnya. Maklum saja, wanita kelahiran Batuan ini memiliki kakek dan nenek penari, sehingga seni itu sudah lekat dalam dirinya. Dalam garapannya, SMPN Widyasuara mempersembahkan 4 tarian, yakni Tari Selat Segara, Tari Cendrawasih, Tari Jauk, dan Tari Kembang Girang. Dengan keempat tarian ini diharapkan agar dapat merangkum seni tradisional yang umumnya mencakup tari kelompok, tari tunggal, dan tari berpasangan.
Sebagai seorang pendidik, baik Serawan dan Vivianne juga mengutarakan harapan demi harapan, dimana Nawanatya agar senantiasa menjadi corong budaya untuk mengekspresikan diri.
Anak-anak Terlahir dan Berproses
Dengan kepolosan dan kepercayaan diri, anak-anak TK dari TK Cipta Dharma dan TK Srikandi juga turut unjuk gigi. Sebagai penampil pertama TK Cipta Dharma menampilkan 7 garapan yang menghibur. Disela-sela pernampilan, Gusti Ketut Sri Susanti sebagai guru TK Cipta Dharma pun tampak sibuk membenahi dan membantu anak didiknya yang menangis agar dapat tampil kembali dengan ceria. “Kami berani untuk mengambil anak-anak baru, mereka ini TK kecil semua, jadi saya maklum saja,” ungkapnya. Dirinya menambahkan bahwa yang dia harapkan bukanlah bagus atau tidaknya anak-anak tampil, melainkan agar anak-anak dapat lahir dan berproses dengan hal yang mereka jalani.
Tak jauh berbeda dengan Susanti, Ni Wayan Suka, guru TK Srikandi ini pun turut mengatakan hal senada. “Kita mengajarkan dan mendidik agar anak-anak paham bahwa berkesenian itu perlu proses dan untuk memperkenalkan budaya inilah langkah yang tepat untuk dilakukan,” terangnya. Dengan mempersembahkan 8 garapan, TK Srikandi pun memvariasikan antara seni tradisional dengan modern, yakni terdapat Tari Pendet, Gita Santi (Mekidung), Dance, fashion show, dolanan, paduan suara dan Tari Pusparesti. Dibalik keluhannya soal minimnya dana yang diberikan untuk menunjang garapan, namun Ni Wayan Suka pun tetap berharap agar Nawanatya senantiasa hadir untuk menjadi ruang agar anak-anak senantiasa mengenal seni dan berproses. (Tim MP)

