Orang pintar dan cerdas itu banyak. Mekacakan (melimpah-red). Sayang, pintar dan cerdas tak cukup sebagai langkah untuk berkontribusi pada negara. Para tetua mendamba budhi (karakter) dalam setiap bentuk kontribusi.
“Lewat segala cara bisa dilakukan. Asal itu positif, bisa berkontribusi untuk negara kita,” tutur I Wayan Gede Arsana ditengah perbincangan. Celoteh pria bertubuh tambun ini mengisyaratkan kepada insan muda perihal karakter yang mutlak dimiliki setiap elemen profesi. “Menyatukan seni supaya bisa memberi makna dalam kehidupan bukan hal yang mudah. Apalagi sekarang banyak orang hebat, banyak seniman hebat, tetapi etikanya dimana?,” tanyanya miris. Rasa prihatin yang membalut dirinya, membuat Arsana semakin mantap untuk menggarap janger kreasi bertajuk Mukti Palapa pada Nawanatya ke-3 ini. “Menananmkan pendidikan karakter melalui cara Gajah Mada dalam menyatukan nusantara, sehingga kebhinnekaan pun tumbuh disana,” terangnya saat memaparkan pesan dalam garapannya. Sebagai pembina dari SMK Negeri 5 Denpasar, dirinya pun yakin akan kemampuan siswa-siswinya. “Pada dasarnya, sekolah kami khusus pada seni karawitan, tari, dan pariwisata. Sehingga kami hanya perlu memoles, meski terhadang bulan bulan ujian,” ungkapnya.
Membalut pendidikan karakter melalui seni, itulah yang ingin diupayakan oleh Arsana. Kehadiran tarian nusantara dalam garapannya seperti tari Rantak, Jaipong, Pakarena, Pemburu, dan kembali ke Janger itu sendiri. Bhinneka Tunggal Ikha Tan Hana Dharma Mangrwa, menjadi landasan penampilan ini. Senada dengan Arsana, Kadek Putri Erawati (pembina garapan SMA Negeri 1 Kediri-red) pun turut menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi insan muda yang krisis karakter. “Disini kami ingin menyadarkan kepada insan muda bahwa hidup tak hanya bergantung pada bangunan tinggi (perusahaan-red), dengan bertani pun kita bisa sejahtera,” terangnya. Memadukan keajegan gumi Tabanan sebagai lumbung padi dan bahaya joged porno membuat Erawati dan anak didiknya berhasil menghibur para penonton. “Generasi muda harus menjadi petani dan seniman yang cerdas. Jangan mau diiming-imingi dengan uang saja,” tambahnya serius. Dirinya percaya, bahwa dengan kembali pada jati diri sebagai negara agraris, Bali pun tak akan meringis. “Kalau kita bertani tak akan pernah habis, kalau ada tanah jangan dijual untuk membangun, mending bertani,” ucapnya mengakhiri perbincangan
Butuh Suntikan Dana
Menciptakan pementasan yang ‘wah’ mesti dibarengi dengan biaya yang ‘wah’. “Zaman sekarang sulit sekali berkesenian tanpa uang,” tutur Erawati miris. Dana 15 juta rupiah yang belum termasuk dipotong pajak, membuat Erawati tertatih-tatih mencari biaya tambahan. “Pakaian anak-anak, konsumsi latihan selama persiapan itu menghabiskan 40 juta,” ungkapnya yakin. Kedepannya, Erawati pun berharap agar pemerintah senantiasa melirik kesulitan yang melanda sekolah saat ingin berkreasi. Sehingga, Erawati dan Erawati lainnya lebih leluasa dalam berkreasi, khusunya di kancah seni. (Tim MP)

