Dengan berkesenian, keajegan budaya Bali tak perlu diragukan akan hilang. “Tunas-tunas muda yang kreatif selalu terlahir,” ujar Prof. Dr. I Made Bandem selepas menonton janger.
Nawanatya senantiasa ada untuk menumbuhkan untuk keajegan Bali, sebab itulah pengamat seni yang akrab dengan sapaan Prof Bandem ini berujar demikian. Sebelum janger kreasi dimulai, di belakang panggung Ayodya, Taman Budaya, I Gusti Ngurah Serama Semadi berujar mantap, “jangan menjadi remaja yang melempem”. Bukan tanpa alasan kepala SMK Negeri 3 Sukawati ini berujar demikian, saat mendampingi anak didiknya. Tak hanya mendampingi, Ngurah Serama pun adalah ‘otak’ dari garapan yang ditampilkan seniman kebanggaannya. “Yohana Jayantika, kemenangan seorang remaja. Jadi sebagai remaja jangan melempem, harus semangat dan kreatif dalam menggali sesuatu,” tekannya dengan gurat wajah serius. Dengan melihat keseharian anak didiknya, pria berkumis ini pun mendapatkan ide garapan ini. Meski waktu persiapan relatif singkat, namun seniman dari SMKN 3 Sukawati tetap tampil dengan total.
Mengingat julukan Kabupaten Gianyar sebagai bumi seni, I Gusti Ngurah Serama memiliki harapan sederhana untuk sekolah tempatnya memimpin. “Awalnya Kokar Bali, jadi SMKN 3 Sukawati sehingga berikanlah dia (SMKN 3 Sukawati-red) spesial, umpamanya dia diberikan apa misalnya sendratari,” harapnya. Sebab, sebagai sekolah kejuruan berbasis seni pertunjukan, dirinya sangat yakin keluarga besar SMKN 3 Sukawati dapat mempersembahkan sesuatu yang ‘lebih’ dan spesial tanpa harus keluar dari pakem-pakem seni itu sendiri.
Sebelas dua belas dengan Ngurah Serama, Wayan Agustiana (Kepala SMK Negeri Bali Mandara-red)menuturkan turut terinspirasi mengerjakan garapan janger kreasi melalui kehidupan sehari-hari anak didiknya. “Sehari-hari mereka hidup di asrama, fluktuasi kehidupan berasrama ada asmara, cemberut, suka cita dan inilah yang ditangkap pembina sehingga jadilah garapan ini,” paparnya lantang. Dengan memberi judul ‘Gitaning Den Bukit’ menceritakan kehidupan remaja yang bernanung di Kabupaten Buleleng. Sejumlah 4 lagu baru menjadi pengiring janger kreasi 12 pasang penari janger. “Dalam garapan ini kami mengajak generasi muda Bali untuk siap mengahadapi perubahan global ini,”tambahnya.
Dijumpai seusai pementasan kedua sekolah tersebut, Prof. Dr. I Made Bandem (pengamat seni) memberikan apresiasi sekaligus masukannya. “Buleleng (SMK Negeri Bali Mandara-red) lebih sederhana tetapi banyak kreasi lagu yang ditampilkan, kalau mereka tampil lagi mereka bisa mengambil elemen janger dari menyali sehingga ada style atau gaya khusus,” ujarnya pelan. Setelahnya, Bandem pun kembali melanjutkan, “Untuk SMK 3, Potensi anak-anaknya semua kuat, komposisi apik dan enerji yang prima. Namun dalam seni kerakyatan perlu kesederhanaan,” tuturnya. Peranan penabuh yang dominan., nawanaya lahirkan tunas muda yang kreatif. Pada Intinya, dirinya pun menuturkan bahwa kedua sekolah kejuruan ini sama-sama memiliki ciri khas untuk sebuah seni pertunjukan. (Tim MP)

