Seni itu tidak kaku, itulah yang ingin disampaikan oleh Drs. I Wayan Dhania, M.Pd “Seni itu luwes, bisa digabung dan dikreasikan sesuai nilai kehidupan saat ini,” ujar pria yang menjadi Kepala SMP Negeri 4 Denpasar ini.
Bukan tanpa alasan Dhania bertutur demikian. Pria dengan tampilan sederhana ini pun sangat mengagumi seni dan seluk beluknya. “Memang sudah kodratnya seni itu kita kreasikan, apalagi orang Bali terkenal kreatif, sehingga menghasilkan garapan yang inovatif pula,” ungkapnya. Sebagai penanggung jawab garapan anak didiknya, Dhania menuturkan garapan yang bertajuk ‘Brata Natyam’ ini terinspirasi dari kisah kebajikan dan ber-Tri Kaya Parisudha. “Pada intinya bagaimana kita berprilaku yang baik di kehidupan ini,” tutunya halus. Mengusung konsep fragmentari, garapan ini tentunya mencakup tarian yang dibalut dengan unsur dramatisasi. Penggabungan inilah yang membikin khalayak yang hadir paham betul dan menyimak baik-baik garapan karya keluarga SMP Negeri 4 Denpasar.
Kebolehan dalam berkesenian juga ditunjukkan oleh siswa-siswi SMP Negei 1 Ubud. Maklum saja, sekolah menengah yang berdomisili di bumi seni Gianyar ini pun sangat terampil dalam mengemas garapannya. “Kami mengambil konsep untuk menyatukan tarian menjadi satu garapan,” tutur I Gusti Made Oka Adnyana. Meski berstatus pengajar bahasa Indonesia, namun jiwa seni dalam diri Oka senantiasa mengalir dan tersalurkan melalui ajang seni. “Seperti Nawanatya ini, saya senang SMP Negeri 1 Ubud bisa terlibat dan saya pun turut senang karena bisa menyalurkan jiwa seni pada ajang ini,” ujarnya bahagia.
Kedua pria ini pun berharap agar kesenian di Bali senantiasa berkembang dan dikembangkan.”Ya seni itu kan luwes, jadi itulah kesempatan kita dan generasi muda Bali untuk terus berinovasi dan mengembangkan diri,” ujar Drs. I Wayan Dhania, M.Pd. Seni memang luwes, namun keluwesan itu tak akan berarti apabila masih ada segelintir orang yang mengangga bahwa seni itu tak dapat dikreasikan. Akulturasi adalah cerminan seni dan seni adalah akulturasi itu sendiri.
Dikejar Untuk Belajar
“Banyak kesibukan dan lomba-lomba, tapi kita mengejar terus agar anak-anak bisa belajar,” ujar Desak Made Panca Astani. Wanita yang menjadi kepala sekolah TK Udyana Denpasar ini pun sempat merasa tersengal-sengal karena dipepet oleh kesibukan lainnya. Meski demikian, dirinya tetap berusaha untuk mengejar waktu latihan anak didiknya. “Barong hanya latihan 4 kali, tapi syukur anak-anak semangat untuk latihan,” ujarnya kembali.
Mengambil konsep berbeda, siswa-siswi TK Panca Kumara tampil bersama Made Sri Daniari. Wanita yang menjadi guru TK ini pun menjadi seorang pendongen cerita bahasa Bali yang handal. “Dari bercerita itu kita bisa menyampiakan pesan, mana yang baik mana yang buruk dari tokoh tokoh itu,” ungkapnya sederhana. Dengan penampilan lainnya, Daniari mengaku menghabiskan 2 bulan untuk latihan bersama anak didiknya. “Kadang ada anak yang nakal, tapi kita bisa atasi dengan memebri nasihat,” ujarnya lagi. Daniari pun berharap, dengan adanya kegiatan ini anak didiknya dapat mengembangkan cita-cita dan mimpi khususnya dalam bidang seni. (Tim MP)

