“Kami memadukan antara seni dan tradisi, agar tidak kaku dan monoton,” ujar Ni Luh Armini. Wanita paruh baya ini paham betul konsep seni yang seharusnya ‘tidak kaku’.
Usia tak menghalangi Ni Luh Armini, S.Pd untuk terus mebimbing anak didiknya. Kecintaannya akan senilah yang membuat Armini getol menjadi pembina tari di SMP Negeri 1 Denpasar. “Sebagai guru tari juga namun formalnya sebagai guru seni budaya,” ungkapnya sambil tersenyum. Berkesempatan mengisi Nawanatya III menjadi agenda tersendiri baginya. Sayang, agenda tersebut tak selaras dengan sang waktu. “Waktunya berhimpitan dengan kegiatan lainnya seperti ujian nasional, ulangan umum, FLS2N,” terangnya. Meski terbentur oleh aktivitas anak didiknya yang terbilang padat, namun anak didiknya tetap memiliki daya semangat untuk tampil dengan mantap. “Kami mengemasinya dengan banyak garapan, ada Tari Pradnya Paramita, joged, akustik, vokal grup, dan pop solo,” ungkapnya.
Kejengahan Armini dan anak didiknya senantiasa menghantarkan SMP Negeri 1 Denpasar sebagai sekolah yang terbilang mumpuni dalam seni. Hal ini terbukti dengan adanya persiapan SPENSA (SMP Negeri 1 Denpasar-red) sebagai delegasi Denpasar menuju tingkat Provinsi dalam bidang tari kreasi. “Anak-anak memang sudah berada dalam jalurnya masing-masing, jadi saya dan rekan-rekan lainnya hanya membimbing dan mengarahkan,” ujarnya mantap.
SMP Negeri 1 Denpasar yang memilih untuk menggabungkan tradisi dan modernisasi berbanding 180 derajat dengan SMP Negeri 2 Ubud. “Malam ini, kami menampilkan sebuah garapan yang bertajuk Dalem Sidakarya,” tutur Gusti Ngurah Dian Meika Putra, S.Sn. Wanita yang menggemari seni ini pun mengaku garapan ini sengaja dipilih sebab sarat akan makna kehidupan. Sang Brahmana Walaskya yang tak dianggap oleh keluarga kerajaannya menjadi murka dan memberi kutukan kepada kerajaan tersebut. Sepeninggalnya, benar saja kerjaaan tersebut dilanda berbagai wabah penyakit yang mebahayakan. Dengan kembalinya Sang Brahmana hanya dialah yang bisa memutus kutukan tersebut dan kerajaaan itu kembali pulih seperti sedia kala. “Atas jasanya itu, Sang Brahmana ini mendapat julukan sebagai Dalem Sidakarya yang memiliki filosofi orang sakti yang berbudi dan baik hati,” terangnya.
Latar belakang yang berbeda dari kedua sekolah menengah tak menjadi sesuatu yang memberatkan bagi para penonton. SMPN 1 Denpasar yang mengusung konsep pentas siswa dan SMPN 2 Ubud yang mengusung drama kental tradisi menjadi pelengkap manis di malam tradisi yang berbalut modernisasi.
Perkaya Masa
Harapan berbeda datang dari I Wayan Sarjati. Wanita yang mengampu tugas sebagai Kepala Sekolah TK Indra Kumara II ini pun merindukan adanya keramaian pada Nawanatya III kali ini. “Masyarakat umum sangat perlu informasi tentang Nawanatya ini, karena jujur saat TK kami tampil sangat sepi sekali,” terangnya sedih. Maklum saja wanita yang kala itu berkebaya hijau lumut ini berkata demikian, sebab hanya orang tua dari penampil anak didiknya saja yang meramaikan pentas ini. TK Santo Yoseph yang menjadi penampil pertama pun tampil dengan cukup maksimal dengan penampilan pamungkas yakni Drum Band. Suster Maria. R yang menjadi kepala TK ini pun mengaku anak didikya telah berlatih selama 1 tahun untuk hal menyelami drum band. Sehingga untuk seukuran anak TK siswa siswinya cukup lihai dalam memainkan alat musik. “Kami hanya mengharapkan agar anak-anak berani dulu, urusan talenta itu belakangan karena masih bisa ditempa,” tutup Maria dengan senyum ramah. (Tim MP)

